I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 21. Pembunuh Bayaran



Ratu Roseline berada di kamar Raja Alec. Di sana juga ada Marquess Filan, Marquess Andry dan Felix. Raja Alec tetap menampilkan kesan dingin di depan Ratu Roseline, meskipun detak jantungnya sudah tak karuan.


"Ekhem!"


"Aku punya hutang ucapan terima kasih padamu Ratu. Terima kasih karena Ratu telah berjuang dan bertaruh nyawa untuk mendapatkan bunga mawar hitam sebagai penawar racunku." Ucap Raja Alec tulus tapi dingin.


"Sama-sama." Jawab Ratu Roseline singkat.


Raja Alec menarik napas panjang.


"Dan aku juga minta maaf karena telah menuduhmu berselingkuh dengan pengawal pribadimu, Felix. Aku tidak tahu jika saat itu kau sedang terluka parah karena menyelamatkan prajurit kerajaan dari serangan gerombolan serigala." Ucap Raja Alec yang masih setia dengan wajah kakunya.


Marquess Filan dan Marquess Andry berusaha menahan tawa mereka.


"Bagaimana mungkin Yang Mulia Raja bisa memenangkan hati Ratu jika sikapnya kaku dan dingin seperti bongkahan batu es?" bisik Marquess Andry.


"Raja sangat mahir dalam berperang bahkan mendapatkan julukan Dewa Perang karena tidak pernah gagal melawan musuh-musuhnya. Tapi kalau urusan wanita dan percintaan, nilai Yang Mulia nol super besar." Balas Marquess Filan.


Marquess Andry langsung terkekeh. Raja Alec menatap tajam ke arah kedua orang kepercayaannya itu. Seketika tawa Marquess Andry menguap, lalu menundukkan kepalanya. Ratu Roseline membuang napasnya kasar.


"Apa Ratu tidak ingin memaafkanku?" Tanya Raja.


"Hamba akan memaafkan Yang Mulia, tapi dengan satu syarat. Yang Mulia harus meminta maaf kepada Felix. Karena Yang Mulia Raja bukan saja telah merendahkan harga diriku tapi juga harga diri Felix dengan tuduhan yang telah Yang Mulia berikan." Jawab Ratu Roseline.


Felix membulatkan matanya.


"Bagaimana mungkin Ratu menyuruh Raja untuk meminta maaf pada pengawal rendahan sepertiku?" Batin Felix.


"Felix. Aku, Alec Cardania meminta maaf dengan tulus kepadamu karena telah memberikan tuduhan yang merendahkan harga dirimu. Apakah kau mau memaafkanku?" Ucap Raja Alec.


"Haahh." Cengo Felix karena terkejut.


Raja Alec berusaha menegakkan tubuhnya lalu dengan perlahan membungkukkan badannya di depan Felix.


"Yang Mulia." Seru Felix sambil bersujud.


"Hamba memaafkan Yang Mulia. Hamba mohon Yang Mulia jangan merendahkan diri Yang Mulia di depan pengawal rendahan seperti hamba." Ucap Felix.


Raj Alec tersenyum. "Terima kasih Felix."


Raja Alec mengalihkan pandangan matanya ke arah Ratu Roseline. Ratu Roseline menghembuskan napas panjang.


"Hamba juga memaafkan Yang Mulia Raja."


Senyum bahagia seketika terbit di wajah Raja Alec.


"Tapi untuk kali ini saja, dan tidak ada lain kali." Tambah Ratu Roseline sambil menatap tajam.


Raja Alec langsung mengangguk dengan senyum yang masih mengembang.


"Mohon maaf Yang Mulia. Bagaimana dengan para pejabat pemerintah yang ditahan hari ini? Apakah Yang Mulia akan segera memberikan hukuman kepada mereka?" Tanya Marquess Filan.


"Tentu saja. Bawa mereka ke pengadilan kerajaan. Dan tebarkan mata-mata di sekitar kediaman dan keluarga mereka. Mereka hanyalah pion. Aku yakin ada orang yang lebih kuat dan berkuasa yang mengendalikan mereka, seperti pemain boneka yang mengendalikan para bonekanya." Jawab Raja Alec.


"Baik Yang Mulia. Pengadilan kerajaan akan segera digelar besok pagi." Ucap Marquess Andry.


"Tapi sebelum pengadilan kerajaan dijalankan, pastikan keselamatan nyawa para tahanan itu. Jangan sampai mereka sudah tak bernyawa dan menjadi bangkai sebelum mendapatkan hukuman yang setimpal dengan kesalahan yang telah mereka lakukan." Sahut Ratu Roseline.


Raja Alec tersenyum tipis. "Ratu tidak perlu khawatir, mereka dalam penjagaan ketat para pengawal bayanganku."


"Baguslah."


Ratu Roseline menyesap tehnya dengan elegan.


"Ratu, ada yang ingin aku tanyakan."


Ratu Roseline meletakkan cangkir tehnya dengan perlahan.


"Silakan, Yang Mulia."


"Dari mana Ratu bisa mengetahui semua kejahatan para pengkhianat itu?" Tanya Raja Alec penasaran.


"Tentu saja aku tahu. Karena aku sudah membaca semua kisah yang ada di kerajaan Cardania ini."


"Dari kemalangan para petani yang hampir gagal panen karena harus mendapatkan benih gandum dengan kwalitas yang buruk. Dan untuk mendapatkan benih gandum yang bagus, mereka harus mengeluarkan uang yang sangat banyak."


Raja Alec, Marquess Filan dan Marquess Andry menyimak dengan serius.


"Bahkan tanah di ladang mereka tidak cukup subur. Akhirnya aku memutuskan untuk membantu para petani dengan berbagi ilmu cara menyuburkan tanah dengan pupuk alami yaitu dari kotoran hewan ternak. Kemudian kami menanaminya dengan benih gandum bagus yang dikirimkan dari kediaman Duke Sullivan."


"Aku, Felix dan para prajurit milik kakakku mulai melakukan penyelidikan. Kami tidak hanya menemukan tindak kecurangan yang dilakukan oleh Menteri Perdagangan, tapi juga para pejabat dan bangsawan lain." Terang Ratu Roseline.


"Mengapa Ratu tidak melaporkannya langsung padaku? Penyelidikan yang Ratu lakukan sangat berbahaya. Bagaimana jika ada orang yang ingin mencelakai Ratu saat berada di luar istana?" Tanya Raja Alec dengan raut wajah cemas.


Ratu Roseline terkekeh.


"Karena hamba tidak ingin mengganggu kebersamaan dan keromantisan Yang Mulia Raja dengan Countess Sarah yang selalu menempel pada Yang Mulia Raja." Jawab Ratu Roseline santai.


Raja Alec mendengus kesal. "Itu bukan keinginanku. Dia yang genit dan ingin menempel terus padaku."


"Tapi Yang Mulia senang kan? Bahkan senyuman penuh kebahagiaan terus mengembang di bibir Yang Mulia Raja." Sindir Ratu Roseline.


Marquess Filan dan Marquess Andry terkekeh, membuat Raja Alec semakin kesal dan menekuk wajahnya. Sindiran Ratu Roseline semakin membuatnya merasa bersalah.


"Sebenarnya hamba sudah akan melaporkannya langsung kepada Yang Mulia. Tetapi saat itu Yang Mulia tidak bisa diganggu dan ditemui oleh siapapun. Akhirnya kami tangani saja sendiri."


"Jadi, kapan Yang Mulia dan Countess Sarah akan melangsungkan pernikahan? Karena hamba harus segera menyiapkan pesta untuk kalian." Ucap Ratu Roseline dengan santainya.


Raja Alec mengeraskan rahangnya.


"Berbicara memang mudah, Yang Mulia." Sahut Ratu Roseline sambil mengupas buah apel.


"Marquess Filan siapkan kereta kuda istana untuk mengantarkan Countess Sarah kembali ke kediaman Count Donovan hari ini juga." Perintah Raja Alec.


"Baik, Yang Mulia."


"Tunggu. Apa Yang Mulia ingin membuat rumor baru lagi?" Sahut Ratu Roseline.


"Apa maksud Ratu?" Tanya Raja Alec.


"Yang Mulia ingin membuat rumor yang mengatakan bahwa hamba adalah Ratu yang kejam. Di saat Raja sedang sakit parah dan tak bisa berbicara Ratu mengusir Countess Sarah, wanita kesayangan Raja dan calon selir Raja." Ucap Ratu Roseline sambil tersenyum sinis.


"Lalu, apa Ratu inginkan?" Raja Alec semakin tak mengerti.


"Biarkan saja dia berada di istana sedikit lebih lama. Dan keluarkan dia saat Yang Mulia sudah siap untuk muncul di hadapan semua orang." Jawab Ratu Roseline.


"Baiklah. Pada saatnya nanti Ratu akan melihat sendiri bagaimana aku mengirim wanita itu keluar dari istana dengan sepeti koin emas sebagai ucapan terima kasihku padanya."


Ratu Roseline menarik salah satu ujung bibirnya. Tak lama kemudian, Ratu Roseline dan Felix meninggalkan istana raja.


"Apa semuanya sudah siap, Felix?" Tanya Ratu Roseline.


"Yang Mulia tidak perlu khawatir. Siapapun orang yang akan mereka kirimkan tidak akan bisa menyentuh Yang Mulia sedikit pun." Jawab Felix sambil menyeringai.


Ratu Roseline hanya mengangguk dan melanjutkan langkahnya menuju istana ratu.


"Yang Mulia, hamba khawatir jika keselamatan Ratu saat ini dalam bahaya." Ucap Marquess Filan.


"Benar Yang Mulia. Hamba yakin orang-orang jahat itu pasti mengincar Ratu saat ini." Sahut Marquess Andry.


"Aku tahu. Sebarkan prajurit bayangan untuk berjaga di sekeliling istana Ratu." Ucap Raja Alec.


Ratu Roseline sudah menggunakan gaun tidur putihnya dan sedang duduk di depan cermin sambil merapikan rambutnya. Ratu Roseline menyunggingkan bibirnya saat melihat ada bayangan hitam. Dia terus menyisir rambutnya dengan santai.


Sring...


Seorang pria berbaju hitam dan memakai penutup wajah yang tak lain adalah pembunuh bayaran, sedang menghunuskan pedanganya ke hadapan wajah Ratu Roseline.


"Aku tidak menyangka jika kau akan datang secepat ini." Ujar Ratu Roseline sambil tersenyum.


Pembunuh bayaran itu terkejut karena Ratu Roseline sudah mengetahui akan kedatangannya.


"Baru kali ini aku bertemu dengan orang yang tersenyum saat nyawanya sudah berada di ujung tanduk." Ucap pembunuh bayaran itu.


"Kau pikir siapa dirimu? Malaikat maut?" Ejek Ratu Roseline.


"Terlalu banyak bicara. Akan kubuat kau mati dengan cepat sehingga kau tak harus merasakan rasa sakit, Ratu."


Ratu Roseline tertawa.


"Seharusnya kau kenali dulu siapa orang yang akan kau bunuh. Jangan sampai kau salah orang."


Pembunuh itu menyerngitkan dahinya.


"Jaga coba-coba memprovokasiku. Kau adalah Ratu Roseline Cardania, wanita yang harus aku lenyapkan saat ini juga."


Pembunuh bayaran itu mengayunkan pedangnya dan hendak menebas leher Ratu Roseline.


Prang...


Felix menghalau pedang pembunuh itu dengan pedangnya. Dengan satu tendangan kuat, Felix membuat pria itu tersungkur dan menjatuhkan pedangnya. Pembunuh itu mengambil sebuah botol kecil berisi cairan racun dari dalam sakunya dan akan meminumnya.


Tak... Pyar...


Botol kecil itu pecah karena terkena sentilan batu kecil. Pembunuh itu kaget dan membelalakkan matanya.


"Kau tidak bisa mati semudah itu."


Seorang wanita bergaun merah keluar dari balik pintu.


"Kau?" Pembunuh bayaran itu membulatkan matanya tak percaya.


"Ya, aku adalah Ratu Roseline. Wanita yang harus kau bunuh." Ucap Ratu Roseline sambil menyeringai.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰