I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 95. Kencan Kontrak



"Mau sampai kapan kau akan menganga seperti orang bodoh, Allen?" Terdengar bariton suara sang raja singa yang membuat Allen tersentak.


"Maaf, Tuan." Ucap Allen.


"Masuklah!"


Allen segera masuk ke dalam ruangan. Untuk kedua kalinya dia dibuat ternganga. Ruangan yang sebelumnya terlihat rapi, kini telah berubah seperti kapal pecah. Belum lagi dengan kondisi Xander saat ini. Bulir-bulir keringat membasahi rambut dan dadanya. Eits, ikat pinggang yang terlepas dari pengaitnya pun tak luput dari tatapan tajamnya, membuat otak Allen mulai bertravelling.


"A-apa yang sebenarnya telah terjadi di sini?" Batinnya.


Ruang pribadi Xander kedap suara, sehingga siapapun yang berada di luarnya tidak akan bisa mendengar suara yang ada di dalamnya.


"Suruh pelayan untuk membersihkan tempat ini." Ucap Xander.


"Baik, Tuan."


"Oh ya Tuan. Para wanita penghibur yang Anda pesan telah tiba dan mereka sudah diantarkan ke tempat mereka masing-masing." Lapor Allen.


Xander hanya mengangguk.


"Bawa dan simpan kalung berhargaku ke brangkasku." Perintah Xander.


"Baik, Tuan."


Allen segera mengambil kalung rubi itu dan memasukkannya ke dalam sebuah kotak perhiasaan yang telah ia siapkan. Allen menggunakan ketajaman hidungnya untuk mengetahui apa yang sebenarnya terjadi di ruangan itu.


"Aku tidak mencium aroma bau-bau itu. Mungkinkah Tuan Xander mengeluarkannya di dalam?" Allen tenggelam dalam pikiran kotornya membayangkan terjadinya pergulatan liar dan panas.


"Buang pikiran kotormu itu dari kepalamu sebelum aku mengeluarkannya secara paksa menggunakan bor!" Hardik Xander yang seketika membuat Allen membulatkan matanya.


Allen menelan salivanya kasar. "Saya kan hanya menebak-nebak saja, Tuan. Siapa tahu..."


Bibirnya seketika mengatup begitu merasakan aura membunuh dari Xander. Allen segera membawa kalung rubi itu keluar dari ruangan Xander.


Alice membawa kedua asistennya ke mansion Quinn dan memerintahkan anak buah kakeknya untuk membawa Bella dan Jacob yang masih pingsan masuk ke dalam mansion.


"Apa yang terjadi dengan mereka berdua? Dan mengapa wajahmu terlihat sangat muram, cucuku?" Terdengar suara berat Tuan Abraham dari belakang Alice.


Alice menarik napas panjang kemudian membalikkan badannya.


"Apa kau gagal mendapatkan kalung rubi itu?"


"Aku berhasil mendapatkannya, Kakek. Tapi si pengecut mesum itu telah merampasnya dariku." Jawab Alice sambil mengepalkan tangannya.


"Siapa yang kau maksud, sayang?" Tuan Abraham terlihat penasaran.


"Xander Smith."


"Pria br*ngs*k, kurang@jar, pengecut mesum itu telah mengambil kalung rubiku secara paksa. Dia mengancamku menggunakan nyawa Bella dan Jacob." Terang Alice.


"Oh. Ketua Fire Eagle rupanya." Sahut Tuan Abraham dengan tenang.


"Lalu, apa yang harus kakek lakukan untukmu?"


Alice menggeleng.


"Apa kau mau kakek meledakkan markasnya?" Tanya Tuan Abraham lagi.


"Dan pastinya markas itu tak akan hancur dengan mudah, bukan? Karena kekuatan Death Cobra sebanding dengan Fire Eagle." Ucap Alice kesal.


Tuan Abraham mengangguk setuju.


"Ini masalah pribadiku dengannya Kek. Aku sendiri yang akan menyelesaikannya. Aku akan mengambil kalungku kembali dan membalas perbuatan kurang @jarnya padaku." Ujar Alice penuh dendam.


"Baiklah. Lakukan saja apapun yang kau inginkan. Beritahu kakek jika kau membutuhkan bantuan kakek atau Death Cobra."


Alice mengangguk.


"Sebaiknya kau istirahat sekarang, supaya kau mempunyai kekuatan penuh untuk menghadapi Xander Smith."


"Selamat malam, Kakek ." Ucap Alice.


"Selamat malam cucuku. Semoga kau mimpi indah malam ini."


Tuan Abraham mencium pucuk kepala cucunya, kemudian masuk ke dalam kamarnya. Alice mendatangai kamar Bella dan Jacob. Keduanya ditempatkan di kamar yang berdampingan.


"Apa Nona membutuhkan sesuatu?" Tanya salah seorang maid.


"Tidak. Pastikan saja Bella dan Jacob bisa beristirahat dengan nyaman." Jawab Alice.


Alice melangkahkan kakinya menuju ruang bawah tanah dengan wajah dinginnya. Itu adalah ruangan yang biasa digunakan Alice untuk berlatih. Terdapat banyak senjata yang tersimpan di sana. Mulai dari senjata api dengan beberapa jenis dan ukuran yang berbeda, pedang, pisau, samurai dan beberapa senjata lainnya.


Alice mengambil samurainya. Dia melampiaskan kemarahannya kepada boneka kayu yang telah disiapkan untuk latihan. Tak butuh waktu lama dua boneka kayu hancur olehnya.


"Xander Smith. Tunggu saja. Akan kurebut kembali kalungku. Kalung itu milikku." Ucapnya penuh dendam.


Setelah puas melampiaskan kemarahannya, Alice pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri dan mengistirahatkan tubuhnya.


Beberapa klien penting XS Groups telah menandatangani surat kontrak kerja antara perusahaan mereka. Allen yang menjadi perwakilan dari XS Groups.


"Saya mewakili Tuan Xander Smith, selaku CEO XS Groups mengucapkan terima kasih atas kerja sama Tuan sekalian." Ujar Allen ramah.


"Seharusnya kami yang mengucapkan terima kasih kepada Tuan Xander, karena Tuan Xander telah memberikan layanan yang luar biasa kepada kami." Ucap salah seorang klien penting itu.


"Benar sekali Tuan. Kami sangat puas dengan pelayanan dari para wanita cantik yang telah kalian sediakan." Sahut klien yang lain sambil menatap mesum ke arah para wanita sexy yang baru saja mereka nikmati.


Allen tersenyum tipis. "Semoga kerja sama kita bisa berjalan dengan baik."


Setelah para klien itu pergi, Allen menemuii para wanita penghibur itu.


"Bayaran kalian sudah masuk ke dalam rekening kalian. Sopir menunggu kalian di depan untuk mengantarkan kalian pulang." Ucap Allen.


"Terima kasih, Tuan." Jawab mereka bersamaan.


Para wanita penghibur itu meninggalkan markas Fire Eagle dengan wajah bahagia setelah menerima bayaran dengan nilai fantastis yang masuk ke dalam rekening mereka.


"Mereka sudah menandatangi surat kontrak kerjasama, Tuan." Lapor Allen saat berada di ruang kerja Xander.


"Bagus. Pastikan semua berjalan dengan baik, Allen. Jika ada yang berkhianat, langsung singkirkan tanpa bekas." Ucap Xander.


Prokk... Prokk... Prokk...


Suara tepuk tangan mengejutkan Xander dan Allen.


"Well, well, well. Luar biasa sekali, Tuan Xander Smith."


Xander dan Allen menatap ke arah pria berbaju serba putih yang masuk tanpa permisi.


"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, Ethan?" Ucap Xander kesal.


Pria bernama Ethan itu langsung menjatuhkan pant atnya di sofa yang empuk.


"Untuk apa aku mengetuk pintu, saudaraku. Bukankah markas ini sudah seperti rumahku sendiri." Jawab Ethan dengan santainya.


Xander mendengus kesal.


"Mau apa kau datang kemari? Apa kau sudah kehabisan pasien di rumah sakit?" Tanya Xander sambil menggerakkan kursi rodanya mendekat ke arah Ethan.


Ethan adalah seorang dokter, lebih tepatnya dokter bedah psycho. Membedah tubuh seseorang menjadi kesenangan tersendiri baginya.


"Aku dengar kau mempunyai mainan baru, Xander." Ucap Ethan sambil menyunggingkan bibirnya.


"Apa kau ingin merasakan keripik kulit yang terbuat langsung dari mulut busukmu itu, Ethan? Jaga bicaramu!" Sahut Xander.


"Wow... Santai, Bro. Jangan marah seperti itu." Tanggap Ethan.


Xander tetap diam dan mengabaikan celotehan Ethan. Ethan menghela napas panjang dan suasana berubah menjadi serius.


"Sebagai sahabatmu, aku hanya ingin kau menerima kenyataan." Ucap Ethan.


Xander tertawa pelan. "Maksudmu aku harus sadar bahwa pria cacat dan buruk rupa sepertiku tidak akan pantas bersanding dengan wanita sesempurna, Alicia Alexandria Quinn."


"Kalimat itu memang terdengar menyakitkan, tapi itulah kenyataannya. Banyak wanita di luar sana yang menggilaimu, tapi sebenarnya yang mereka gilai adalah hartamu. Dan kau tahu pasti permasalahan terbesar yang sebenarnya bukanlah hanya sekedar masalah fisik semata." Ujar Ethan.


Xander terdiam. Ethan menepuk bahu Xander pelan.


"Aku hanya ingin mengingatkanmu saja. Selebihnya semua terserah padamu, karena kau memiliki hak mutlak atas hidupmu sendiri." Ucap Ethan.


"Satu hal lagi, sepuluh hari lagi kita akan melancarkan misi besar kita. Aku tidak ingin semua pengorbanan kita juga rencana yang telah kita susun selama bertahun-tahun hancur begitu saja." Tambahnya.


Ethan berdiri dan melangkah keluar dari ruangan Xander. Allen mengantarkan Xander menuju kamarnya. Allen hendak mengambil kruk yang tersimpan di samping tempat tidur.


"Berhenti. Aku akan mengambilnya sendiri." Ucap Xander.


"Tapi Tuan..."


Xander mengangkat tangan kanannya.


"Keluarlah Allen. Kau bisa kembali ke tempatmu."


Allen pun keluar tanpa berani membantah. Setelah Allen keluar, Xander menurunkan kedua kakinya hingga berpijak pada lantai. Dengan berpegangan pada tempat tidur dia berusaha untuk berdiri dan menarik kakinya dengan perlahan. Terlihat sekali Xander sedang menahan rasa sakit yang luar biasa sampai akhirnya kedua tangannya berhasil meriah kruk tersebut.


Xander mengambil napas cukup dalam. Kemudian ia mulai berjalan menggunakan kruk meskipun masih dalam keadaan tertatih menuju walk in closet. Dia melepas kacamatanya. Xander berjalan ke arah cermin yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Dia menatap pantulan dirinya melalui netra hitamnya. Xander menyentuh topeng yang menutupi wajahnya. Tangannya mengepal lalu memukul cermin yang ada di hadapannya hingga hancur.


"Kalian harus membayar setiap rasa sakit yang aku rasakan selama ini. Dan aku pastikan kalian akan merasakan rasa sakit ini berlipat-lipat ganda sampai kalian memilih untuk mati daripada hidup." Gumamnya dengan penuh kebencian.


...***...


Keesokan harinya, Alice kembali ke perusahaannya dan menjalani aktivitasnya. Kembalinya Alice ke perusahaan menjadi angin surga bagi Jason, pria yang mengejar-ejar Alice. Siang itu, Jason mendatangi ruang kerja Alice dan mengajak Alice untuk makan siang bersama. Seperti biasa Alice menolaknya.


"Aku mohon Alice, sekali saja. Mengapa kau selalu menolak ajakanku?" Tanya Jason dengan wajah menahan kecewa.


"Mengapa pula kau terus memaksa dan bersikeras, meskipun aku telah menolakmu, Jason?" Jawab Alice dengan pandangannya yang masih fokus pada berkas yang ada di mejanya.


Jason mengepalkan tangannya. Alice sangat sulit untuk ditakhlukkan. Setelah cukup lama dia berusaha, Jason pun akhirnya menyerah. Jason meninggalkan Quinn Corps. dengan perasaan kesal bercampur marah.


Bella mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan.


"M-maaf Nona. Di luar ada tamu yang ingin bertemu dengan Anda." Lapor Bella dengan wajah takut.


"Siapa?" Tanya Alice sambil menaikkan satu alisnya.


"T-Tuan Xander Smith. Tuan Xander ingin bertemu dengan Anda." Jawab Bella sedikit gugup.


"Xander Smith?" Seru Alice.


"Mau apa pria mesum itu kemari?" Batinnya sambil mengepalkan tangannya.


"Hello, my Queen. Senang bertemu lagi denganmu." Sapa Xander yang masuk tanpa permisi terlebih dahulu.


Alice langsung berdiri.


"Beraninya kau masuk tanpa permisi!" Hardik Alice.


"Ckckck.... Apa seperti ini caramu menyambut tamu, Nona?" Jawab Xander.


Berdebat dengan pria seperti Xander tak akan ada habisnya. Alice pun menjatuhkan pant atnya di atas sofa. Bella segera keluar dan meninggalkan mereka berdua. Xander menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan dengan bibir bersungging.


"Apa maumu?" Tanya Alice secara langsung.


Xander mendekatkan kursi rodanya.


"Aku ingin menawarkan kerjasama denganmu." Jawab Xander.


Alice tersenyum sinis. "Aku tidak berminat bekerja sama dengan pria sepertimu."


"Apa kau yakin?"


"Sangat yakin."


"Meskipun keuntungan yang akan kau dapatkan adalah kalung langka bertaburkan rubi yang sangat indah."


Alice melebarkan matanya. Xander menyeringai.


"Sangat menarik bukan?"


Alice menatap curiga. "Apa maumu sebenarnya?"


"Jadilah teman kencanku semala satu minggu."


"Cih. Aku tidak sudi menjadi wanitamu, Tuan Xander. Aku tidak sudi disentuh olehmu." Ucap Alice dengan ketus.


Xander tertawa pelan.


"Tidak seperti yang kau pikirkan, Nona. Aku hanya ingin menghabiskan waktu selama satu minggu bersamamu. Kita bisa keluar bersama, makan, nonton film dan sebagainya. Dan aku janji aku tidak akan menyentuhmu atau berbuat hal buruk sesuai yang ada dipikiranmu itu." Ucap Xander meyakinkan.


"Yah, kecuali jika kau sendiri yang menginginkannya." Tambahnya yang seketika membuat Alice murka dan hampir memukulnya.


"Tenanglah, Nona. Aku hanya bercanda."


"Aku hanya ingin menghabiskan waktu bersamamu. Hanya satu minggu. Dan setelah itu aku akan menyerahkan kalung rubi itu kepadamu." Terang Xander.


Alice mendengus kesal.


"Intinya kau berusaha mendekatiku dengan memanfaatkan kalung itu. Kau berharap aku akan tertarik dan jatuh hati kepadamu, Tuan Xander." Ucapnya sinis.


"Aku memang tertarik padamu. Dan tidak ada salahnya kan mencoba." Jawab Xander santai.


"Pikirlah baik-baik. Karena aku tidak punya banyak waktu." Xander memutar kursi rodanya dan bergerak menuju pintu.


"Hanya satu minggu dan pastikan kau tidak akan berbuat kurang @jar kepadaku." Ucap Alice yang membuat Xander tersenyum penuh kemenangan.


Xander menoleh ke arah Alice.


"Kau bisa pegang janjiku, Alice. Sampai bertemu lagi besok pagi, teman kencanku. Dan jangan lupa dandanlah yang cantik."


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰