
Sebelum dibawa ke ruang tahanan, Isak diperbolehkan untuk berpamitan terlebih dahulu kepada istri dan kedua anak kembarnya.
"Jaga dirimu dan kedua anak kita dengan baik, Ava. Aku minta maaf karena harus meninggalkan kalian." Lirih Isak sambil terisak.
"Aku berjanji akan menjaga mereka, kau juga harus menjaga dirimu baik-baik dan bertobatlah. Berjanjilah setelah kau keluar dari penjara nanti, jangan kau ulangi lagi kebodohanmu itu. Aku lebih baik hidup miskin, dari pada harus menikmati uang dari hasil kerja kotormu." Ucap Ava dengan berlinang air mata.
Isak menghapus air mata istrinya dengan lembut.
"Aku berjanji, aku akan menjadi suami dan ayah yang baik. Dan aku akan memberi kalian makan dari hasil kerjaku yang baik nantinya. Aku sangat mencintai kalian bertiga."
Isak memeluk istrinya lalu mencium kedua anak kembarnya secara bergantian. Tak lama kemudian, prajurit membawanya pergi. Semua yang dilakukan Isak dan keluarganya tidak luput dari pandangan Raja Alec dan Ratu Roseline.
"Aku iri padanya." Ucap Raja Alec.
Ratu Roseline menatap Raja Alec sambil menyerngitkan dahinya tak mengerti. Raja Alec langsung tersenyum.
"Aku iri karena dia memiliki keluarga yang bahagia dibalik hidupnya yang kekurangan. Dan aku juga iri karena dia telah dianugerahi dua anak lucu yang bisa dia cium, dia peluk dan dia banggakan."
Ratu Roseline langsung mengalihkan pandangannya. "Jika Baginda ingin memiliki anak, Baginda bisa menikah lagi dan mendapatkan anak dari selir."
Senyum Raja Alec langsung menguap. Hatinya terasa sakit dan kecewa mendengar tanggapan Ratu Roseline.
"Aku lebih baik tidak memiliki anak dari pada harus menikah lagi."
Ratu Roseline terdiam dan tak menanggapi.
"Baginda, Tuan Franco ingin bertemu. Ada hal penting yang ingin Tuan Franco sampaikan kepada Baginda." Lapor Marquess Filan.
"Antarkan Tuan Franco ke ruangan kerjaku. Dan satu lagi, perintahkan prajurit dan pelayan untuk memindahkan barang-barangku ke kamar yang baru. Hancurkan dan bakar semua barang yang telah tersentuh oleh Countess Sarah dan Baron Joseph, kemudian bongkar kamar itu. Aku tidak ingin mendapatkan kutukan dan hal buruk nantinya." Perintah Raja Alec.
"Baik, Baginda." Jawab Marquess Filan dan segera pergi.
"Sebaiknya Ratu kembali ke istana ratu untuk beristirahat. Dan aku minta maaf karena tidak bisa mengantarkanmu." Ucap Raja Alec lembut.
"Tidak apa-apa, Baginda. Sebaiknya Baginda segera menemui Tuan Franco sekarang." Jawab Ratu Roseline.
Keduanya pun berpisah. Ratu Roseline menatap punggung Raja Alec yang bergerak semakin menjauh dengan wajah sendu. Ratu Roseline menghela napas panjang dan segera kembali ke istana ratu bersama Marie. Di tengah perjalanan, Raja Sevilen menghentikan langkah mereka. Ratu Roseline langsung memberikan hormat, begitu juga sebaliknya.
"Ada apa Raja Sevilen? Mengapa Raja menghentikan kami?" Tanya Ratu Roseline sopan.
"Maafkan aku Ratu, aku tidak bermaksud bersikap tidak sopan. Aku hanya ingin mengembalikan ini." Ucap Raja Sevilen sambil menyerahkan bros berbentuk bunga mawar milik Ratu Roseline yang terjatuh saat berada di pasar.
Ratu Roseline menelisik bros itu untuk memastikan.
"Itu memang bros milikku yang hilang. Di mana Raja menemukannya?"
"Ratu menjatuhkannya saat kita berdua tanpa sengaja bertabrakan di pasar beberapa saat yang lalu." Jawab Raja Sevilen sambil tersenyum.
"Aku tidak menyangka jika Ratu dari Kerajaan Cardania suka menyamar dan berpetualang keluar istana. Sungguh Ratu adalah wanita yang unik dan sangat menarik." Pujinya.
Ratu Roseline mengambil bros itu. "Terima kasih Raja Sevilen karena telah mengembalikannya padaku. Ini adalah salah satu bros kesayanganku."
Hati Raja Sevilen berbunga-bunga mendapatkan senyuman dari Ratu Roseline, meskipun sangat tipis.
"Bagaimana jika sebagai ucapan terima kasihnya, Ratu mengundangku untuk minum teh bersama siang ini?" Tanya Raja Sevilen.
Ratu Roseline menyadari maksud dan tujuan Raja Sevilen.
"Tentu saja. Tapi bukan hanya kita berdua, tetapi juga bersama Raja dan Ratu yang lain. Bagaimana?" Jawab Ratu Roseline.
"Aku tidak masalah. Sampai bertemu nanti siang, Ratu Roseline." Ucap Raja Sevilen, lalu memberi hormat dan pergi meninggalkan Ratu Roseline.
Ratu Roseline pun melanjutkan perjalanannya menuju istana ratu. Perbincangan antara Ratu Roseline dan Raja Sevilen tertangkap oleh ketajaman mata Raja Alec dari jauh. Hati Raja Alec terasa mendidih melihat kedekatan mereka. Namun dia tidak ingin bertindak gegabah karena diliputi rasa cemburu yang besar. Raja Alec menarik napas panjang untuk meredakan amarahnya dan segera menemui Tuan Franco di ruangan kerjanya.
"Ada hal penting apa yang ingin Tuan Franco sampaikan?" Tanya Raja Alec sambil duduk di kursi kebesarannya.
"Beberapa bulan yang lalu, Pangeran Henry berkunjung ke Kerajaan Brilian. Dan pada saat Pangeran Henry dalam perjalanan pulang kembali ke kerajaan, beliau menemukan seorang pria yang tergeletak di pinggir hutan dalam kondisi terluka parah. Pangeran Henry pun menolongnya dan membawanya pulang ke kerajaan kami."
"Setelah dirawat selama satu minggu, pria itu pun akhirnya sadarkan diri. Dia mengatakan bahwa dirinya berasal dari kerajaan Cardania. Pria itu terus menanyakan tentang keadaan Ratu Roseline dan juga Baginda Raja. Dia juga selalu terlihat ketakutan dan mengatakan jika ada orang yang ingin melenyapkannya." Terang Tuan Franco.
"Siapa pria itu?" Tanya Raja Alec.
"Dia mengatakan namanya Ronaf. Dia terus mengatakan jika nyawa Baginda Raja sedang dalam bahaya. Namun dia tidak mau menjelaskan apa maksud dari ucapannya itu. Dia memohon agar kami membawanya serta ke kerajaan ini. Dan dia ingin bertemu dengan Baginda Raja." Jawab Tuan Franco.
"Di mana pria itu sekarang?"
"Anak buah hamba menempatkan pria itu di suatu tempat rahasia. Jika Baginda ingin menemui pria itu, anak buah hamba akan membawanya datang ke istana ini. Dan hamba mohon kepada Baginda untuk menyiapkan tabib atau dokter, karena kondisinya menurun setelah menempuh perjalanan jauh dari kerajaan hamba." Ujar Tuan Franco.
"Baiklah, aku mengerti. Marquess Andry akan ikut dengan anak buahmu untuk membawa pria itu masuk ke dalam istana dan aku akan memerintahkan tabib kerajaanku untuk memeriksanya." Ucap Raja Alec.
Raja Alec langsung keluar dari ruangannya dan melangkahkan kakinya menuju istana ratu. Raja Alec tidak melihat Ratu Roseline di kamarnya dan menanyakan keberadaan Ratu kepada pelayan. Pelayan mengatakan jika Ratu Roseline sedang berada di dapur dan Raja Alec pun bergegas menuju dapur istana.
"Mengapa Ratu tidak beristirahat dan malah memasak banyak makanan? Apa Ratu akan mengadakan pesta?" Seru Raja Alec.
Marie dan para pelayan memberi hornat dan segera menyingkir dari dapur.
"Benar Baginda. Aku mengundang para raja dan ratu untuk meminum teh di istana ini. Selain itu, aku juga ingin menjamu mereka makan siang." Jawab Ratu Roseline. "Apa Baginda mau ikut bergabung?"
Raja Alec menghela napas panjang. "Aku sangat ingin bergabung, tapi sayangnya aku tidak bisa. Ada urusan penting yang harus aku tangani dan selesaikan."
"Apa ada masalah besar?" Tanya Ratu Roseline penasaran.
"Bukan masalah besar, tapi cukup penting dan tidak bisa aku tinggalkan."
"Sayang sekali. Itu artinya kami akan bersenang-senang tanpa Baginda Raja." Ujar Ratu Roseline.
Raja Alec tiba-tiba memeluk Ratu Roseline dari belakang, membuat jantung Ratu Roseline berdebar kencang.
"Bersenang-senanglah, Ratuku. Tapi kau jangan terlalu dekat dengan Raja Sevilen, aku tidak suka." Lirih Raja Alec.
"Raja Sevilen?"
Ratu Roseline terkekeh.
"Jadi, Baginda merasa rendah diri sekarang. Di mana perginya pria yang dijuluki "Dewa Perang" itu?" Ejek Ratu Roseline.
Raja Alec mendengus kesal. "Kau boleh mengejekku semau dan sepuasmu. Tapi kau harus selalu mengingat apa yang aku katakan tadi."
"Aku akan selalu mengingatnya. Bisakah Baginda melepaskanku sekarang atau ayam gorengku akan jadi gosong nantinya." Ucap Ratu Roseline sedikit kesal.
Dengan berat hati Raja Alec mengurai pelukannya. Ratu Roseline mengambil beberapa piring dan mengisinya makanan.
"Marie, bawa makanan ini ke ruang kerja Baginda Raja." Perintah Ratu Roseline.
Marie dan beberapa pelayan segera membawa makanan itu ke istana raja. Raja Alec tersenyum senang.
"Terima kasih, Ratu. Aku berjanji akan menghabiskan semua makanan yang kau buat. Aku akan kembali ke istanaku sekarang. Selamat bersenang-senang dan jangan pernah lupakan apa yang aku katakan tadi." Ucap Raja Alec.
Ratu Roseline hanya menganggukkan kepala sambil memutar bola matanya. Selesai memasak, Ratu segera membersihkan diri dan bersiap menyambut kedatangan para raja dan ratu yang telah diundangnya. Sedangkan Raja Alec sudah berada di markas rahasianya untuk menemui pria yang bernama Ronaf.
"Dokter Ronaf." Seru Tabib Ma saat anak buah Tuan Franco membopong seorang pria paruh baya masuk ke dalam ruangan dan menidurkannya di sebuah ranjang.
"Apa tabib mengenali pria ini?" Tanya Raja Alec.
"Tentu saja, Baginda. Dokter Ronaf adalah sahabat hamba. Beliau adalah sepupu dari mendiang Duchess Rosalia, ibu dari Ratu Roseline, dan juga dokter pribadi Ratu Roseline." Jawab Tabib Ma.
Ronaf adalah seorang dokter dari Kerajaan Cardania, sedangkan tabib Ma dan tabib Fay adalah orang keturunan Tionghoa yang pernah diselamatkan oleh Raja Uther dari perbudakan ketika Raja Uther berkunjung ke negeri itu. Setelah mengetahui bahwa keduanya merupakan tabib dan menguasai ilmu pengobatan, Raja Uther pùn mengangkat keduanya menjadi tabib istana.
"Tabib Ma, kaukah itu?" Tanya dokter Ronaf dengan suara pelan.
Tabib Ma langsung mendekat. "Benar dokter, ini aku tabib Ma. Syukurlah ternyata kau masih hidup. Selama ini aku berusaha mencarimu. Mengapa kau tiba-tiba menghilang?"
"Ada yang menculik dan berusaha untuk membunuhku, tabib Ma." Jawab dokter Ronaf sambil menahan tangis.
"Siapa yang telah menculik dan ingin membunuhmu?" Tanya Raja Alec.
Dokter Ronaf terkejut, dia berusaha bangun untuk memberi hormat namun tubuhnya terlalu.
"Kau tidak perlu bangun." Seru Raja Alec.
Dokter Ronaf menatap Raja Alec dengan mata sayunya.
"Hamba mohon maaf Baginda. Hamba tidak bisa memberikan hormat. Hamba bersyukur Baginda Raja baik-baik saja." Ucap dokter Ronaf.
Tiba-tiba raut wajah dokter Ronaf berubah panik.
"Tapi, bagaimana dengan keadaan Ratu Roseline? Apakah Yang Mulia Ratu baik-baik saja, tabib Ma?"
"Tenangkan dirimu, dokter." Ucap tabib Ma.
"Bagaimana aku bisa tenang jika nyawa keponakanku berada di ujung tanduk?" Sahut dokter Ronaf.
"Tenangkan dirimu, dokter. Dan katakan apa yang sebenarnya terjadi?" Bentak Raja Alec.
Dokter Ronaf pun terdiam, lalu menarik napas panjang.
"Baginda Raja harus tahu jika selama ini Ratu selalu berusaha menyelamatkan nyawa Baginda. Ratu selalu menjadi tameng saat ada orang yang ingin meracuni Baginda ataupun orang yang ingin menjebak Baginda dengan minuman yang diberi obat."
Raja Alec membelalakkan matanya.
"Sejak kecil Ratu Roseline sudah menguasai tentang ilmu berbagai macam obat dan racun, yang dia turuni dari mendiang ibunya. Kemanapun Ratu pergi, dia selalu membawa obat penawar. Ratu selalu meminum obat itu sebelum meminum minuman milik Baginda yang telah Ratu tukar sebelumnya. Namun, Ratu kecolongan pada malam itu. Di malam pesta pertemuan yang Baginda adakan bersama raja dan ratu dari kerajaan tetangga."
"A-apa maksudmu bahwa Ratu kecolongan?" Tanya Raja Alec.
"Pada malam itu, Ratu sudah memastikan jika semua makanan dan minuman bebas dari racun dan obat berbahaya. Akan tetapi, pada saat Baginda mengambil gelas yang berisi minuman, Ratu mencium bau racun dari dalam minuman itu. Tanpa berpikir panjang, Ratu langsung merebut minuman itu dari tangan Baginda dan meminumnya."
Kaki Raja Alec terasa lemas dan diapun jatuh terduduk di kursi.
"Baginda Raja sangat marah dan menyeret tubuh Ratu Roseline keluar dari ruangan pesta. Ratu menahan sakit akibat racun yang menjalar di tubuhnya saat Baginda memberikan hukuman 25 kali cambukan. Dan setelah hukuman cambuk selesai diberikan, Ratu Roseline langsung pingsan."
"Kami membawa Ratu kembali ke istana ratu dan memeriksa keadaannya. Saat itu kondisi Ratu sedang kritis karena racun itu dengan cepat menyebar dan telah menyerang jantungnya. Sekujur tubuh Ratu mulai membiru. Hamba segera keluar dari istana mencari tanaman herbal untuk membuat obat penawar. Tiba-tiba ada segerombolan orang menyerang dan berusaha membunuh hamba. Mereka membuang tubuh hamba di tepi hutan sampai akhirnya Pangeran Henry menemukan hamba." Pungkas dokter Ronaf.
Raja Alec memandangi kedua tangannya yang gemetar. Dia sangat menyesali apa yang telah dia lakukan kepada Ratu Roseline sebelumnya.
"Aku benar-benar manusia jahat dan biadab. Aku telah menyiksa istriku, wanita yang telah menyelamatkan hidupku. Aku adalah suami terhina di dunia ini." Rutuk Raja Alec sambil menangis.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰