
Jason keluar dari ruangan Alice dengan wajah menahan marah.
"Ada keperluan apa kau datang ke sini, Sean?" Tanya Alice datar.
Sean tersenyum dan menyerahkan buket bunga mawar putih itu kepada Alice. "Semoga kau menyukainya."
"Terima kasih."
Alice meletakkan buket itu di atas meja kerjanya.
"Sebenarnya aku ingin membahas tentang tender Suarez Corps, sekaligus mengajakmu makan siang bersama." Ucap Sean ramah.
"Itupun jika kau tidak sibuk." Tambahnya.
Alice menghela napas pelan.
"Sebenarnya aku juga ingin membahas tentang kelanjutan tender itu. Bisakah kita membahasnya di lain hari? Karena hari ini ada banyak hal yang harus aku selesaikan." Ujar Alice.
"Itu tidak masalah. Sepertinya kau butuh waktu untuk sendiri."
"Terima kasih atas pengertiannya, Sean. Anak buahku nanti akan menghubungi kalian. Dan sekali lagi terima kasih untuk bunganya." Ucap Alice dengan senyum simpul.
"Baiklah. Santai saja Alice dan jangan kau jadikan ini sebagai beban. Kalau begitu aku pergi dulu."
Sean segera berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Bagaimana jika besok siang?" Tanya Alice yang langsung menghentikan langkah kaki Sean.
Sean berbalik dengan wajah bahagia.
"Dengan senang hati." Jawab Sean.
"Boleh aku menanyakan sesuatu, Alice?"
"Tentu saja."
"Mm... Apa pria tadi itu...?"
"Dia hanya salah satu rekan bisnis Quinn Cooperation. Jika itu yang ingin kau ketahui." Jawab Alice.
Sean tersenyum senang.
"Sampai jumpa besok siang. Semoga harimu menyenangkan, Alice."
Sesaat setelah Sean keluar, Bella masuk ke dalam ruangan dengan membawa makan siang Alice yang sebelumnya telah dipesan secara online. Ketika Sean dan Billy keluar dari lift, Jason langsung menghadang mereka. Ternyata sejak tadi Jason belum keluar dari Quinn Cooperation.
"Mengapa kau menghadang kami?" Tanya Billy tak terima.
Jason hanya meliriknya sekilas. Pandangan matanya lebih fokus pada Sean.
"Aku peringatkan padamu. Jangan coba-coba mendekati Alice. Dia milikku." Jason memperingatkan.
Sean tertawa.
"Memangnya, siapa dirimu?" Tanya Sean.
"Aku adalah pria yang dekat dengannya." Jawab Jason yang membuat tawa Sean semakin keras.
"Kalau aku tidak mau, bagaimana?"
"Kau!" Bentak Jason.
"Alice mengatakan padaku bahwa hubungan kalian hanya sebatas rekan bisnis, tidak lebih." Ucap Sean.
Tangan Jason langsung menarik kerah baju Sean dengan wajah memerah. Mata keduanya saling bertatapan dengan sengit.
"Hei, lepaskan! Jauhkan tanganmu dari Bossku." Bentak Billy sambil mencengkeram tangan Jason.
Jason melepaskan tangannya dan sedikit mendorong tubuh Sean ke belakang.
"Sekali lagi aku peringatkan. Jauhi Alice atau kau akan menyesal nantinya!" Ancam Jason sebelum pergi menjauh dari Sean dan Billy.
Sean membetulkan kemeja dan jasnya.
"Anda tidak apa-apa, Boss? Apa kita perlu memberikan pelajaran kepada pria itu?" Tanya Billy.
"Tidak perlu." Jawab Sean.
Sean dan Billy segera meninggalkan Quinn Cooperation. Sedangkan Alice bersama dua asistennya melakukan sidak ke beberapa divisi untuk menangkap tikus lain yang masih berkeliaran.
Keesokan harinya, Sean sengaja mengadakan pertemuan dengan Alice di sebuah restoran Italia. Hati Sean berbunga-bunga, akhirnya dia bisa makan bersama Alice. Meskipun dengan kedok membahas tender mereka. Sean juga sudah menyiapkan buket bunga mawar kuning untuk Alice. Tak butuh waktu lama bagi Alice tiba di restoran tersebut, karena Alice adalah tipe orang yang sangat disiplin dengan waktu.
"Aku harap kau menyukai bunga dan restoran ini, Alice." Ucap Sean.
"Terima kasih." Jawab Alice.
Sean dan Alice segera membahas kelanjutan tender Suarez Corps. Keduanya terlihat sangat prosfesional sekali dalam bekerja. Sean dibuat terkesima dengan ide-ide brillian yang Alice sampaikan untuk kelancaran tender mereka. Kebersamaan mereka tak luput dari pandangan mata Jason yang sejak tadi menguntit mereka.
Hari demi hari Alice lalui dengan menenggelamkan dirinya ke dalam tumpukan berkas-berkas penting. Kerjasamanya dengan Sean untuk tender Suarez Corps berjalan dengan baik. Keduanya mulai sering makan bersama untuk membahas tender mereka. Alice dan Sean terlihat semakin dekat dan akrab. Hal itu membuat Jason semakin marah dan menyusun sebuah rencana jahat.
Tok.. Tok.. Tok...
Pintu ruangan Alice terbuka, dan masuklah asisten cantik Alice ke dalam ruangan.
"Maaf Nona, ada yang ingin bertemu dengan Anda." Lapor Bella.
"Siapa?" Tanya Alice.
"Seorang wanita bernama Katherine Alonzo." Jawab Bella.
Alice menyerngitkan dahinya karena nama itu terasa asing baginya.
"Baiklah, suruh dia masuk."
Seorang wanita cantik berambut coklat, berkulit putih dan tingginya sepadan dengan Alice masuk ke dalam ruangan dengan anggunnya.
"Selamat siang." Sapa wanita itu.
"Selamat siang, Nona. Silakan duduk." Balas Alice.
"Baiklah Nona Alonzo, ada keperluan apa Anda datang kemari?" Tanya Alice.
"Langsung saja. Perkenalkan, namaku Katherine Alonzo. Aku adalah tunangan dari Sean Parker." Jawab wanita itu sambil menekankan kata "tunangan" di depan Alice.
Alice menyunggingkan bibirnya membuat Katherine terlihat bingung.
"Mengapa wanita ini terlihat santai? Dia bahkan tidak terkejut sama sekali." Batin Katherine.
"Baiklah. Perkenalkan namaku Alicia Quinn. Kau bisa memanggilku Alice. Sekarang katakan padaku, apa tujuanmu datang ke sini, Katherine? Bolehkan aku panggil nama saja supaya terkesan lebih santai." Tanya Alice.
Katherine mengangguk setuju. "Langsung saja, Alice. Kedatanganku ke sini untuk memberitahumu agar kau menjauhi tunanganku, Sean."
Alice terkekeh pelan.
"Maaf Katherine. Aku tidak bisa." Jawab Alice.
"Apa kau bilang?" Bentak Katherine tak percaya.
"Sekali lagi aku katakan, aku tidak bisa menjauhi Sean." Ulang Alice sambil tersenyum.
"Mengapa kau tidak mau menjauhi Sean? Apa kau telah jatuh cinta padanya?" Tanya Katherine.
"Dasar wanita tidak tahu malu. Sean sudah bertunangan dan tak lama lagi kami akan menikah. Kau harus tahu diri di mana posisimu." Bentak Katherine.
"Sepertinya kau salah paham. Hubunganku dengan Sean adalah sebagai rekan bisnis. Kami bekerja sama untuk menyelesaikan tender dari Suarez Corps. Oleh karena itu, aku tidak bisa menjauhi Sean selama kontrak kerja sama kami belum berakhir." Ucap Alice menjelaskan.
Katherine terdiam.
"Mengapa kau diam? Apa kau tidak percaya padaku?" Tanya Alice.
"Sean menyukaimu." Ucap Katherine sambil menahan cemburu.
"Lalu?"
"Kau pasti sudah mengetahuinya, bukan?"
"Ya. Sean sudah menyatakan perasaannya padaku." Jawab Alice gamblang.
Terlihat wajah Katherine semakin memerah karena marah. "Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau juga mencintai Sean?"
"Jujur saja, aku menyukai Sean. Karena profesional kerjanya yang luar biasa. Sean tidak pernah mencampur adukkan antara urusan pribadi dengan pekerjaan. Ya meskipun dia juga terus berusaha untuk mendekatiku."
Katherine membelalakkan matanya mendengar kejujuran Alice.
"Tapi jika menyangkut dengan rasa cinta..." Alice menjeda ucapannya membuat Katherine semakin penasaran.
Alice menggelengkan kepalanya.
"Mengapa tidak? Sean itu pria tampan, cerdas, pengusaha yang sukses dan kaya raya." Tuntut Katherine.
Alice tertawa pelan.
"Aku pun juga terlahir dalam kondisi cantik rupawan dan dari keluarga kaya yang bergelimang harta. Hidupku tidak pernah kekurangan sedikitpun. Jangan samakan aku dengan wanita murahan di luaran sana yang hobinya mengejar para pria kaya untuk mendapatkan harta mereka. Derajatku jauh di atas mereka." Ucap Alice.
Katherine mengepalkan tangannya melihat kesombongan Alice. Alice mencondongkan badannya.
"Kau salah mencari lawan. Jika aku mau, saat ini juga aku bisa menghancurkan bisnis Keluarga Alonzo sampai tak bersisa." Ucap Alice pelan namun penuh penekanan.
Katherine membulatkan matanya. Alice menegakkan badannya kembali sambil tersenyum.
"Sebaiknya kau pergi dari sini dan temui tunanganmu. Buat dia mencintaimu." Ucap Alice.
Katherine langsung berdiri dan pergi meninggalkan ruangan Alice tanpa mengucapkan sepatah kata. Bella terkejut melihat Katherine keluar dari ruangan Bossnya dengan wajah marah. Bella langsung ke dalam ruangan Alice.
"Apa Nona baik-baik saja?" Tanya Bella.
"Ya." Jawab Alice santai.
"Kalau boleh tahu siapa wanita yang bernama Katherine Alonzo itu, Nona? Dan mengapa dia terlihat marah saat keluar dari ruangan ini?" Tanya Bella penasaran.
"Dia adalah tunangan Sean."
Bella membulatkan bola matanya. "T-tunangan Tuan Sean?"
Alice mengangguk. Bella menjatuhkan tubuhnya di atas sofa dan mengejutkan Alice. Bella mendengus kesal.
"Mengapa kau terlihat kesal? Apa kau cemburu dan patah hati karena Sean sudah memiliki tunangan?" Tanya Alice.
Bella membuang napasnya kasar. "Tentu saja saya kesal dan marah. Beraninya Tuan Sean mendekati Nona padahal dia sudah memiliki tunangan? Bahkan Tuan Sean terang-terangan menunjukkan perhatiannya kepada Nona."
"Cinta bertepuk sebelah tangan." Ucap Alice
"Maksud Nona, Tuan Sean tidak mencintai tunangannya?"
Alice mengangguk. "Sepertinya hasil perjodohan."
Bella menghela napas panjang.
"Saya selalu berpikir jika Tuan Sean adalah satu-satunya pria yang pantas menjadi pasangan hidup Nona. Kalian berdua terlihat sangat serasi, yang satu tampan dan yang satunya lagi cantik. Aku sangat berharap kalian bisa bersatu nantinya."
Alice memutar bola matanya malas. Bella melebarkan matanya. Dia tersenyum ke arah Alice, membuat Alice melotot.
"Buang jauh-jauh ide konyolmu itu. Aku ini wanita berkelas dan memiliki harga diri, Bella. Aku tidak sudi menjadi orang ketiga di antara mereka." Tegas Alice.
"Nona tadi kan bilang jika cinta wanita itu bertepuk sebelah tangan. Itu artinya masih ada kemungkinan untuk Nona dan Tuan Sean bersama." Cicit Bella.
"Apa kau sudah bosan bekerja denganku, Bell?" Tanya Alice dengan wajah dinginnya.
Bella meneguk salivanya kasar.
"Oh tentu saja saya masih betah Nona. Kalau begitu saya akan kembali bekerja." Dengan langkah cepat Bella segera keluar dari ruangan Alice.
Mobil Sean baru saja meninggalkan kawasan Parker Groups hampir tengah malam. Banyak pekerjaan yang harus dia selesaikan bersama Billy. Hal itu juga sengaja dia lakukan supaya dirinya terbebas dari Katherine yang telah datang dua hari yang lalu. Sean tahu jika kedatangan Katherine secara tiba-tiba pasti ada campur tangan ayahnya.
"Boss. Sepertinya ada yang mengikuti kita." Ucap Billy sambil matanya terus menatap kaca spion.
Sebuah mobil sedan hitam melaju tepat di belakang mereka.
"Siapa mereka? Apa mereka dikirim oleh rival-rival bisnisku?" Tanya Sean.
"Saya tidak tahu, Tuan." Ucap Billy sambil mempercepat laju mobilnya.
Mobil hitam itu terus mengekor di belakang. Sean dan Billy yakin jika mereka benar-benar sedang diikuti.
"Hati-hati Bill dan tetap tenang."
Dorrr... Dorr..
Ban mobil Sean ditembak membuat Billy hilang kendali. Mobil itu pun tergelincir lalu menabrak sebuah pohon besar dengan keras. Mobil hitam yang sejak tadi mengikuti mobil Sean segera berlalu dengan sangat kencang.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Halo readers sekaliann yang author sayangi. Author mohon maaf ya jika up nya lama, karena kesibukan di real life. Terima kasih banyak atas kesetiaan dan dukungan kalian semua. Author akan berusaha untuk lebih baik lagi. Terima kasih🙏🙏🙏
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰