
"Roseline!" Teriak Raja Alec.
"Haahh! Haahh!" Raja Alec terbangun dengan napas tersenggal.
Keringat bercucuran membasahi wajah dan seluruh tubuhnya. Matanya memerah dengan air mata yang menetes dari pelupuk matanya.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu membuat Raja Alec tersentak. Raja Alec segera menghapus air matanya.
"Baginda Raja, Marquess Filan mohon ijin untuk menghadap." Terdengar teriakan penjaga dari luar pintu.
Raja Alec segera bangun dan membuka pintu.
"Ada apa, Filan?" Tanya Raja Alec.
"Mata-mata kita yang bertugas di perbatasan datang untuk menghadap, Baginda." Jawab Marquess Filan dengan wajah tegang.
Raja Alec yang sudah mengganti bajunya, segera bergegas menuju ruang rahasia bersama Marquess Filan. Setelah cukup lama berada di dalam ruangan itu, Raja Alec membuka pintunya dengan keras dan keluar dengan langkah tergesa. Raja Alec melangkahkan kakinya menuju istana Ratu dengan rahang yang mengeras.
Brak..!
Raja Alec membuka pintu kamar Ratu dengan keras.
"B-baginda." Lirih Marie dengan wajah ketakutan, sedangkan Ratu Roseline hanya menampilkan wajah datarnya.
"Tinggalkan kami berdua, Marie." Perintah Raja Alec.
Marie menoleh ke arah Ratu Roseline dan mendapatkan anggukan. Marie pun dengan berat hati keluar dari kamar itu dan menutupnya kembali.
"Untuk apa Baginda Raja datang kemari?"
Raja Alec tidak menjawab dan berjalan mendekat.
"Berhenti! Jangan mendekat! Menjauhlah dariku!" Bentak Ratu Roseline (Alice).
Raja Alec menghentikan langkahnya. Dia melihat kebencian yang mendalam dari sorot mata wanita yang ada di hadapannya itu. Tatapan mata Raja Alec berubah melembut. Tangannya hendak menyentuh wajah Ratu Roseline, namun Ratu Roseline segera menepisnya.
"Jika kedatanganmu kemari hanya untuk melampiaskan nap sumu, kau salah tempat, Baginda. Sebaiknya kau pergi ke salah satu wanitamu yang lain. Aku tidak sudi disentuh olehmu lagi." Ucap Alice.
Wajah Raja Alec kembali mengeras dan dingin.
"Apa kau ingin marah sekarang? Marahlah. Tapi aku tidak akan tinggal diam lagi. Aku tidak sudi kau sakiti lagi, Alec. Dan aku menyesal karena telah menyerahkan diriku pada pria sepertimu." Teriak Ratu Roseline.
"Cukup, Alice!" Bentak Raja Alec.
Ratu Roseline (Alice) langsung terdiam dengan bibir yang masih bergetar.
"Kau ingin pergi, bukan? Baiklah, akan aku kabulkan keinginanmu. Lagi pula kau bukan istriku, Roseline. Pergilah. Aku melepaskanmu. Kau bebas sekarang. Pergilah sejauh mungkin dari kerajaanku, sehingga aku tidak perlu melihat wajahmu lagi." Ucap Raja Alec dengan wajah dinginnya.
Raja Alec segera berbalik dan keluar dari kamar Ratu Roseline. Marie segera masuk setelah melihat Raja Alec pergi.
"Nona, apa Anda baik-baik saja? Apa Baginda Raja melukaimu lagi?" Tanya Marie dengan wajah cemas.
"Aku baik-baik saja, Marie. Sebaiknya kita segera berkemas. Kita akan pergi dari sini." Ucap Ratu Roseline dengan wajah datar untuk menutupi apa yang sedang dia rasakan saat ini.
"A-apa Nona serius?" Tanya Marie tak percaya.
"Baginda Raja sendiri yang mengatakan jika dia membebaskanku dan menyuruhku pergi jauh dari sini. Aku tidak akan memaksamu untuk pergi jika kau masih ingin tinggal di sini." Jawab Ratu Roseline.
"Tidak. Hamba akan mengikuti kemanapun Nona pergi." Sahut Marie.
Marie segera membantu Ratu Roseline mengemasi barang yang akan mereka bawa pergi. Felix masuk dengan tergesa.
"Felix, syukurlah kau sudah datang. Kemasi barang-barangmu. Kita akan pergi dari sini." Ujar Ratu Roseline.
"N-nona, ada berita buruk." Ucap Felix.
"Ada apa Felix? Mengapa kau terlihat cemas?" Tanya Ratu Roseline.
"Kerajaan Cardania akan diserang." Jawab Felix.
"Apa maksudmu, Felix?" Pekik Ratu Roseline.
"Pasukan Kerajaan Gorzan di bawah pimpinan Raja Aramos sedang bergerak menuju Kerajaan Cardania. Mereka akan menyerang Kerajaan Cardania. Baginda Raja Alec sendiri yang turun ke medan perang untuk memimpin pasukan Cardania bersama Jenderal Azel." Terang Felix.
"Di mana Baginda Raja sekarang?"
"Rombongan Baginda Raja sudah berangkat beberapa saat yang lalu." Jawab Felix.
Ratu Roseline terdiam dan ucapan Raja Alec tadi terngiang kembali di telinganya. "Pergilah sejauh mungkin dari kerajaanku."
"Kau menyuruhku pergi jauh dari sini. Dan kau sendiri akan menenggelamkan dirimu ke dalam medan pertempuran melawan Raja Aramos."
Ratu Roseline membulatkan matanya. "Itu sama saja dengan bunuh diri. Dasar pria bodoh."
"Apa kakakku sudah tahu?" Tanya Ratu Roseline.
"Sudah Nona. Tuan Duke segera memerintah Dean dan anak buah yang lain untuk mengirimkan semua baju pelindung yang telah Nona pesan dari Tuan Bernard ke perbatasan." Jawab
"Kalau begitu bersiaplah, Felix. Kita harus segera menyusul mereka." Perintah Ratu Roseline.
"Ijinkan hamba ikut, Nona." Mohon Marie dan mendapatkan anggukan dari Ratu Roseline mengangguk.
Ratu Roseline dan Marie sudah bersiap dan mengganti pakaian yang biasa mereka gunakan untuk menyamar. Felix sudah menyiapkan kuda mereka dan menunggu di halaman istana.
"Apa semuanya sudah siap, Felix?" Seru Ratu Roseline.
Ratu Roseline menemui Ibu Suri Helene terlebih dahulu sebelum meninggalkan istana menuju perbatasan.
"Baginda. Ada laporan dari mata-mata kita jika Kerajaan Gorzan mendapatkan bantuan dari Raja Henry, pemimpin Kerajaan Liam. Selain ingin menguasai Kerajaan Cardania, mereka juga akan merebut daerah Loah yang berada di perbatasan utara Kerajaan Sun." Lapor Jenderal Azel.
"Daerah Loah? Bukankah di daerah itu terdapat gunung emas yang menjadi salah satu pusat kekayaan Kerajaan Sun." Ucap Raja Alec.
"Benar, Baginda. Raja Henry sudah mengincar daerah Loah sejak lama. Utusan dari Raja Abraham telah datang dan menyampaikan pesan, jika Raja Abraham dan para prajuritnya akan ikut berperang bersama kita." Jawab Jenderal Azel.
"Kalau begitu kita harus menyusun rencana dengan matang dan rapi. Raja Aramos dan prajuritnya terkenal sangat kejam dan tidak berbelas kasih kepada musuhnya. Bahkan prajuritnya tega memperkosa para wanita, selain itu mereka juga dengan keji membakar hidup-hidup bayi dan anak-anak dari musuhnya." Ucap Raja Alec.
Raja Alec sedang memakai baju zirahnya dibantu oleh Marquess Filan.
"Baginda."
Raja Alec dan Marquess Filan terkejut melihat kedatangan Ratu Roseline.
"Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Raja Alec.
"Marquess Filan, tolong tinggalkan kami berdua. Arabella sedang menunggumu di luar." Ucap Ratu Roseline.
Marquess Filan menatap ke arah Raja Alec.
"Keluarlah, Filan." Ujar Raja Alec.
Marquess Filan segera keluar dari tenda dan menemui Arabella.
"Kau belum menjawab pertanyaanku. Apa yang kau lakukan di sini? Aku sudah membebaskanmu. Kau bisa pergi jauh kemanapun yang kau inginkan." Tanya Raja Alec dengan tatapan tajamnya.
Ratu Roseline tak menjawab. Dia melangkah maju dan melepas baju zirah Raja Alec.
"Apa yang kau lakukan?" Raja Alec mencekal tangan Ratu Roseline.
Tatapan keduanya saling beradu.
"Lepaskan. Tanganku sakit." Ucap Ratu Roseline.
Raja Alec segera melepaskannya. "Pergilah. Di sini bukan tempat yang aman untukmu. Kau bisa memulai hidupmu di tempat yang jauh lebih baik."
"Aku hanya akan melakukan apa yang ingin aku lakukan. Baginda tidak bisa mengatur apalagi melarangku lagi." Jawab Ratu Roseline sambil melepaskan baju zirah itu.
"Mengapa kau masih peduli padaku? Bukankah kau sangat membenciku?" Tanya Raja Alec.
"Aku hanya tidak ingin melihatmu mati konyol." Jawab Roseline.
Tatapan mata Raja Alec berubah melembut.
"Bukan hanya rakyat Cardania yang menggantungkan nyawa mereka padamu, tapi juga ada seorang ibu yang ingin melihat putranya kembali ke dalam pelukannya dengan selamat." Ucap Ratu Roseline.
Raja Alec terlihat kecewa mendengar jawaban Ratu Roseline. Ratu Roseline mengambil baju pengaman yang telah dibuat mirip baju anti peluru dan memakaikannya ke tubuh Raja Alec, sebelum akhirnya ditutup dengan baju zirah.
"Baju ini tidak mudah ditembus dengan senjata tajam. Ini akan melindungimu dari serangan musuh."
Tangan kanan Roseline berhenti tepat di depan dada kiri Raja Alec dan merasakan detakan jantung di dalamnya. "Pastikan kau melindunginya dari serangan musuh. Jangan biarkan senjata Raja Aramos menembusnya."
Di dalam novel diceritakan jika Raja Alec mengalami luka parah karena pedang Raja Aramos berhasil menusuk dan melukai jantungnya. Countess Sarah yang sudah resmi menjadi Selir Raja, berhasil menyelamatkan Raja Alec dan membawanya pergi dari medan perang.
Raja Alec menggenggam tangan Roseline. "Aku pastikan Raja Aramos tidak akan bisa menyentuhku."
Roseline menarik tangannya dan berbalik. Dengan cepat Raja Alec menarik pinggangnya sehingga tubuh Roseline bertabrakan dengan tubuh Raja Alec dan saling berhadapan. Wajah keduanya sangat dekat sehingga keduanya bisa merasakan hembusan napas yang saling beradu.
Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, kedua bibir mereka sudah saling memagut dengan lembut tapi dalam. Mereka saling menyesap, bahkan kedua lidah mereka juga saling beradu seakan tak ingin dipisahkan. Raja Alec melu mat bibir ranum itu dengan sangat rakus. Napas keduanya terengah saat tautan kedua bibir itu terlepas.
"Terima kasih." Bisik Raja Alec.
"Baginda, semua pasukan sudah siap." Lapor Jenderal Azel dari luar tenda.
"Aku mengerti." Sahut Raja Alec.
Raja Alec segera pergi meninggalkan tendanya menuju tenda Marquess Filan. Raja Alec menghentikan langkahnya dan segera berbalik arah saat kedua matanya tanpa sengaja melihat percum buan panas Marquess Filan dengan Arabella.
"Apakah yang kami lakukan barusan juga sepanas itu? Ah... Sepertinya jauh lebih panas lagi. Ish.. memalukan sekali." Gumam Raja Alec dengan wajah bersemu merah.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰