
Felix memasuki sebuah ruangan rahasia sambil membawa nampan berisi makanan. Seorang pria yang duduk di sebuah kursi dengan posisi tangan terikat melirik ke arah pintu saat Felix masuk bersama Ratu Roseline.
"Ini makanlah. Jangan membuang-buang makanan lagi." Ucap Felix dingin.
"Mengapa kalian tidak membunuhku saja? Kalian tidak akan mendapatkan apa-apa dengan menyekapku di sini." Ucap pria itu ketus.
Ratu Roseline menyunggingkan bibirnya, lalu duduk di hadapan pria itu.
"Mengapa kau ingin mati, Victor? Apa kau tidak memikirkan nasib anak dan istrimu?" Tanya Ratu Roseline.
Pria yang bernama Victor itu tersenyum hambar.
"Mungkin mereka sudah tak bernyawa lagi saat ini, karena aku telah gagal membunuhmu dan juga bunuh diri. Jadi untuk apalagi aku hidup di dunia ini. Sebaiknya kalian berikan racun padaku." Ucap Victor.
"Jalan pikiranmu sempit sekali." Ujar Ratu Roseline.
Ratu Roseline memberikan isyarat menggunakan tangannya kepada Felix, dan Felix pun segera keluar. Tak lama kemudian Felix masuk kembali, namun dia tidak sendiri. Ada seorang wanita dan gadis kecil berusia 3 tahun yang berada di gendongannya berjalan di belakang Felix.
"Victor!" Panggil wanita itu.
Victor mendongakkan kepalanya saat mendengar suara wanita yang sangat dicintainya itu.
"Elsa!" Sahut Victor.
Victor meneteskan air matanya saat melihat istrinya, Elsa dan anak mereka, Tatiana, masih hidup.
"Kalian masih hidup?"
"Ya, kami masih hidup Victor. Semua berkat bantuan Ratu dan Tuan Felix. Mereka telah menyelamatkanku dari para penjahat itu. Para penjahat itu membakar rumah kita saat aku dan Tatiana berada di dalamnya." Jawab Elsa sambil berurai air mata.
Victor tercengang dan menatap Ratu Roseline tak percaya.
"Bukan hanya itu, Yang Mulia Ratu juga telah menyembuhkan penyakit yang diderita Tatiana selama ini. Saat ini tubuh Tatiana sudah sembuh total." Tambah Elsa.
Felix segera melepaskan ikatan tangan Victor. Victor segera bangkit dari duduknya lalu berlutut di depan Ratu Roseline.
"Terima kasih Ratu. Ratu masih berbaik hati menyelamatkan anak dan istri hamba, meskipun hamba telah berusaha mencelakai Ratu." Ucap Victor dengan tulus.
Elsa pun ikut berlutut di samping suaminya. Sedangkan Tatiana memamerkan senyum cantiknya kepada Ratu Roseline.
"Berdirilah!" Ucap Ratu Roseline.
"Tidak Yang Mulia. Hamba tidak layak untuk diampuni. Hamba mohon berikanlah hukuman kepada hamba." Ujar Victor.
"Jika aku memang ingin menghukummu, aku pasti sudah melenyapkan nyawamu. Apa kau tidak ingin memeluk istri dan anakmu?" Tanya Ratu Roseline.
Victor menghapus air matanya dan segera memeluk Elsa dan putrinya, Tatiana. Ratu Roseline berdiri dari duduknya.
"Kau harus menghabiskan makananmu sebelum mendapatkan hukuman dariku." Ucap Ratu Roseline dingin.
Ratu Roseline dan Felix segera keluar dari ruangan itu untuk memberi ruang kepada Victor dan keluarganya.
"Mengapa kau bisa melakukan hal bodoh dan jahat, Victor? Beraninya kau ingin membunuh Yang Mulia Ratu!" Ucap Elsa dengan wajah marahnya.
"Aku terpaksa menerima pekerjaan yang berbahaya ini demi bisa mendapatkan uang untuk pengobatan putri kita, Tatiana." Jawab Victor sambil terus menangis.
"Aku sangat menyesal dan malu kepada kalian. Maafkan aku Elsa, karena kau harus memiliki suami seorang penjahat sepertiku."
"Yang Mulia Ratu adalah wanita yang murah hati. Dia tidak seperti rumor yang beredar selama ini. Apa kau tahu suamiku? Ratu Roseline sendiri yang telah mengobati penyakit putri kita. Ratu bilang Tatiana terkena penyakit cacar, sehingga badannya demam tinggi dan muncul bercak-bercak di sekujur tubuhnya. Meskipun Ratu tahu jika penyakit Tatiana bisa menular, tapi dia tetap mengobati putri kita tanpa rasa takut atau jijik." Terang Elsa.
Victor semakin merasa bersalah. Victor sudah siap menerima semua hukuman yang akan Ratu Roseline berikan kepadanya.
Ratu Roseline sedang berjalan di taman sendirian, karena dia ingin menenangkan diri. Saat berada di bawah pohon apel, Ratu Roseline mendongak ke atas dan tersenyum tipis. Tanpa berpikir panjang, Ratu Roseline memanjat pohon apel yang cukup tinggi itu dan mengambil salah satu buahnya. Ratu Roseline menggigit buah apel yang ranum itu.
"Manis sekali. Hmmm... Rasanya aku ingin membuat rujak buah." Gumamnya.
Ratu Roseline memetik beberapa apel dengan penuh semangat.
"Apa yang kau lakukan di atas sana, Ratu?"
Terdengar teriakan dari bawah pohon yang membuat Ratu Roseline terkejut. Ratu Roseline terpeleset dan kehilangan keseimbangan.
"Aarrgghh!" Teriak Ratu Roseline.
Ratu Roseline memejamkan matanya saat menyadari dia akan jatuh ke tanah. Namun dia merasakan tubuhnya seperti melayang.
"Apa kau baik-baik saja Ratu? Apakah kau terluka?"
Ratu Roseline segera membuka matanya saat mendengar suara Raja Alec. Ratu Roseline membelalakkan matanya saat menyadari dirinya berada di gendongan Raja Alec. Saat Ratu Roseline jatuh dari pohon, Raja Alec dengan sigap menangkap tubuhnya. Ratu Roseline bisa menghirup aroma maskulin dari tubuh Raja Alec dan merasakan hembusan napas Raja Alec yang hangat.
"Ratu?" Panggil Raja Alec yang membuyarkan lamunan Ratu Roseline.
Ratu Roseline langsung bergerak dan berusaha untuk turun membuat Raja Alec terkejut dan kehilangan keseimbangan. Keduanya jatuh ke atas tanah dengan posisi tubuh Ratu Roseline tepat berada di atas tubuh Raja Alec. Marquess Filan, pelayan dan penjaga yang berada di sana, segera membalikkan badan mereka.
Ratu Roseline membelalakkan matanya saat menyadari posisinya yang tak layak ini. Ratu Roseline segera bangkit, namun naas dia menginjak gaunnya sendiri sehingga tubuhnya terjatuh lagi di atas tubuh Raja Alec.
Cup...
Bibir Ratu Roseline mendarat di pipi kanan bawah dan menyentuh ujung bibir Raja Alec. Keduanya saling membelalakkan mata mereka. Dengan perasaan marah bercampur malu, Ratu Roseline segera bangkit dan berdiri dengan perlahan, lalu merapikan gaunnya. Raja Alec juga ikut berdiri dengan jantungnya yang berdegup kencang. Namun Raja Alec berusaha untuk tetap tenang.
"Ekhm!"
"Apa yang Ratu lalukan di atas pohon?" Tanya Raja Alec dengan wajah datarnya.
"Bukankah Yang Mulia melihat sendiri jika aku sedang memetik buah apel." Jawab Ratu Roseline ketus.
"Jika Ratu menginginkan buah apel itu, Ratu tinggal memerintahkan para penjaga untuk mengambilnya tanpa harus memanjatnya sendiri. Itu sangat berbahaya, Ratu." Ujar Raja Alec.
Ratu Roseline menatap Raja Alec dengan tajam.
"Sejak tadi aku baik-baik saja berada di atas sana. Justru kedatangan Yang Mulia yang mengagetkanku, membuatku berada dalam bahaya." Ucap Ratu Roseline kesal.
"Aku minta maaf telah mengagetkanmu, Ratu." Ucap Raja Alec.
Ratu Roseline mengabaikan ungkapan permintaan maaf Raja Alec dan memunguti buah apel yang berhasil dia petik tadi. Saat Ratu akan melenggang pergi, Raja Alec menghentikannya dengan menarik lengannya.
"Tunggu Ratu. Aku benar-benar minta maaf." Ucap Raja Alec.
Ratu Roseline segera menarik lengannya lagi. "Hamba sudah memaafkan Yang Mulia. Terima kasih sudah menangkap tubuh hamba sehingga hamba tidak sampai jatuh ke tanah. Hamba mohon ijin undur diri." Ucap Ratu Roseline dingin dan melangkahkan kakinya.
"Sebenarnya apa kesalahan yang telah aku perbuat Ratu? Mengapa kau terlihat sangat kesal padaku?" Teriak Raja Alec.
Ratu Roseline menghentikan langkahnya dan berbalik.
"Gara-gara Yang Mulia, hamba tidak bisa keluar masuk istana sesuka hati hamba lagi." Ucap Ratu Roseline.
Ratu Roseline segera pergi meninggalkan Raja Alec yang masih diam terpaku. Ratu Roseline membuat rujak buah dengan aura gelapnya. Ratu Roseline sengaja memasukkan banyak cabai ke dalam bumbu rujaknya, membuat Marie membulatkan matanya. Namun Marie tidak berani bersuara. Setelah rujak buahnya jadi, Ratu Roseline membawanya ke kamar dan segera menghabiskannya untuk meluapkan kekesalan yang sedang dirasakannya.
Sedangkan di ruangannya, Raja Alec terus memikirkan ucapan Ratu Roseline tadi.
"Apa kau tahu maksud dari ucapan Ratu, Filan?" Tanya Raja Alec.
"Mungkin yang Ratu maksud adalah diangkatnya Ratu menjadi penasihat Yang Mulia dan mewajibkan Ratu untuk menghadiri setiap pertemuan bersama Yang Mulia. Ratu pasti merasa waktu yang Ratu miliki untuk bisa keluar istana sangatlah sedikit." Jawab Marquess Filan.
Raja Alec menepuk dahinya.
"Bodohnya aku. Mengapa aku tidak berpikir sampai ke sana?"
"Karena yang ada dipikiran Yang Mulia adalah bagaimana caranya selalu bisa dekat dengan Ratu. Apa tebakan hamba salah?" Ucap Marquess Filan sambil tersenyum.
Raja Alec mengalihkan pandangannya ke arah lain untuk menutupi rasa malunya karena Marquess Filan berhasil menebaknya dengan benar.
"Hamba rasa hari ini adalah hari keberuntungan Yang Mulia. Karena dibalik sikap dingin dan kesal Ratu, ada kejadian tak terduga yang membuat Yang Mulia mendapatkan rejeki yang tidak terduga juga." Ucap Marquess Filan sambil tersenyum.
Wajah Raja Alec seketika memerah sampai ke telinga. Hatinya berbunga-bunga dengan debaran jantung yang tak karuan saat mengingat momen di mana Ratu Roseline tanpa sengaja mencium pipinya dan ujung bibirnya.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰