
Tap... Tap... Tap...
Terdengar suara langkah tegas dari seorang pria bertubuh tegap, atletis, dan jangan lupakan wajah tampannya yang dipenuhi dengan bulu-bulu halus di sekitar rahangnya, serta mata elangnya yang dilindungi oleh sepasang kaca mata bening.
"Scott sudah tiba di markas kita dengan membawa mereka bertiga, Tuan." Lapor pria itu.
Sebuah seringaian terbit di bibir pria yang tengah duduk sambil menatap gemerlapnya bintang dari balik kaca riben yang ada di ruangan tersebut.
"Scott tidak pernah mengecewakanku."
"Allen."
"Ya, Tuan." Jawab pria yang bernama Allen itu.
"Tempatkan Nona Quinn di ruangan pribadiku."
Alice berjalan mengikuti langkah Scott dengan wajah tenang namun sedingin bongkahan es. Keduanya tiba di depan sebuah pintu besar. Scott segera membuka pintu tersebut.
"Silakan masuk, Nona. Tuan Xander sudah menunggu kedatangan Anda." Ucap Scott sambil mempersilakan Alice untuk masuk.
"Katakan dulu ke mana kalian membawa kedua asistenku?" Tanya Alice.
"Nona tidak perlu mencemaskan mereka. Nyawa keduanya bergantung pada Nona." Jawab Scott ramah namun terdengar menjengkelkan.
Alice mendengus kesal. Ingin rasanya dia mencabik-cabik mulut pria yang ada di hadapannya saat ini. Dengan terpaksa Alice melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan yang pencahayaan yang cukup remang, bahkan nyaris gelap. Alice berjalan dengan santai tanpa ada rasa takut sedikitpun. Dia mendudukkan pant atnya di atas sofa dan menghirup aroma maskulin yang menyeruak di seluruh ruangan.
"Tunjukkan dirimu!" Seru Alice dengan kedua tangannya terlipat di depan dada.
Terdengar suara tawa menggema di seluruh ruangan. Seketika semua lampu menyala dan tampaklah seorang pria yang sedang duduk di balik meja besar menatap ke arahnya. Pria itu memakai pakaian hitam lengkap dengan kacamata hitamnya. Yang menarik adalah sebagian besar wajah pria itu tertutup topeng, sengaja untuk menutupi wajah aslinya.
Alice menyapukan pandangannya ke seluruh ruangan yang seluruhnya berwarna monokrom (hitam dan putih). Keduan manik Alice menatap gambar burung elang berapi besar dan di bagian dadanya tertulis huruf XS.
"Perkenalkan namaku adalah Xander Smith. Senang bisa bertemu denganmu Nona Quinn." Ucap pria itu memecah keheningan.
"Oh, jadi kau adalah Tuan Xander Smith, pemilik perusahaan IT terbesar di Inggris, XS Groups, sekaligus ketua dari kelompok mafia "Fire Eagle"." Ujar Alice dengan wajah sinis.
"Pengetahuanmu sungguh luar biasa, Nona." Ujar Xander sambil tersenyum.
Siapa yang tak tahu dengan nama besar Xander Smith, seorang pengusaha besar sekaligus ketua mafia yang terkenal dengan kekejamannya terhadap para musuhnya.
Kursi Tuan Xander bergerak dan keluar dari balik meja besarnya. Alice terkejut. Ternyata Xander adalah seorang pria lumpuh yang duduk di atas kursi roda. Dengan cepat Alice mengubah ekspresi wajahnya. Mau itu pria normal atau cacat, seorang Xander Smith bukanlah orang yang bisa dipandang sebelah mata.
"Aku menginginkan kalung rubi itu. Dan aku akan mengganti uang yang telah kau keluarkan untuk membayar harga lelangnya." Xander berterus terang.
"Cih. Setelah kalah dalam bersaing di tempat lelang, sekarang kau ingin merebutnya dengan cara yang tak layak. Dasar pengecut!" Ucap Alice tajam.
"Kalung itu milikku. Jangan harap kau bisa mengambilnya dariku." Tambahnya.
Xander terkekeh dan menyentuh dagunya sendiri. Kedua matanya menatap intens tubuh Alice mulai atas sampai bawah, dari balik kacamata hitamnya. Ibu jarinya mengusap bibir bagian bawahnya.
"Jaga pandangan matamu!" Bentak Alice.
Bibir Xander menyunggingkan senyumnya.
"Jika kau bisa memuaskanku, maka aku mempertimbanhkan apakah kau bisa memiliki kalung itu atau tidak." Ucap Xander yang seketika membuat darah Alice mendidih.
"Memuaskanmu? Apa tidak salah?" Alice menatap Xander dengan tawa meremehkan.
"Seharusnya kau berkaca terlebih dahulu. Akses gerakmu saja terbatas." Ejek Alice.
"Jadi kau meremehkanku, Nona?" Sahut Xander dengan santai.
"XS, Xander Smith. Atau kata lainnya adalah X-Tra Small." Ucap Alice dengan tatapan mengejek.
Dengan cepat kursi roda elektrik itu membawa Xander berada tepat di hadapan Alice. Alice cukup terkejut dibuatnya.
"Apa kau bilang barusan?" Tanyanya kesal.
"X-Tra Small." Jawab Alice dengan penuh penekanan.
Bukannya marah, kedua tangan Xander malah sibuk membuka ikat pinggangnya membuat Alice bingung.
"Kau mau apa?" Tanya Alice.
"Aku hanya ingin memastikan apakah benar milikku ini X-tra Small seperti yang kau bilang tadi." Jawab Xander dengan santainya.
Alice membulatkan matanya. "Dasar gila."
"Dan siapa tahu ini akan membuatmu tertarik untuk mencobanya." Tambah Xander dengan senyum yang sangat menjengkelkan.
"Kurang@jar!" Alice menendangkan kakinya ke arah Xander, namun Xander menghindar dengan cepat.
Plak...
"Akhh!" Pekik Alice sambil menyentuh pan tatnya
"Uuhh... Benar-benar padat sempurna." Gumam Xander sambil menatap tangan yang telah berbuat nakal dan memukul pant at Alice.
Wajah Alice semakin memerah.
"Kau benar-benar pria br*ng s*k!"
"Cukup Nona Quinn. Sebaiknya kita hentikan pertarungan tak seimbang ini sebelum aku menyentuh setiap jengkal bagian tubuhmu. Dan pastinya itu akan membuatmu mengeluarkan suara-suara yang indah." Ucap Xander saat Alice akan menyerangnya lagi.
Alice tak bergeming dan bersiap untuk menyerang kembali. Tiba-tiba dinding ruangan itu bergerak ke atas di bagian kiri dan kanan keduanya. Alice membelalakkan matanya saat melihat kondisi kedua asistennya, Bella dan Jacob dari balik kaca besar yang menjadi pembatas.
Di sisi sebelah kiri Bella dalam kondisi tidak sadarkan diri di atas sebuah kursi, bersama Scott yang sibuk merobek gaunnya sampai hanya tersisa pakaian dal am yang melekat pada tubuh Bella. Dan di sisi sebelah kanan, Jacob yang masih pingsan diikat dan digantung dengan posisi terbalik tepat di atas dua ekor aligator yang siap mencabik-cabik tubuhnya.
"Kau benar-benar baj *ngan! Pengecut!" Umpat Alice dengan tangan mengepal.
Xander membuka dua kancing kemejanya karena gerah.
"Aku sudah memintanya dengan baik-baik padamu, tetapi kau malah menyerangku." Jawab Xander santai.
Dada Alice semakin naik turun karena amarah besar dalam dirinya yang tak bisa terlampiaskan.
"Keputusan ada di tanganmu. Aku jamin mereka akan kembali padamu dalam kondisi lengkap tanpa kurang suatu apapun, kecuali gaun yang telah robek itu. Anak buahku akan menggantinya." Ucap Xander datar.
Alice membuang napasnya kasar. Dia meraih tasnya dan mengambil kalung rubi miliknya. Alice menatap kalung itu tak rela, tapi saat ini keselamatan Bella dan Jacob jauh lebih penting. Alice hendak melempar kalung itu ke wajah Xander, namun dirinya langsung teringat bagaimana cara Raja Alec menyematkan kalung itu di lehernya.
Alice meletakkan kalung itu dengan hati-hati di atas meja. Dan secara otomatis dinding ruangan itu turun kembali seperti semula.
"Bagus sekali, gadis manis. Aku juga sudah membayarnya dengan lunas." Ucap Xander.
"Aku tidak butuh uangmu. Lepaskan mereka sekarang juga." Sahut Alice sambil mententeng tasnya.
"Aku selalu menepati janjiku, Nona Quinn. Anak buahku akan mengantarkan kalian pulang dengan selamat." Jawab Xander.
Alice tak menjawab dan melangkah ke arah pintu yang telah terbuka. Terlihat Allen tengah berdiri di depan pintu dengan wajah terkejut melihat penampilan Alice yang acak-acakan.
"Allen. Pastikan Scott dan anak buahnya menjaga wanitaku dengan baik dan jangan sampai tersentuh sedikit pun." Perintah Xander.
Alice memutar badannya.
"Cihhh!"
"Aku tidak sudi menjadi wanitamu. Dasar pria mesum menjijikkan." Hina Alice.
"Nona! Jaga ucapan Anda! Beraninya Anda bersikap tidak sopan di depan Tuan Xander." Bentak Allen.
"Diam kau! Mau ku robek mulut busukmu itu?!" Bentak Alice tak kalah keras.
Allen membelalakkan matanya.
"Mengapa kau melotot? Apa mau ku cungkel sekalian bola mata tak bergunamu itu!" Ucap Alice dengan wajah dinginnya.
Dengan mengabaikan dandanan dan gaunnya yang berantakan, Alice berjalan keluar melewati Allen yang masih ternganga. Baru kali ini Allen bertemu dengan wanita yang segarang singa.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰