
"Sudah, Baginda. Dia berada di ruangan penyiksaan saat ini." Jawab Marquess Filan.
"Bagus. Rasanya aku sudah tidak sabar ingin mengulitinya." Ucap Raja Alec dengan wajah dinginnya.
Di ruangan penyiksaan, ada seorang wanita yang tergeletak tak berdaya setelah mendapatkan beberapa kali cambukan. Wanita itu terus menjerit kesakitan saat pengawal Raja memberikan stempel di tubuhnya memggunakan besi yang dipanaskan. Mereka berhenti saat melihat kedatangan Raja Alec, dan langsung memberikan hormat.
"Siapa wanita ini?" Tanya Raja Alec.
"Ampun Baginda. Dia adalah salah satu pelayan yang berada di istana Raja." Jawab salah satu pengawal.
Raja Alec duduk di atas kursi yang berada di depan pelayan itu. Para pengawal mendudukkan tubuh pelayan itu dengan paksa.
"Jadi kau orangnya yang telah berani mencampur obat perangsang ke dalam minumanku?"
Wanita itu sangat ketakutan melihat wajah Raja Alec dengan mata merahnya yang terlihat seperti iblis yang hendak melenyapkan nyawanya.
"A-ampun, Baginda. Hamba mohon ampun. Hamba hanya disuruh Baginda." Mohon pelayan itu ketakutan.
"Siapa yang telah menyuruhmu?"
Pelayan itu menunduk dan bibirnya bergetar karena takut.
"Jawab!" Bentak Raja Alec.
"No-nona Julia."
"Julia?" Raja Alec menyerngitkan dahinya.
"Benar Baginda. Nona Julia Arnof, putri dari bangsawan Arnof. Mereka tiba di istana siang tadi untuk mengunjungi Ibu Suri Helene. Saat ini mereka menginap di Paviliun Tamu, Baginda." Jawab pelayan itu sambil menangis.
"Hamba mohon, ampunilah nyawa hamba, Baginda."
Raja Alec menyeringai. "Ampun katamu?"
"Setelah kau menyamar dan menjadi mata-mata di istanaku, kemudian kau memberiku obat laqnad itu. Kau masih berani meminta ampun padaku."
Glek... (Pelayan itu meneguk salivanya kasar)
"Pengawal! Lakukan apa yang seharusnya kalian lakukan, dan singkirkan sampah busuk ini dari hadapanku." Perintah Raja Alec dengan wajah dinginnya.
Para pengawal menunduk hormat lalu menyeret pelayan itu keluar dari ruang penyiksaan menuju tempat eksekusi. Pelayan itu terus meronta namun tidak ada satupun yang mempedulikannya.
"Apa Baginda yakin akan melakukannya? Nona Julia adalah putri dari sahabat baik Ibu Suri Helene. Ibu Suri Helene menyayanginya seperti anak sendiri." Tanya Marquess Filan.
"Lalu, apa kau ingin aku memelihara tikus dan penyakit di dalam istana dan kerajaanku, Filan?" Jawab Raja Alec sambil mengeraskan rahangnya.
"Ti-tidak Baginda. Hamba tidak bermaksud berbicara seperti itu." Jawab Marquess Filan.
"Lalu untuk apa kau mempertanyakan hal yang tidak perlu aku jawab."
Raja Alec melangkah keluar dari ruangan itu menuju lorong rahasia yang menghubungkannya dengan kamar pribadinya. Raja Alec segera membuka pakaiannya dan masuk ke dalam kolam mandinya. Raja Alec berendam cukup lama untuk meredam amarah dan gai rah yang masih bergejolak di dalam dirinya.
Sedangkan di kamar Ratu Roseline, Marie membantu Ratu Roseline untuk mengeringkan tubuhnya setelah selesai membersihkan diri. Setelah itu, dia membantu Ratu Roseline untuk menggunakan baju tidur. Marie juga telah membersihkan dan mengganti seprei Ratu Roseline yang telah dipenuhi cairan lengket dengan seprei yang baru dan bersih.
Hati Marie serasa teriris melihat beberapa luka lebam di tubuh Ratu Roseline akibat cengkeraman dan sentuhan kasar Raja Alec. Marie mengoleskan salep untuk mengobati luka-luka itu. Ratu Roseline hanya terdiam dengan pandangannya yang kosong.
"Baginda Raja sudah keterlaluan. Mengapa Baginda tega menyakiti Yang Mulia seperti ini?" Ucap Marie sambil terisak.
Ratu Roseline tersadar dari lamunannya dan menatap ke arah Marie. Dengan lembut Ratu Roseline menghapus air mata Marie yang mengalir dan tersenyum.
"Jangan menangis, Marie. Aku baik-baik saja."
"Apanya yang baik-baik saja, Yang Mulia? Hamba tahu Yang Mulia merasa sakit saat ini." Sahut Marie.
"Apa kau ingin membuatku terlihat lebih baik?" Tanya Ratu Roseline.
Marie mengangguk.
"Apapun akan hamba lakukan agar Yang Mulia merasa lebih baik." Jawabnya dengan cepat.
"Tolong buatkan aku teh hangat. Aku merasa kedinginan setelah mandi malam yang dingin ini." Ucap Ratu Roseline.
"Baiklah Yang Mulia. Hamba segera membuatkannya. Mohon tunggu sebentar."
Marie segera keluar dari kamar untuk membuatkan teh hangat.
"Jadi, sekarang kau memperlakukanku seperti wanita murahan." Lirih Ratu Roseline sambil tersenyum hambar.
Marie kembali ke kamar Ratu Roseline dengan membawa secangkir teh hangat kesukaan Ratu Roseline.
Felix segera masuk setelah mendengar teriakan Marie. Felix membantu Marie mengangkat tubuh Ratu Roseline dan meletakkannya dengan perlahan di atas ranjang. Tak lama kemudian, Tabib Fay datang. Seorang pelayan Ratu segera pergi ke kediaman Tabib Fay saat mengetahui Ratu Roseline pingsan.
Tabib Fay terkejut melihat kondisi tubuh Ratu Roseline.
"Tadi Baginda Raja datang kemari, Tabib." Ucap Marie.
Tabib Fay mengangguk paham.
"Mmm..." Lenguh Ratu Roseline.
"Yang Mulia sudah bangun. Syukurlah." Ucap Marie dengan mata sembabnya.
"Apa yang terjadi padaku?" Tanya Ratu Roseline.
"Yang Mulia jatuh pingsan. Yang Mulia mengalami demam tinggi dan kesehatan Yang Mulia juga menurun drastis." Jawab Tabib Fay. "Marie, tolong ambilkan kain dan air hangat untuk mengompres Yang Mulia Ratu."
Marie segera melakukan permintaan Tabib Fay. Setelah dia kembali, Marie langsung mengompres dahi Ratu Roseline.
"Hamba akan membuat ramuan obat untuk menurunkan demam Ratu dan juga obat untuk memulihkan stamina Ratu kembali." Ucap Tabib Fay.
"Terima kasih, Tabib Fay." Ucap Ratu Roseline dengan suara lemah.
"Sama-sama Yang Mulia. Yang Mulia harus banyak beristirahat supaya kesehatan Yang Mulia segera pulih kembali." Ujar Tabib Fay.
Ratu Roseline mengangguk sambil tersenyum.
Setelah kepergian Tabib Fay, Marie merapikan selimut Ratu Roseline dan terus mengompresnya.
"Marie. Maukah kau menemaniku tidur malam ini? Aku sedang tidak ingin sendiri." Pinta Ratu Roseline.
"Tanpa Yang Mulia pinta pun, hamba akan tetap di sini untuk merawat Yang Mulia." Jawab Marie sambil tersenyum.
"Bisakah kau berhenti memanggilku dengan sebutan Yang Mulia. Aku Alice, bukan Ratu Roseline." Mohon Ratu Roseline (Alice).
"Baiklah, Nona Alice."
Ratu Roseline tersenyum senang. Asisten Tabib Fay masuk dengan membawa obat untuk Ratu Roseline. Marie membantu Ratu Roseline untuk duduk dan meminum obatnya.
"Sebaiknya Nona istirahat sekarang, supaya demam Nona segera turun dan Nona Alice bisa segera sembuh." Ucap Marie.
"Terima kasih, Marie. Dan kau juga jangan lupa istirahat. Jangan begadang hanya karena menungguiku tidur. Aku yakin besok pagi aku pasti sudah sembuh." Ujar Ratu Roseline.
"Setelah Nona Alice tertidur, hamba juga akan beristirahat. Hamba sudah mengambil kasur dan akan tidur di bawah." Ucap Marie.
"Mengapa kau tidak tidur denganku di ranjang?" Tanya Ratu Roseline.
"Tidak Nona. Hamba sudah terbiasa tidur di lantai, lebih leluasa." Jawab Marie.
"Baiklah. Tapi jika kau nanti merasa kedinginan, naiklah ke atas ranjang. Aku dengan senang hati berbagi ranjang denganmu."
Marie mengangguk. "Terima kasih banyak, Nona."
Tak butuh waktu lama, mata Ratu Roseline terpejam akibat efek dari obat dari Tabib Fay. Dengan telaten, Marie mengompres Ratu Roseline. Setelah memastikan suhu tubuh Ratu Roseline mulai menurun, Marie mengistirahatkan tubuhnya di atas kasur yang telah dia siapkan tadi.
To be continue ...
...***-❤❤❤-***...
Baca juga novel author :
1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU
2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku
Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :
✔Klik favorite❤
✔Tinggalkan comment✍
✔Tinggalkan like👍
✔Tinggalkan vote🔖
✔Beri hadiah🎁🌹
Terima kasih🙏🥰