
Ratu Roseline mengerjapkan matanya berkali-kali sambil merasakan kehangatan tubuh Raja Alec yang memeluknya dengan erat. Ratu Roseline menyadari kondisi keduanya yang masih dalam keadaan polos, karena keduanya langsung terlelap setelah pergulatan panas semalam.
"Kau sudah kalah, Alice. Kau telah jatuh ke dalam pesona Raja Alec dan kau sudah menyerahkan dirimu sepenuhnya kepadanya." Batin Ratu Roseline (Alice).
"Itu artinya aku harus siap menerima semua konsekuensinya saat dia mengetahui kebenarannya nanti." Tambahnya.
"Apa Ratu menyesal?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Raja Alec membuat Ratu Roseline tersentak.
Raja Alec sudah lama bangun namun dia sengaja memejamkan matanya dan menikmati kebersamaan mereka saat ini. Sejak tadi, Raja Alec memperhatikan wajah Ratu Roseline yang terlihat datar dan sedang memikirkan sesuatu.
Ratu Roseline menatap mata Raja Alec.
"Menyesal?" Ujar Ratu Roseline.
Ratu Roseline langsung menci um bibir Raja Alec.
"Apa ini bisa disebut menyesal?" Ratu Roseline menyinggungkan bibirnya.
"Oh Ratu, kau sudah membangunkannya lagi." Ucap Raja Alec dengan wajah memelas.
Ratu Roseline tersenyum tipis melihat sesuatu yang sedang berdiri tegak dari balik selimut. Ratu Roseline segera bangun dan menyibak selimut mereka. Ratu Roseline naik ke atas tubuh Raja Alec. Keduanya pun bercum bu kembali dan saling melu mat. Kedua tangan Raja Alec tidak tinggal diam, dengan lembut memainkan squisy yang terus bergerak dan sangat menggoda.
Ratu Roseline tidak bisa menahan desa hannya, saat Raja Alec memainkan asetnya itu dengan mul ut dan li dahnya secara bergantian. Ratu Roseline mengangkat sedikit tubuhnya dan memposisikan pedang madra guna Raja Alec pada mahkotanya.
"Aahhh..."
Lenguhan keras keluar dari bibir keduanya saat pedang mandra guna itu melesat masuk dengan sempurna. Ratu Roseline bergerak dengan begitu agresif membuat Raja Alec seakan terbang ke atas awan.
Raja Alec pun tak ingin tinggal diam, dan membantu Ratu Roseline dengan memom panya dari bawah. Kamar Ratu Roseline dipenuhi dengan teriakan-teriakan ero tis yang saling bersahutan. Ratu Roseline meremas bahu Raja Alec dengan kuat saat hentakan Raja Alec semakin cepat dan kuat.
"Ssttt... Baginda." Rengek Ratu Roseline.
Raja Alec menekan tubuh Ratu Roseline dengan sangat kuat, lalu menyemburkan lahar panas sebanyak-banyaknya. Keduanya mendapatkan puncak kenik matan bersama. Ratu Roseline menjatuhkan tubuhnya di atas tubuh Raja Alec tanpa melepas penyatuan mereka.
"Aku mencintaimu, Ratu. Aku sangat mencintaimu. Jangan pernah meninggalkanku." Ucap Raja Alec sambil mengelus punggung mulus Ratu Roseline.
Ratu Roseline menegakkan tubuhnya. "Aku tidak akan pergi. Kecuali Baginda sendiri yang nantinya akan berubah dan mengkhianatiku, maka saat itu juga aku akan pergi sejauh mungkin dari hidup Baginda."
"Itu tidak akan terjadi, tak akan pernah. Aku tidak akan pernah mengkhianatimu, Ratu." Sahut Raja Alec.
"Meskipun suatu saat nanti Baginda akan mengetahui sebuah kebenaran yang menyakitkan?"
"Aku tidak akan pernah membiarkanmu pergi dari hidupku." Tegas Raja Alec.
"Aku akan memegang ucapan Baginda." Ucap Ratu Roseline.
Ratu Roseline bangun dari atas tubuh Raja Alec, seketika lahar putih mengalir dari sela-sela paha Ratu Roseline dengan sangat banyak. Keduanya segera membersihkan diri.
Sejak malam bersejarah itu, Raja Alec selalu menginap dan tidur di ranjang Ratu Roseline untuk menghabiskan malam-malam yang indah bersama. Ratu Roseline juga sudah terbiasa tidur dalam pelukan Raja Alec. Meskipun Ratu Roseline selalu bersikap dingin kepada Raja Alec, namun dia akan bersikap manis bahkan agresif ketika berada di atas ranjang.
Kebahagiaan yang dirasakan oleh Raja Alec dan Ratu Roseline berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Camila. Selama hampir satu minggu dia sudah bersabar dan terus berusaha mencari kesempatan untuk mencelakai Ratu Cetta, namun usahanya belum berhasil juga.
Camila pernah mencoba merebut obat dari Livia supaya dia bisa memasukkan racun ke dalamnya. Namun Livia menolak dan sengaja menumpahkan obat itu ke lantai. Saat Raja Abraham bertanya, Camila beralasan jika dirinya ingin menjadi adik yang baik dan melayani Ratu Cetta.
Akhirnya Ratu Roseline membuatkan obat yang baru dan mengantarnya langsung kepada Ratu Cetta. Hal itu membuat Camila dan Nyonya Imelda benar-benar kesal.
"Ibu, aku sudah tidak bisa menahan lagi. Jika kita tetap diam seperti ini, wanita sialan itu pasti akan segera sembuh dan aku tidak akan memiliki kesempatan lagi untuk menjadi Ratu di Kerajaan Sun." Keluh Camila.
Nyonya Imelda membuang napasnya kasar. "Ayo ikut ibu. Kita akan menemui Cetta sekarang juga. Karena Raja Abraham sedang menemui Raja Alec di istana Raja."
Nyonya Imelda dan Camila datang ke kamar Ratu Cetta.
"Ibu, Camila." Ratu Cetta sangat senang melihat kedatangan ibu dan adiknya.
"Maafkan jika ibu dan adikmu ini mengganggu waktumu, Ratu. Ada hal penting yang harus ibu sampaikan kepadamu. Dan hal penting itu juga permohonan dari seorang wanita tua ini, Nak." Ujar Nyonya Imelda dengan wajah menahan memelas.
"Ada apa ibu? Mengapa kalian terlihat sedih? Katakan padaku ibu, hal penting apa itu?" Tanya Ratu Cetta.
"Ibu mohon bermurah hatilah kepada adikmu, Nak." Mohon Nyonya Imelda.
"Aku maksud ibu?"
"Nama baik dan kehormatan adikmu, Camila, sedang dipertaruhkan."
Nyonya Imelda menarik napas panjang. "Ibu Suri Theresia memanggil ibu dan Camila beberapa waktu yang lalu sebelum kami datang ke Cardania. Ibu Suri Theresia ingin Camila menjadi selir Raja Abraham."
Tubuh Ratu Cetta terasa lemas dan langsung terduduk di kursinya. Livia memegangi tubuh Ratu Cetta.
"Menjadi selir Baginda?" lirih Ratu.
"Ya kakak, itu karena Ibu Suri Theresia ingin segera memiliki seorang cucu. Aku tahu ini berat untukmu. Tapi aku mohon ijinkan Baginda Raja menikah lagi denganku. Jika aku melahirkan anak untuk Baginda Raja, maka anakku juga akan menjadi anakmu nantinya." Ucap Camila meyakinkan.
"Dan Ibu Suri Theresia sudah mengumumkannya di depan para bangsawan. Jika Camila tidak jadi menikah dengan Baginda Raja, adikmu akan menjadi bulan-bulanan bukan hanya dari kalangan bangsawan tapi juga seluruh rakyat Kerajaan Sun. Nama baik dan harga diri Camila bisa hancur. Ibu mohon, mintalah Raja Abraham untuk segera menikahi Camila. Kalian nantinya akan selalu bersama dan hidup bahagia." Sambung Nyonya Imelda.
Ratu Cetta meremas gaunnya dengan kuat. Hatinya serasa diiris-iris mendengar perkataan Camila dan ibunya.
"Mengapa kau diam saja, Kak? Apa kau merasa keberatan?" Tanya Camila sambil menahan rasa kesal.
"Tidak ada satu wanita pun di dunia ini yang ingin berbagi suami dengan wanita lain." Ucap Ratu Cetta dengan senyum hambarnya.
"Tapi Camila itu adikmu, bukan orang lain." Protes Nyonya Imelda.
"Dalam hubungan suami istri, seorang adik sekalipun akan menjadi orang lain, Ibu." Sahut Ratu Cetta.
"Maaf Ibu, Camila, aku tidak ingin suamiku menikah lagi dan membagi cintanya dengan wanita lain. Aku harap kalian bisa mengerti."
Nyonya Imelda dan Camila membulatkan mata mereka. Seketika wajah ramah mereka berubah menjadi dingin.
"Bukan seperti itu maksudku ibu. Tapi maaf, aku tidak bisa meminta Baginda Raja untuk menikahi adikku sendiri dan menjadikannya selir. Aku sekarang sedang melakukan pengobatan, dan tak lama lagi aku akan sembuh. Setelah itu aku bisa hamil dan memberikan Baginda seorang anak yang lahir dari rahimku sendiri." Tegas Ratu Cetta.
Brakk... (Camila memgebrak meja dengan keras)
"Beraninya kau menghalangiku menikah dengan Raja Abraham! Dasar anak sialan! Seharusnya kau ikut mati saja bersama ibumu yang rendahan itu!" Bentak Camila.
"Beraninya kau membentak Yang Mulia Ratu!" Hardik Livia.
"Tutup mulutmu pelayan rendahan!"
Ratu Cetta langsung berdiri.
"Cukup Camila. Beraninya kau menghina mendiang ibuku!" Bentak Ratu Camila.
Plakk... (Nyonya Imelda menampar pipi Ratu Cetta dengan keras).
"Yang Mulia!" Teriak Livia.
Camila mengamuk dan membuang serta memecahkan barang-barang yang ada di kamar Ratu Cetta.
"Seandainya kau tidak ada di dunia ini, Raja Abraham pasti akan jatuh cinta padaku dan akulsh yang akan menjadi Ratu dari Kerajaan Sun. Semua karena dirimu, wanita j*l*ng! Kau telah merampas semua impianku!" Racau Camila.
"Benar apa yang dikatakan Camila. Seharusnya kau ikut ibumu pergi ke neraka. Seandainya saja saat itu kau tidak menumpahkan minumanmu, kau pasti sudah mati bersama ibumu yang menyedihkan itu. Dan aku tidak perlu merawat anak sialan sepertimu dan harus berpura-pura baik di depan ayahmu." Ucap Nyonya dengan tatapan kebenciannya.
Dada Ratu Cetta terasa sesak.
"A-apa maksud dari ucapan ibu?"
"Jangan panggil aku ibu. Aku bukan ibumu dan aku tidak sudi menjadi ibumu." Ucap Nyonya Imelda.
"Jadi, kau yang telah membuat ibuku meninggal? Tapi mengapa? Bukankah ibuku sangat baik padamu. Ibuku mengangkatmu sebagai seorang adik dan menjadikanmu istri kedua ayahku. Mengapa kau bisa berbuat sejahat itu?" Cerca Ratu Cetta.
"Karena aku tidak suka melihat ibumu lebih bahagia dariku. Semua orang menyayanginya, terutama ayahmu. Dia selalu mengutamakan ibumu daripada aku, bahkan ayahmu tak pernah menganggap keberadaanku. Ibumu selalu mendapatkan apapun yang aku inginkan. Aku berusaha keras untuk mendapatkan kasih sayang ayahmu. Tapi apa yang aku dapatkan? Setelah Camila lahir pun, ayahmu tidak melirikku sama sekali. Kami bisa tidur bersama hanya saat ayahmu sedang dalam keadaan mabuk dan tidak sadarkan diri."
Camila terkekeh. "Kau, seharusnya tidak berhenti meminum obat racunmu itu. Jadi pasti saat ini kau bisa tinggal bersama ibumu selamanya."
"Kalian berdua wanita yang jahat, serakah dan egois. Baginda Raja dan ayahku tidak akan pernah memaafkan kalian." Ucap Ratu Cetta dengan wajah memerah menahan marah.
Nyonya Imelda dan Camila tertawa.
"Itu jika kau bisa membuka mulutmu itu di depan mereka." Ucap Camila sambil tersenyum licik.
Ratu Cetta meneguk salivanya kasar dan menyadari jika sesuatu yang buruk akan menimpanya.
"Kalian, keluarlah." Teriak Nyonya Imelda.
Empat orang pria berbaju hitam lengkap dengan penutup wajah masuk ke dalam kamar Ratu Cetta sambil menghunuskan pedang mereka.
"Bunuh mereka berdua!" Perintah Nyonya Imelda.
Ratu Cetta sangat ketakutan. Keempat pria itu bergerak maju dan mengarahkan pedang mereka ke arah Ratu Cetta.
Prangg!!! (Dengan cepat Livia mengambil pedang yang dia simpan di balik bajunya dan menghalau serangan)
"Yang Mulia Ratu tetaplah di belakang hamba." Ucap Livia.
"Kurang aj*r! Segera bunuh pelayan dan Ratu sialan itu!" Teriak Camila.
Dua orang pria menyerang Livia membabi buta. Dengan lihainya Livia menangkis semua serangan mereka. Dua pria yang lain merasa geram dan ikut mengeroyok Livia.
Prang!!!
Pedang mereka ditangkis kembali, namun bukan hanya oleh Livia tapi juga oleh Felix dan Dean menerobos masuk melalui jendela. Mereka bertiga menyerang anak buah Nyonya Imelda sampai babak belur dan tak sadarkan diri. Nyonya Imelda dan Camila sangat ketakutan, keduanya berusaha untuk kabur dan melarikan diri.
Namun usaha keduanya gagal, karena pasukan Raja Alec sudah mengepung di luar kamar bersama Raja Alec, Ratu Roseline, Raja Abraham dan Lady Xena. Raja Abraham langsung masuk ke dalam kamar untuk menemui Ratu Cetta. Ratu Cetta langsung memeluk erat suaminya sambil menangis.
"Apa kau baik-baik saja, Ratu?" Tanya Raja Abraham.
"Hamba baik-baik saja, Baginda. Hamba mohon hukum mereka berdua, Baginda. Mereka berdua sudah membunuh ibuku dan mereka juga yang selama ini meracuniku. Hukum mereka seberat-beratnya, Baginda. Hamba mohon." Mohon Ratu Cetta sambil terisak.
"Kau tenang saja, Ratu. Akan aku pastikan mereka mendapatkan hukuman yang paling berat yang ada di Kerajaan Sun. Mereka akan membayar semua kejahatan yang telah mereka lakukan, itu janjiku." Ucap Raja Abraham.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰