
"Mengapa kau membutuhkan waktu yang lama untuk mengenaliku? Apa kau tahu? Aku benar-benar takut jika kau tak kan pernah mengenaliku." Cerocos Putri Viviane sambil memanyunkan bibirnya.
"Seandainya saja kau tidak akan pernah mengenaliku, maka aku akan memilih salah satu raja atau pangeran yang pernah datang ke Kerajaanku untuk meminangku dan menikah dengannya."
Duke Ramon tersenyum. Saat ini Duke Ramon dan Putri Viviane sedang menaiki kuda milik Duke Ramon dengan posisi Putri Viviane duduk di depan. Mereka sedang dalam perjalanan menuju Kediaman Tuan Ronaf.
"Lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali, Siane. Kau milikku, dan hanya milikku seorang. Jangan harap pria manapun bisa mendekatimu, apalagi mendapatkanmu. Aku takkan membiarkannya." Ucap Duke Ramon.
Putri Viviane mendengus kesal. "Ke mana hilangnya sosok dingin Duke Ramon yang aku temui kemarin-kemarin? Huft?! Bukannya kau sendiri yang menolakku mentah-mentah."
"Aku selalu setia padamu, Siane. Aku kesulitan untuk mengenalimu karena perubahan sikap dan penampilanmu itu. Siane dan Viviane adalah dua orang yang berbeda bagiku. Siane-ku itu gadis yang pemalu, sedikit penakut dan lemah lembut. Sedangkan Viviane adalah wanita arogan yang manja dan genit." Jawab Duke Ramon membuat Putri Viviane semakin mengerucutkan bibirnya.
"Terutama dengan warna rambutmu yang berbeda. Mengapa kau merubah warna rambutmu? Bukankah Siane-ku dulu berambut cokelat?" Tambah Duke Ramon.
"Ini warna rambut asliku." Lirih Putri Viviane sambil menundukkan wajahnya. "Apa kau tidak suka?"
Duke Ramon melebarkan matanya. Dia merasa bersalah telah berucap seperti itu. "Apapun warna rambutmu, aku akan selalu menyukainya."
Putri Viviane tersenyum senang.
"Kau berhutang banyak penjelasan kepadaku, Siane. Kau pasti memiliki alasan mengapa kau dulu menyamar dan menggunakan nama Siane."
"Aku berjanji kau akan mendapatkannya, Tuan Duke. Tapi satu hal yang harus kau tahu, Siane adalah nama panggilan kecilku. Mendiang ibuku yang memberikannya. Nama Siane diambil dari Eklesia-Viviane." Ujar Putri Viviane.
Duke Ramon menarik pelana kudanya dan berhenti. Dia mengambil gelang yang terbuat dari batu giok dari dalam saku bajunya dan memakaikannya di tangan Putri Viviane.
"Ini kan gelangku? Bagaimana bisa ada padamu? Padahal aku tidak pernah melepaskannya." Tanya Putri Viviane bingung.
"Kau terlalu ceroboh. Kau menjatuhkannya di kamarmu. Beruntung pelayan menemukannya dan menyerahkannya padaku." Jawab Duke Ramon.
"Jadi kau mengenaliku dari gelang ini?"
Duke Ramon mengangguk. "Gelang giok ini hanya ada satu di dunia ini. Ibuku sendiri yang membuatkannya untukku. Dan aku berjanji kepada ibu suatu saat nanti aku akan memberikan gelang ini kepada calon istriku."
Putri Viviane tersenyum malu dengan wajah bersemu merah.
Kembalinya Putri Viviane beserta rombongannya cukup mengejutkan seluruh penghuni Kediaman Tuan Ronaf, terutama saat mereka mendapati Duke Ramon yang berkuda bersama Putri Viviane.
"Ayah, akhirnya aku memiliki kakak ipar sekarang." Celetuk Ratu Roseline sambil tertawa pelan.
"Baguslah. Itu artinya tugasku sudah selesai. Aku tidak perlu cemas lagi karena putraku tidak akan menjadi perjaka tua." Jawab Duke Sullivan.
Ratu Roseline dan Tuan Ronaf tertawa cukup keras membuat Duke Ramon langsung memicingkan matanya. Dia tahu jika sedang ditertawakan.
Pada sore harinya, setelah membersihkan diri Ratu Roseline menemui Raja Alec di ruangan kerja milik Tuan Ronaf. Raja Alec sedang bersama Marquess menemui anak buah Marquess Andry yang datang untuk melapor. Raja Alec terlihat sangat marah, dia bahkan sampai memukul meja.
"Ratu!" SeruRaja Alec yang melihat kedatangan Ratu Roseline.
Raja Alec langsung menghampiri Ratu Roseline yang berdiri di ambang pintu.
"Maaf jika aku mengganggu kalian. Aku akan kembali lagi nanti." Ucap Ratu Roseline.
"Kau tidak mengganggu sama sekali." Sahut Raja Alec.
Marquess Filan dan anak buah Marquess Andry segera undur diri. Raja Alec mengajak Ratu Roseline masuk dan membantunya untuk duduk.
"Apa terjadi sesuatu yang buruk di istana?" Tanya Ratu Roseline.
Raja Alec menghela napas panjang dan terlihat frustasi.
"Beberapa pejabat dan bangsawan berusaha mencuri kesempatan saat aku tidak berada di istana. Banyak terjadi kecurangan di istana." Jawab Raja Alec.
Ratu Roseline memicingkan matanya.
"Penggelapan uang kerajaan. Mereka telah mengambil apa yang seharusnya diterima oleh rakyatku." Jelas Raja Alec.
"Lalu?" Sahut Ratu Roseline.
"Malam ini juga aku harus kembali ke istana." Lirih Raja Alec dengan tatapan penuh sesal.
Raja Alec berlutut di hadapan Ratu Roseline dan menggenggam tangannya.
"Ya, malam ini. Tapi kau tidak perlu khawatir karena aku akan pergi setelah memastikanmu tidur dengan lelap. Aku berjanji akan menyelesaikan masalah ini secepatnya, dan segera kembali ke sini." Kata Raja Alec meyakinkan.
"Mengapa Baginda mau kembali ke sini? Istana adalah tempat di mana seharusnya Baginda berada." Ujar Ratu Roseline.
"Karena aku tidak akan sanggup berjauhan dengan kalian." Tegas Raja Alec.
Ratu Roseline terdiam. Dalam hati dia merasa senang mendengar pengakuan Raja Alec, namun di sisi lain rakyat Cardania juga sangat membutuhkan Raja mereka.
Pada malam harinya, Raja Alec bersama Marquess Filan dan beberapa anak buahnya kembali ke istana setelah memastikan Ratu Roseline tertidur. Tengah malam, Duke Sullivan bersama Duke Ramon bergegas ke kamar Ratu Roseline dengan wajah cemas setelah mendapatkan laporan dari Marie. Saat tiba di kamar Ratu Roseline, Duke Sullivan dan Duke Ramon menghampiri Ratu Roseline yang sedang duduk sambil menangis di tepi ranjangnya.
"Ada apa, Alice? Mengapa kau menangis? Apakah perutmu sakit lagi?" Tanya Duke Ramon cemas.
"Benar, Nak. Katakanlah di bagian mana yang sakit? Ayah akan memanggil Ronaf datang kemari untuk memeriksamu."
Ratu Roseline menggeleng sambil terisak. "Hatiku yang sakit, Ayah. Aku tidak ingin berjauhan darinya."
Duke Sullivan dan Duke Ramon berpandangan sambil menyerngitkan dahi mereka. Duke Sullivan duduk di sebelah Ratu Roseline. "Apa kau ingin kembali kepada Baginda Raja?"
"Entahlah Ayah. Rasanya aku tidak rela berpisah dan berjauhan dengannya. Mungkin kedua bayi kami yang menginginkannya." Jawab Ratu Roseline manja.
Duke Ramon terkekeh lalu mencibirnya. "Bukan karena kedua bayimu, tapi karena kau memang terlalu mencintainya."
Tangis Ratu Roseline semakin keras. Duke Sullivan berusaha menenangkan putri kesayangannya itu. "Tenangkan dirimu, Alice. Kasihan kedua bayimu, mereka pasti sedih jika ibu mereka menangis seperti ini."
Ratu Roseline langsung berhenti menangis dan terlihat lebih tenang. Dia mengusap perutnya seraya meminta maaf kepada kedua bayi kembarnya.
"Sebaiknya kau hapus air matamu ini, dan kembalilah tidur. Besok pagi-pagi sekali kita akan pergi ke istana." Ucap Duke Sullivan.
"Apa Ayah serius?" Tanya Ratu Roseline tak percaya.
"Tentu saja. Ayah tidak sanggup melihatmu mengeluarkan air mata seperti ini." Jawab Duke Sullivan.
Ratu Roseline berhambur ke dalam pelukan ayahnya.
"Bilangnya benci, ternyata terlalu cinta." Ejek Duke Ramon sambil tertawa.
"Lebih baik kakak berkaca sana! Siapa yang sebelumnya menolak Putri Viviane? Hah? Dan sekarang selalu nempel terus seperti lem."
Tawa Duke Ramon seketika menguap. Dia langsung memalingkan wajahnya untuk menutupi rasa malunya di depan Ratu Roseline.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰