
Keesokan harinya, semua orang yang berada di kediaman Tuan Ronaf dikejutkan dengan kedatangan tamu yang akan menginap di vila Tuan Ronaf. Ternyata mereka bukanlah orang sembarangan. Semua orang membelalakkan mata saat melihat kereta kuda yang berlambangkan Kerajaan Cardania.
Semua menatap ke arah Tuan Ronaf.
"Demi Tuhan. Aku benar-benar tidak tahu jika Baginda Raja yang akan datang kemari." Ucap Tuan Ronaf meyakinkan.
"Sial! Itu artinya Raja Alec benar-benar mengerahkan anak buahnya untuk mencari keberadaan kita." Gerutu Duke Ramon.
Napas Ratu Roseline terasa tercekat saat mengetahui siapa yang berada di dalam kereta kuda itu. Seorang pelayan membukakan pintu dan turunlah Raja Alec sambil menyunggingkan bibirnya.
Jantung Ratu Roseline berdebar dengan sangat kencang. Ada perasaan terkejut tapi juga senang saat melihat pria yang sangat dirindukannya itu. Tanpa sadar Ratu Roseline mengembangkan senyum di bibirnya.
"Baginda." Seru seorang wanita dengan manjanya dari dalam kereta kuda dan membuat senyum Ratu Roseline menghilang.
Raja Alec mengukurkan tangannya dan membantu seorang wanita cantik berambut merah turun dari kereta. Wanita yang tak lain adalah Putri Viviane. Putri Viviane tersenyum bahagia saat melihat pemandangan di sekeliling Kediaman Tuan Ronaf.
"Apa kau menyukai tempat ini, Putri?" Tanya Raja Alec.
Putri Viviane mengangguk. "Ini sangat indah, Baginda. Dan di tempat indah ini kita akan memulai semuanya. Aku yakin ini akan menjadi kenangan terindah dalam hidup kita."
Ratu Roseline meremas gaunnya, hatinya terasa teriris mendengar percakapan sepasang pengantin baru itu. Raja Alec dan Putri Viviane berjalan mendekat.
"Hormat, Baginda Raja."
"Ternyata kalian bersembunyi di sini." Ucap Raja Alec sinis.
Duke Sullivan dan Tuan Ronaf terkejut dan saling berpandangan.
"Kami tidak bersembunyi, Baginda. Kami hanya ingin hidup tenang di tempat yang kami inginkan." Ucap Ratu Roseline dingin.
"Jadi kau menganggap istana ratu bukan lagi tempat tinggalmu, Ratu?" Tanya Raja Alec.
"Ratu?"
"Apakah dia Ratu Roseline, Baginda?" Tanya Putri Viviane dengan wajah terkejut.
"Benar Putri. Wanita yang berada di hadapanmu saat ini adalah Ratu Roseline." Jawab Raja Alec sambil menyeringai.
"Hormat hamba, Ratu." Putri Viviane memberi hormat, lalu tersenyum ke arah Ratu Roseline.
"Selamat datang, Putri Viviane." Ratu Roseline memaksakan senyumannya.
"Aku yakin Putri pasti sangat lelah setelah menempuh perjalanan yang jauh. Pelayan, antarkan Baginda Raja dan Putri Viviane ke kamar mereka yang ada di Paviliun tamu."
"Terima kasih, Ratu." Ucap Putri Viviane.
Putri Viviane memeluk lengan Raja Alec. "Baginda, aku lapar. Aku ingin makan daging panggang yang lezat." Rengek Putri Viviane.
"Daging panggang yang lezat? Aku pernah memakan daging panggang terlezat di dunia ini, dan itu adalah daging panggang buatan Ratu. Benarkan, Ratu?" Ucap Raja Alec.
Ratu Roseline menatap Raja Alec sambil mengeraskan rahangnya.
"Aku ingin Ratu membuatkan daging panggang spesial untuk Putri Viviane. Aku harap Ratu tidak keberatan." Pinta Raja Alec membuat Ratu Roseline semakin kesal.
"Tidak perlu, Baginda. Mana mungkin Ratu membuatkan makanan untukku, yang posisinya berada di bawahnya." Ucap Putri Viviane dengan raut wajah tak enak.
"Ampun, Baginda. Biarkan para pelayan yang akan membuatkan daging panggang untuk Baginda dan Tuan Putri." Ucap Duke Ramon.
"Tidak. Aku hanya ingin memakan daging panggang buatan Ratu." Tegas Raja Alec.
Duke Ramon berusaha menahan emosinya. Pasalnya Ratu Roseline hari ini dalam kondisi tidak bisa mencium aroma daging.
"Tapi, Baginda..." Protes Duke Ramon.
"Kakak."
"Akan aku buatkan daging panggang untuk kalian. Ayo, Marie." Ratu Roseline segera pergi ke dapur bersama Marie.
"Ratu baik sekali, Baginda. Aku sangat senang." Ucap Putri Viviane dengan manjanya.
Duke Ramon memberikan tatapan kebencian ke arah Putri Viviane, namun dibalas dengan senyuman manis oleh Putri Viviane. Duke Ramon yang kesal segera pergi menyusul Ratu Roseline.
"Putri, pergilah ke paviliun bersama pelayan. Aku masih ingin tinggal di sini dan berbincang dengan Duke Sullivan dan Tuan Ronaf. Aku akan menjemputmu saat jam makan malam nanti. Kita akan makan malam bersama Ratu dan keluarga Duke." Ucap Raja Alec.
"Baiklah, Baginda." Putri Viviane diantarkan menuju paviliun tamu.
Tuan Ronaf dan Duke Sullivan mempersilakan Raja Alec masuk ke dalam karena udara yang semakin dingin.
"Alice. Apa-apaan ini? Mengapa kau mau memasak untuk mereka, sedangkan saat ini kau sedang menghindari daging. Mencium baunya saja sudah membuatmu pusing dan mual?" Cerca Duke Ramon.
"Kakak tenang saja. Aku akan memakai kain penutup agar baunya tidak tercium oleh hidungku." Jawab Ratu Roseline.
"Kau siapkan saja bumbunya biarkan Marie dan para pelayan dan mengolah dagingnya." Ucap Duke Ramon kesal.
Ratu Roseline mengangguk setuju. Setelah beberapa jam, daging panggang itu telah matang dan disajikan di ruang makan. Raja Alec datang bersama Putri Viviane dan keduanya duduk dengan berdampingan. Marquess Filan berdiri di samping Raja Alec.
"Selamat menikmati makan malam kalian. Semoga kalian menyukainya." Ucap Ratu Roseline sambil tersenyum tipis.
"Duduklah Ratu. Kami tidak akan sanggup menghabiskan semua makanan ini. Kau dan keluargamu juga ikut makan bersama kami. Begitu juga denganmu, Marquess Filan." Ujar Raja Alec.
"Ini perintah Ratu, bukan tawaran. Aku perintahkan seluruh anggota keluarga Duke Sullivan untuk ikut makan bersama kami. Dan jika kalian membantah perintahku, aku tidak segan untuk menberikan hukuman kepada kalian." Teriak Raja Alec.
"Baginda keterlaluan." Gerutu Ratu Roseline sambil duduk di samping Raja di sisi yang lain.
Duke Sullivan, Duke Ramon dan Tuan Ronaf segera bergabung bersama mereka. Mereka segera duduk, begitu juga dengan Marquess Filan. Marquess Filan mengedarkan pandangannya untuk mencari keberadaan Arabella.
"Di mana Nona Arabella? Apa dia ingin membantah perintahku?" Tanya Raja Alec.
"Arabella sedang sakit dan harus beristirahat di kamarnya. Pelayan membawakan makanan ke kamar." Ketus Ratu Roseline.
Marquess Filan melebarkan matanya, dia mencemaskan keadaan Arabella, namun tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulutnya. Meskipun dia sangat tahu sakit yang diderita oleh Arabella.
Pelayan dari Putri Viviane mengambilkan makanan untuk majikannya.
"Cih! Benar-benar wanita manja." Cibir Duke Ramon dalam hati.
"Ratu, tolong ambilkan makanan untukku." Ucap Raja Alec sambil menyerahkan piringnya.
"Mengapa bukan Putri Viviane saja yang mengambilkannya, Baginda. Putri Viviane kan sudah menjadi istrimu." Sindir Ratu Roseline.
"Tangan Putri Viviane sedang sakit. Dan aku ingin pelayan yang mengambilkannya untukku." Ucap Raja Alec sambil menyunggikan bibirnya.
Ratu Roseline mendengus kesal. Dia segera mengambil piring dari tangan Raja Alec dan mengisinya dengan makanan, lalu dia letakkan kembali di hadapan Raja Alec.
"Terima kasih, Ratu." Ucap Raja Alec sambil tersenyum puas.
Ratu Roseline tidak menyahut dan memakan makanan yang telah disiapkan oleh Marie untuknya.
"Ini lezat sekali, Ratu. Ratu sangat pandai memasak. Aku jadi ingin belajar memasak darimu, Ratu." Puji Putri Viviane.
"Kau terlalu memuji, Putri." Sahut Ratu Roseline singkat.
"Mengapa Ratu hanya memakan sayur sup?" Tanya Putri Viviane.
"Benar, Ratu. Kau juga harus memakan dagingnya, supaya wajahmu terlihat lebih segar. Sejak tadi kau terlihat pucat." Raja Alec mengambil sepotong daging panggang dan meletakkannya di piring Ratu Roseline.
Wajah Duke Sullivan dan Duke Ramon terlihat sangat tegang.
"Mengapa kalian terlihat tegang seperti itu? Aku hanya memberikan sepotong daging dan bukanlah racun." Ucap Raja Alec.
Duke Sullivan dan Duke Ramon mengalihkan pandangan mereka dan melanjutkan menyantap makanan mereka. Dengan terpaksa Ratu Roseline memakan daging itu supaya Raja Alec tidak curiga. Ratu Roseline segera menghabiskan makanannya.
"Baginda, aku mohon ijin undur diri terlebih dahulu, karena aku sudah selesai makan." Tanpa menunggu jawaban dari Raja Alec, Ratu Roseline segera berdiri dan memberi hormat.
Dengan langkah cepat Ratu Roseline pergi meninggalkan ruang makan bersama Marie yang mengekor di belakangnya.
"Apa kau sudah selesai makan, Putri?" Tanya Raja Alec.
"Sudah, Baginda." Jawab Putri Viviane.
"Kalau begitu kita kembali ke paviliun sekarang." Ucap Raja Alec.
Raja Alec dan Putri Viviane pun pamit dan segera kembali ke paviliun tamu. Duke Ramon pergi meninggalkan ruang makan sambil berlari menuju kamar Ratu Roseline. Di kamarnya Ratu Roseline memuntahkan semua makanan dari dalam perutnya.
"Apa kau baik-baik saja, Alice?" Duke Ramon terlibat cemas melihat Ratu Roseline terduduk lemas di atas kursi.
"Aku baik-baik saja, Kakak. Sebentar lagi rasa mualnya juga akan hilang. Bisa tolong ambilkan apel untukku?"
Duke Ramon mengambil sebuah apel dan mengupasnya sebelum dia berikan kepada adiknya. "Makanlah yang banyak supaya rasa mualmu cepat hilang."
Setelah memastikan kondisi Ratu Roseline membaik, Duke Ramon pergi dan mengambil pedangnya. Duke Ramon melangkahkan kakinya menuju taman belakang.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰