I'M The Unstoppable Queen

I'M The Unstoppable Queen
Bab 59. Wanita Bodoh



"Baginda!"


Ratu Cetta berteriak sambil berlari ke arah suaminya. Dia mengangkat gaunnya agar lebih mudah digunakan untuk berlari.


"Ratu." Raja Abraham mengulurkan tangannya saat Ratu Cetta tiba tepat di depannya.


"Jangan berlari seperti itu, kau bisa terjatuh Ratu."


"Baginda. Benarkah kerajaan kita akan diserang?" Tanya Ratu Cetta dengan panik.


Raja Abraham membuang napasnya pelan, lalu menyentuh bahu Ratu Cetta.


"Ratu tidak perlu takut dan cemas. Aku pastikan mereka tidak akan bisa menyentuh kerajaan kita sedikitpun. Aku akan ikut berperang bersama Raja Alec."


"Baginda." Ratu Cetta mulai berkaca-kaca.


"Berdoalah untuk keselamatanku dan para prajurit kita. Untuk sementara waktu, tinggallah di istana Ibu Suri. Di sana jauh lebih aman untuk kalian. Dan selama aku tidak berada di sini, jagalah calon anak kita dengan baik, Ratu." Ucap Raja Abraham sambil mengusap perut Ratu Cetta yang masih datar.


Beberapa hari yang lalu, dokter istana memberitahu jika Ratu Cetta tengah hamil. Hal itu menjadi berita yang sangat membahagiakan bukan hanya bagi keluarga istana tetapi juga bagi seluruh rakyat Kerajaan Sun.


"Aku berjanji suamiku, aku akan menjaga calon penerus Kerajaan Sun dengan baik. Berperanglah dengan gagah berani dan kembalilah dengan kemenangan. Anak kita pasti akan sangat bangga padamu."


Raja Abraham mencium kening Ratu Cetta dengan lembut.


"Jadi kakak akan berangkat ke medan perang sekarang?" Lady Xena muncul dengan tiba-tiba.


Lady Xena segera menemui Raja Abraham saat mendengar akan terjadi peperangan.


"Benar, Xena." Jawab Raja Abraham. "Selama kakak tidak ada, kakak mohon jagalah Ratu dan calon anak kami."


"Siapa yang memimpin pasukan dari Kerajaan Cardania, Kak?"


"Raja Alec sendiri bersama Jenderal Azel."


"Itu artinya Jenderal Azel akan berada di barisan paling depan." Ucap Lady Xena.


"Tentu saja."


Setelah semua siap, Raja Abraham berpamitan kepada istri dan keluarganya sesaat sebelum pergi ke medan perang.


"Di mana Lady Xena? Mengapa aku tidak melihatnya sejak tadi?" Tanya Ratu Cetta kepada pelayan pribadi Lady Xena.


"N-nona sedang berada di kamar, Yang Mulia. Nona sedang kurang sehat."


"Benarkah? Tadi aku lihat dia baik-baik saja. Aku akan ke kamarnya untuk memastikan kondisinya. Dan kau, segera panggilkan dokter." Ujar Ratu Cetta.


"Ti-tidak perlu, Yang Mulia. Nona sedang tidur setelah meminum obat. Sebaiknya Ratu datang berkunjung saat Nona sudah bangun." Cegah pelayan itu.


"Mengapa sikapmu terlihat mencurigakan? Apa kau menyembunyikan sesuatu?" Cerca Ratu Cetta sambil memberikan tatapan tajam.


Pelayan itu terlihat semakin gugup dan ketakutan.


"Katakan yang sejujurnya, atau aku akan mengirimmu ke penjara bawah tanah." Ancam Ratu Cetta.


Pelayan itu langsung bersujud. "Mohon ampun, Yang Mulia. Hamba hanya menjalankan perintah."


Ratu Cetta menyipitkan matanya. "Katakan di mana Lady Xena sekarang?"


"Nona berada di dalam rombongan Baginda Raja menuju medan perang."


"Apa kau bilang? Mengapa kau membiarkannya pergi?" Bentak Ratu Cetta.


"Hamba sudah berusaha melarang, Yang Mulia. Namun, Nona mengancam akan bunuh diri jika hamba melarangnya untuk menemui Jenderal Azel." Terang pelayan itu.


Ratu Cetta terduduk lemas. Para pelayan segera membantunya untuk berdiri.


"Apa yang telah kau lakukan, Xena? Mengapa kau harus membahayakan nyawamu sendiri?" Ucap Ratu Cetta sambil menangis.


Lady Xena menyelinap masuk ke dalam kereta barang, di saat para prajurit sibuk berlari ke sana-kemari. Lady Xena membuka pintunya sedikit untuk mengintip keadaan yang ada di luar.


"Sepertinya kami sudah pergi jauh dari istana. Aku minta maaf kakak dan kakak ipar, kali ini aku tidak menuruti ucapan kalian. Mungkin ini terdengar bodoh, tapi aku benar-benar ingin melihat Jenderal Azel. Aku takut jika setelah ini, aku tidak bisa melihatnya lagi." Lirih Lady Xena.


Rombongan Raja Abraham telah tiba dan segera bergabung dengan para prajurit Cardania. Namun sebelumnya, prajurit Kerajaan Sun yang berada di barisan paling depan mendapatkan pakaian pelindung yang tersisa.


"Selamat datang, Raja Abraham, dan selamat bergabung di medan pertempuran." Sambut Raja Alec.


Kedua raja itu langsung bersalaman, lalu keduanya berpelukan.


"Apa kau sudah memastikan keselamatan keluargamu di istana?" Tanya Raja Alec.


Raja Abraham mengangguk. "Aku sudah mengerahkan para prajurit untuk berjaga di istana Ibu Suri. Ratuku juga berada di sana. Selain itu, para prajurit bayangan juga telah menyebar di seluruh istana."


"Baguslah. Karena kedua musuh yang akan kita hadapi sekarang ini sangatlah licik." Ucap Raja Alec.


"Semoga Tuhan berada di pihak kita, sehingga kita bisa membawa pulang sebuah kemenangan." Sahut Raja Abraham yang diamini oleh Raja Alec.


"Aku ucapkan selamat atas kehamilan Ratu Cetta. Itu pasti menjadi berita yang sangat membahagiakan bagimu dan juga rakyatmu." Ucap Raja Alec.


"Terima kasih, Raja Alec. Kehamilan Ratuku sangat membuatku bahagia. Oleh karenanya aku harus memenangkan perang ini, supaya aku bisa melihatnya lahir dan tumbuh besar nantinya." Ujar Raja Abraham dengan senyum bahagia.


Para mata-mata datang dan melaporkan bahwa prajurit dari Kerajaan Gorzan dan Liam telah tiba. Kedua pasukan besar itu pun telah berdiri dengan saling berhadapan. Semua senjata telah berada di tangan masing-masing prajurit.


Prajurit Cardania dan Sun terbagi menjadi beberapa kelompok di bawah pimpinan Raja Alec, Raja Abraham, Marquess Filan, Marquess Andry dan Jenderal Azel, serta Jenderal Philipe dari Kerajaan Sun. Seorang jenderal dari Kerajaan Gorzan mendekat ke arah pasukan Raja Alec sambil menunggangi kudanya.


"Perkenalkan, aku adalah Jenderal Hugo, jenderal besar dari Kerajaan Gorzan. Ada pesan dari Baginda Raja Aramos untuk Raja dari Kerajaan Cardania dan Kerajaan Sun." Teriaknya.


"Apa pesan dari rajamu?" Tanya Raja Alec.


"Lancang! Beraninya kau merendahkan Raja kami!" Bentak Jenderal Azel sambil mengacungkan pedangnya.


"Katakan pada rajamu, kami tidak sudi berlutut di hadapannya. Dan mari kita bertarung sampai mati." Ucap Raja Alec dengan tatapan dinginnya.


Sang jenderal dari kerajaan Gorzan itu pun segera kembali untuk melapor. Terompet telah dibunyikan sebagai tanpa perang telah dimulai. Pasukan Gorzan melancarkan serangan ribuan anak panah mereka, namun dapat dihalau oleh pasukan Cardania yang menjadikan tameng mereka sebagai pelindung. Beberapa anak panah itu telah berhasil mengenai pasukan Cardania, namun tidak terlalu melukai karena terlindungi oleh baju pelindung.


Kedua pasukan besar itu maju dan saling menghunuskan senjata mereka. Seketika Raja Alec berubah menjadi seperti monster yang haus darah. Raja Alec menghabisi musuh-musuhnya tanpa ampun, begitu juga dengan Jenderal Azel dan Raja Abraham. Hal yang sama juga dilakukan oleh Raja Aramos dan Raja Henry. Sudah banyak leher yang ditebas oleh Raja Aramos menggunakan pedangnya.


Jenderal Azel berhadapan langsung dengan Jenderal Hugo. Terjadi pertarungan sengit diantara keduanya. Kedua pedang mereka saling berayun dan berusaha untuk melukai lawannya. Jenderal Hugo meraup pasir saat dirinya jatuh dan melemparkannya ke wajah Jenderal Azel.


"Dasar pecundang! Kau ingin curang." Bentak Jenderal Azel sambil menggosok matanya.


Jenderal Hugo tertawa. "Apapun bisa dilakukan untuk meraih kemenangan. Sekarang matilah kau."


Jenderal Hugo menghunuskan pedangnya ke arah Jenderal Azel, tiba-tiba ada seorang prajurit menghalau serangannya.


"Kurang a**r! Beraninya kau menghalangiku. Minggir kau, sebelum ku tebas kepalamu." Teriak Jenderal Hugo.


"Aku tidak akan pernah membiarkanmu melukai Jenderal Azel." Teriak prajurit bertubuh pendek dan kurus dengan tangan sedikit gemetar.


Jenderal Azel yang telah membersihkan matanya terkejut mendengar ucapan prajurit itu. Jenderal Hugo sangat marah dan langsung mengayunkan pedanngnya untuk menebas leher prajurit itu.


Prang!!!


Pedang Jenderal Azel menghalaunya dengan keras sehingga pedang jenderal Hugo terlepas dan jatuh ke tanah. Jenderal Azel menendang perut Jenderal Hugo keras, kemudian menghajarnya habis-habisan sampai tergeletak tak berdaya di atas tanah.


"Apa yang kau lakukan di sini, Lady Xena?" Tanya Jenderal Azel.


"A-aku... Aku..." Jawab Lady Xena dengan terbata-bata karena takut.


"Cih. Semua wanita memang sama, selalu menyusahkan, terutama kaulah yang paling menyusahkan. Dasar bodoh." Ejek Jenderal Azel dengan wajah kesal.


"Aku memang bodoh, Jenderal Azel." Ucap Lady Xena dengan bibir bergetar.


"Baguslah kalau kau sadar. Sebaiknya kau menyingkir dari sini. Ini bukan tempat untuk wanita manja sepertimu." Ucap Jenderal Azel lalu berbalik badan dan berjalan meninggalkan Lady Xena.


"Aku bodoh karena aku telah jatuh cinta padamu, Jenderal Azel."


Jenderal Azel menghentikan langkahnya dan berbalik lagi.


"Dan begitu bodohnya aku yang ketakutan saat mendengar dirimu pergi ke medan perang. Betapa bodohnya aku yang rela kehilangan nyawa hanya agar bisa melihatmu, seakan itu untuk yang terakhir kalinya." Getar bibir Lady Xena diiringi dengan bulir air mata yang mulai menetes.


"A-apa yang kau katakan barusan?" Jenderal Azel tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.


Jenderal Azel berjalan mendekati Lady Xena. Lady Xena membelalakkan matanya saat melihat Jenderal Hugo telah berdiri kembali dengan panah yang diarahkan ke tubuh Jenderal Azel.


"Jenderal Azel." Teriak Lady Xena.


Lady Xena segera berlari dan memeluk tubuh Jenderal Azel, lalu memutarnya sehingga anak panah itu menancap tepat di punggungnya. Jenderal Azel terkejut dan seketika mengayunkan pedangnya dengan kuat dan menancap di perut Jenderal Hugo. Jenderal Hugo jatuh terkapar di atas tanah dan tewas seketika.


"Lady Xena bertahanlah. Aku akan membawamu ke balai pengobatan." Ucap Jenderal Azel sambil menahan tubuh Lady Xena yang ambruk.


Raut cemas menyelimuti wajah Jenderal Azel.


"Aku senang kau selamat, Jenderal. Berjanjilah padaku, kau harus harus selamat dan tidak boleh mati di medan perang ini. Aku tidak menyesal telah mencintaimu." Lirih Lady Xena dengan mulut mengeluarkan darah segar.


"Jangan berbicara dulu, tenagamu bisa terkuras nantinya." Ucap Jenderal Azel.


Lady Xena tersenyum dan perlahan menutup matanya, membuat Jenderal Azel semakin panik.


"Hei, buka matamu. Kau tidak boleh tidur. Aku mohon bertahanlah." Teriak Jenderal Azel sambil menepuk pelan pipi Lady Xena.


Jenderal Azel menggendong tubuh Lady Xena dan membawanya lari menuju balai pengobatan.


Sedangkan di medan perang Raja Alec dan Raja Abraham tersenyum melihat pasukan Raja Aramos dan Raja Henry yang semakin berkurang. Namun senyum di bibir mereka menguap saat tiba-tiba muncullah ribuan pasukan dari belakang kuda Raja Aramos.


"Ini mustahil." Pekik Raja Alec.


Raja Aramos menyeringai melihat keterkejutandi wajah kedua musuhnya.


To be continue ...


...***-❤❤❤-***...


Baca juga novel author :


1. Menikahi Ayah Dari Anak GENIUSKU


2. Terpaksa Menikahi Sahabat (Kecil) Ku


Jangan lupa selalu dukung author supaya lebih semangat dan lebih baik lagi dalam berkarya dengan :


✔Klik favorite❤


✔Tinggalkan comment✍


✔Tinggalkan like👍


✔Tinggalkan vote🔖


✔Beri hadiah🎁🌹


Terima kasih🙏🥰