
Alice keluar dari lift khusus para petinggi Quinn Corps., dan berjalan menuju ruang kerjanya dengan buket bunga mawar merah yang indah di tangannya. Jacob dan Bella sudah menunggu kedatangannya.
"Wow... Cantik sekali bunganya, Nona." Seru Bella sambil menerima uluran bunga itu dari Alice.
"Letakkan bunga ini di mejaku." Ucap Alice.
Bella segera mengambil sebuah vas dan meletakkan bunga mawar merah itu di atas meja Alice.
"Nona membeli bunga sebagus ini di mana? Karena toko bunga biasanya menjual bunga mawar berwarna pink, putih dan kuning. Bahkan bau harum mawar ini lebih semerbak." Tanya Bella.
"Oh, itu bunga pemberian Xander Smith." Jawab Alice.
Bella langsung tercengang.
"Benarkah? Aku tidak menyangka pria sekejam Xander Smith bisa memilih bunga secantik ini." Gumamnya.
"Nona, agenda Anda hari ini adalah melakukan pertemuan dengan Parker Groups untuk membahas tender Suarez Cooperation." Lapor Jacob.
Alice terdiam sejenak, dia langsung teringat dengan Sean.
"Di mana pertemuan itu akan diadakan?" Tanyanya.
"Rencana awalnya pertemuan akan diadakan di sebuah restoran, namun Tuan Parker membatalkannya dan memutuskan untuk mengadakan rapat di Quinn Corps."
"Baiklah. Kalian siapkan ruangannya."
Kedatangan Sean Parker dan asistennya, Billy, cukup mencuri perhatian dari karyawan Quinn Corps., terutama para wanita. Tubuh tinggi, wajah tampan dengan rahang yang tegas, serta aura kepemimpinannya sangat menyegarkan mata yang memandang.
"Selamat datang, Tuan Parker." Sapa Alice saat Sean tiba di ruang pertemuan.
"Sedang bertemu lagi denganmu, Nona Quinn. Bagaimana kabarmu?" Sahut Sean sambil tersenyum.
"Baik. Terima kasih." Jawab Alice singkat seperti biasa.
Alice dan Sean membahas tentang tender Suarez Cooperation dengan serius. Keduanya sangat profesional dalam bekerja.
"Baiklah. Sesuai dengan kesepakatan yang telah kita sepakati bersama, kami akan mempersiapkan arsitek terbaik untuk membuat rancangan bangunan, sedangkan untuk proses pembangunannya menjadi tanggung jawab Quinn Corps." Ujar Sean.
"Deal."
Pertemuan penting pun berakhir. Sebelum pergi, Sean ingin berbicara secara pribadi dengan Alice. Bella, Jacob dan Billy segera keluar.
"Ada apa Tuan Parker? Apa yang ingin Anda bicarakan?" Tanya Alice.
"Sean." Sahut Sean.
Alice menyerngitkan dahinya.
"Panggil saja, Sean, supaya lebih santai. Bolehkah jika aku memanggilmu dengan nama Alice?" Ucap Sean.
Alice menghela napas.
"Baiklah, Sean." Ucap Alice.
"Aku ingin kita berteman."
Alice sedikit terkejut.
"Jujur saja aku tertarik padamu. Aku menyukaimu dan aku ingin mengenalmu lebih jauh." Jujur Sean tanpa basa basi.
Alice tersenyum simpul. "Kau sangat berterus terang."
"Ya itulah aku. Baru kali ini ada seorang wanita yang membuatku tertarik, yaitu dirimu. Mungkin ini terlalu cepat bagimu, tapi dadaku terasa sesak jika tidak segera aku ungkapkan. Jadi, aku mohon izinkan aku berteman denganmu." Terang Sean.
Alice menarik napas panjang. "Kau benar, hal ini memang terlalu cepat bagiku. Jika kau ingin kita berteman, aku tak masalah. Toh jika juga menjadi rekan bisnis saat ini. Tapi, itu tidak menjamin aku akan membalas perasaanmu."
Sean tersenyum senang. "Tidak masalah. Dengan perlahan, aku akan berusaha membuatmu membalas perasaanku."
"Sebagai awal pertemanan kita, aku ingin kau menerima hadiah kecil dariku."
Sean mengeluarkan sebuah kotak berwarna hitam dan memberikannya kepada Alice.
"Bukalah."
Alice membuka kotak hitam itu. Kedua kornea matanya membulat saat melihat bros berbentuk bunga mawar yang tersimpan di dalamnya.
"Bros ini." Pekik Alice.
"Aku harap kau menyukainya. Aku tahu kau menyukai bunga mawar. Jadi begitu aku melihat bros ini, aku langsung teringat padamu." Ujar Sean. "Dan entah mengapa aku merasa tidak asing dengan bros ini."
"Alice. Apakah kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Sean.
Alice menarik napasnya perlahan. "Apakah kau mengingat sesuatu?"
Sean menggeleng.
Alice berusaha untuk tetap tenang. "Mungkin saja sebelumnya kita pernah bertemu atau berpapasan di suatu tempat tanpa kita tidak sadari."
"Kau benar, bisa saja seperti itu. Baiklah, kalau begitu aku pamit karena aku harus bertemu dengan klienku yang lain. Sampai bertemu lagi, Alice." Ucap Sean.
"Terima kasih atas hadiahnya." Ujar Alice.
"Dengan senang hati." Sean tersenyum dan melangkah keluar dari ruangan.
Alice menghempaskan tubuhnya di atas kursi kebesarannya. Ia memejamkan mata sambil menghela napas panjang.
"Sean. Siapa kau sebenarnya? Jika benar dirimu adalah Alec, mengapa jantungku tak pernah berdebar lagi."
Jacob mengetuk pintu lalu masuk ke dalam ruangan.
"Apa agendaku selanjutnya, Jacob?" Tanya Alice.
"Rapat dengan seluruh dewan direksi, Nona." Jawab Jacob.
Alice mengangguk.
"Itu artinya aku tidak bisa makan siang bersama Xander." Gumamnya.
Sebelumnya Xander meminta Alice untuk makan siang bersamanya sebagai jadwal kencan mereka. Alice mengambil ponselnya. Dia ingin memberitahu Xander jika dirinya tidak menemani Xander makan siang. Alice mendengus kesal saat menyadari bahwa dirinya tidak memiliki nomor telpon Xander.
"Nona. Ada yang mengirimkan makan siang untuk Anda." Bella masuk dengan membawa paper bag dan meletakkannya di atas meja dekat sofa.
"Dari siapa?" Tanya Alice.
"Saya tidak tahu, Nona. Tapi di sini ada surat untuk Anda." Bella menyerahkan sepucuk surat dari dalam paper bag tersebut.
Alice segera membukanya.
..."Selamat menikmati makan siangmu, teman kencan cantikku. Aku tahu jika saat ini kau sedang sibuk dan tidak bisa makan siang bersamaku. Aku mengirimkan banyak makanan untukmu dan kedua asistenmu....
...Untuk acara kencan yang tertunda, aku berbaik hati menggantinya dengan malam malam yang jauh lebih romantis dari semalam. Aku tahu kau pasti sudah menantikannya. Bersabarlah. Sampai bertemu nanti malam."...
^^^Dari Teman Kencan Tertampanmu,^^^
^^^XS^^^
"Cih. Teman kencan tertampan." Tanda sadar tersenyum.
Jacob dan Bella tercengang. Keduanya saling berpandangan dengan wajah bingung.
"Ekhm!" Alice langsung berdiri dan berjalan ke arah sofa.
Alice duduk di atas sofa dan mengeluarkan makanan dari dalam paper bag.
"Duduklah. Kita makan bersama." Perintah Alice.
"Tapi Nona." Seru Jacob.
"Ada tiga kotak makanan di sini. Aku tidak akan sanggup menghabiskan semuanya. Kalian duduk dan temani aku makan."
Jacob dan Bella pun patuh. Keduanya segera duduk. Alice meletakan dua kotak makanan di depan mereka.
"Mari kita makan." Seru Alice.
"Châteaubriand!"
Bella dan Jacob menatap takjud potongan daging tenderloin yang tebal yang seketika membuat perut mereka berdendang. Alice yang sudah lapar langsung menyantap daging lezatnya itu. Alice dan kedua asistennya menghabiskan makanan mereka sampai tak bersisa.
"Terima kasih Nona. Saya kenyang sekali." Ucap Bella dengan senyum bahagia.
"Berterima kasihlah kepada Xander Smith, karena dia yang telah mengirimkan makanan ini." Ujar Alice.
"Xander Smith?!" Seru Jacob dan Bella.
"Ya, Xander Smith. Tidak ada racun di dalam makanan ini, jadi kalian tidak perlu khawatir." Jawab Alice yang seolah bisa membaca pikiran mereka.
Xander tiba di halaman mansion Quinn tepat waktu. Mata Xander berbinar saat melihat Alice keluar dari dalam mansion dengan menggunakan wrap dress berwarna navy dan rambut yang diikat ekor kuda.
Mobil Tuan Abraham memasuki halaman mansion.
Tuan Abraham tersenyum ke arah cucunya.
"Selamat malam, Tuan Abraham." Sapa Xander.
Wajah lembut Tuan Abraham seketika berubah dingin.
"Apa kau akan makan malam bersamanya lagi, Alice?" Tanya Tuan Abraham dengan tatapan tak bersahabat ke arah Xander.
"Ya, begitulah, Kek." Jawab Alice.
Tuan Abraham menatap cucunya dari atas sampai bawah.
"Lain kali gunakan baju yang panjang dan tertutup rapat. Kau terlalu cantik dan menggoda malam ini. Jangan berikan kesempatan sedikit pun untuk pria seperti dia yang bisa menerkammu kapan saja." Ucap Tuan Abraham dengan wajah kesal.
"Kakek tidak perlu cemas. Aku pastikan dia tidak akan berani melakukannya." Ujar Alice.
"Anda tidak perlu cemas, Tuan. Saya akan menjaga cucu Anda dengan sangat baik." Ucap Xander.
"Aku akan meledakkan kepalamu, jika kau berani menyentuhnya sedikit saja. Dan tubuhmu akan menjadi santapan para anjing peliharaanku." Ancam Tuan Abraham sebelum masuk ke dalam mansion.
Xander dan Alice segera masuk mobil dan meninggalkan mansion. Xander tiada henti mengumbar senyumnya.
"Mengapa kau tersenyum seperti orang gila?" Tanya Alice.
"Aku senang bisa berbincang dengan Tuan Abraham." Jawabnya.
Alice terkejut. "Bukankah terlihat sekali jika kakekku tidak menyukaimu, bahkan dia mengancammu."
"Tuan Abraham bukannya tidak menyukaiku, kami hanya belum akrab saja." Sahut Xander.
"Kau akan membawaku ke mana sekarang?"
"Kita akan makan malam di salah satu restoran yang letaknya di pinggir kota. Ada sebuah restoran yang membuat Lancashire Hotpot yang enak. Apa kau tidak keberatan?" Tanya Xander.
"Tidak selama kau bisa menjaga sikapmu." Jawab Alice ketus.
Mobil mewah itu berhenti di sebuah restoran yang jauh dari kesan mewah, yang terletak di Kota Brick Lane.
"Selamat malam Tuan Xander." Sepasang suami istri paruh baya menyapa Xander.
"Selamat malam Tuan dan Nyonya Gerrald. Bagaimana kabar kalian?" Sapa Xander.
"Kabar kami baik, Tuan. Sudah lama Anda tidak datang kemari. Dan mengejutkan sekali karena malam ini Anda datang dengan membawa seorang bidadari cantik." Ucap Nyonya Gerrald.
Xander tersenyum.
"Perkenalkan, dia adalah teman kencanku, Alice. Dan Alice, kenalkan mereka adalah Tuan dan Nyonya Gerrald, pemilik dari restoran ini yang terkenal dengan kelezatan Lancashire Hotpotnya." Ucap Xander.
"Senang bertemu dengan kalian." Ucap Alice sambil tersenyum.
"Mari silakan masuk. Saya akan menyajikan Lancashire Hotpot untuk kalian." Seru Nyonya Gerrald.
"Kalian juga." Ucap Tuan Gerrad kepada Allen dan anak buahnya.
Tuan Gerrald memasang tanda bertuliskan tutup pada pintu masuk, kemudian membantu Nyonya Gerrald menyajikan Lancashire Hotpot untuk mereka semua.
"Selamat menikmati Lancashire Hotpot kami, Tuan dan Nona." Ucap Nyonya Gerrald.
"Terima kasih." Ucap Alice.
Alice menghirup aroma dari makanan lezat itu.
"Apa kau sengaja ingin membuat berat badanku naik?" Celetuk Alice.
Xander menyerngitkan dahinya tak mengerti.
"Sejak tadi siang kau memberiku makan daging. Kau ingin membuat tubuhku penuh lemak?" Tegas Alice.
Xander terkekeh dan berbisik. "Apa aku boleh melihat lemak-lemak itu?"
Alice langsung menatapnya tajam.
"Bagaimana rasanya?" Tanya Xander.
"Kau sudah tahu jawabannya." Ketus Alice yang membuat Xander tersenyum senang.
Selesai makan Alice pergi ke toilet.
"Lihatlah istriku, setelah sekian lama akhirnya kita bisa melihat Tuan Xander tersenyum bahagia seperti sekarang ini. Semua berkat Nona Alice." Ucap Tuan Gerrald.
"Kau benar, suamiku. Sudah lama aku tidak melihatnya tersenyum seperti itu, sejak meninggalnya Tuan dan Nyonya Smith." Sahut Nyonya Gerrald sambil menyeka air matanya yang sempat menetes.
Alice yang baru kembali dari toilet tanpa sengaja mendengar percakapan Tuan dan Nyonya Gerrald. Alice segera kembali ke tempat duduknya.
"Alice temani aku jalan-jalan sebentar. Ada sebuah taman di dekat sini." Pinta Xander.
Alice hanya mengangguk tanpa berkata.
Keduanya berjalan menuju taman yang tak jauh dari restoran. Alice duduk di salah satu kursi yang ada di taman itu. Ada beberapa orang yang lalu lalang di depan mereka.
"Mengapa kau melamun? Apa kau merasa keberatan dan tidak senang?" Tanya Xander.
Sejak tadi dia memperhatikan jika Alice terlihat murung dan melamun. Alice menggeleng.
"Apa kau sudah lama mengenal Tuan dan Nyonya Gerrald dan makan di restoran mereka?" Tanya Alice.
"Aku mengenal mereka sejak kecil. Hampir setiap hari mendiang ayah dan ibuku mengajakku makan di sana." Jawab Xander.
"Jadi semua itu benar jika kedua orang tuamu telah tiada." Tanya Alice.
Xander mengangguk. "Ayah dan ibuku pergi ke pangkuan Tuhan tepat di saat aku berusia 12 tahun. Mereka meninggal karena kecelakaan."
Alice melebarkan matanya.
"Dan kecelakaan itu juga yang telah membuatku menjadi pria cacat dan buruk rupa seperti sekarang." Terang Xander sambil tersenyum.
Dada Alice terasa sesak. Ternyata mereka mengalami nasib yang sama. Bahkan nasib Xander jauh lebih menyedihkan dirinya. Mata Alice terasa memanas.
"Ayolah. Jangan menatapku seperti itu."
Alice langsung mengalihkan pandangannya.
"Meskipun aku bukan pria yang sempurna, bukan berarti aku ini lemah. Percayalah, aku masih sangat sanggup membuatmu terkapar di atas ranjang."
Wajah melo Alice seketika berubah merah padam.
"Pria mesum dan breng sek sepertimu memang tak layak dikasihani." Bentak Alice.
Xander pun tertawa.
Alice menatap Xander yang sedang tertawa lepas.
"Aku tahu Xander, sikap arogan dan menyebalkanmu ini hanya untuk menutupi luka dihatimu. Namun tak bisa dipungkiri, dibalik tubuhmu yang terlihat rapuh sebenarnya kau sangatlah kuat dan berani sehingga menjadikanmu seperti sekarang. Seorang pengusaha dan ketua mafia yang sangat disegani banyak orang. Kau seperti bunga dandelion yang memiliki serbuk yang mudah rontok ketika terkena angin. Namun, serbuk ini akan kembali tumbuh ketika sampai di atas tanah."
"Benar sekali, Dandelion." Guman Alice sambil tersenyum tipis.
"Kau bilang apa, Alice?" Tanya Xander.
"Bukan apa-apa. Sebaiknya antarkan aku pulang sekarang atau kakekku akan meledakkan kepalamu." Ucap Alice.
"Baiklah. Karena masih aku ingin melewati lima hari yang indah bersamamu." Sahut Xander. "Terima kasih untuk malam yang indah ini, Alice."
"Sama-sama."
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰