I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 87



đź–¤Bab.87.


SENDIRI


Selesai makan siang Beck pergi dengan Dilan, padahal Dy mau mengajak Dilan berenang. Gama sudah pergi ke Kantor Aby. Mungkin mau kembali menyambung persaudaraan yang sempat putus gara-gara Gama mau membunuh Aby.


Dy tidur-tiduran di Ranjang dan langsung ketiduran.


Sudah pukul 02.00 dini hari Dy baru bangun. Ternyata Aby tidak ada di sampingnya.


Dy keluar dari Kamar berharap Aby ada di Sofa, tapi Aby tidak ada.


Beck dan Dilan juga tidak ada.


Perasaan sepi menghimpitnya, Dy kembali masuk Kamar dan melanjutkan tidurnya. Tapi matanya tidak bisa tidur.


Dinihari Dy baru kembali mengantuk


Dy bangun kesiangan.


Sudah jam sepuluh pagi, Aby belum juga pulang. Dy mau ke Kantor Aby. Pikirannya tidak tenang kalau tidak bertemu Aby.


Dy memakai Celana Jean dengan atasan you can see putih, serta slayer melingkar di lehernya. Kemudian kaca mata hitam menutupi mata indahnya.


Rambut panjangnya Dy kuncir kuda.


Dy masuk ke Ruangan Aby tanpa mengetuk pintu.


" Oh sory...". Kata Dy langsung duduk di Sofa. Aby cuma menoleh sebentar, kemudian kembali berbicara dengan seorang gadis.


Dy memandangi Mereka berdua dari balik kaca mata hitamnya. Hatinya panas sekali melihat gadis itu sok ganjen di depan Aby. Dan Aby juga seolah-olah menanggapi apa yang di tanyain gadis itu.


Kemudian gadis itu keluar seraya melirik sekilas kepada Dy.


Dy cepat bangun dan mendekati Aby.


" Siapa itu ". Tanyanya kasar.


" Asmen ( asisten manager) baru, Dy lulusan Singapore, sudah cantik pintar lagi. Tumben Aku punya Asisten perempuan ". Kata Aby pura-pura acuh.


Dada dy nyesek...


" Ow..jadi itu yang membuat Kamu tidak pulang". Suara Dy sudah bergetar menahan marah.


Aby sengaja diam, mau tahu reaksi Dy.


Secepat kilat tangan Dy sudah menyapu maap yang menumpuk di Meja dan langsung keluar.


Semua surat-surat beterbangan. Aby kaget melihat reaksi Dy.


Aby sengaja tidak mengejar Dy. Supaya Dy tahu bagaimana sakitnya


di bandingkan dengan orang lain.


Dy menghapus air matanya.


Aku tidak boleh menangis karena hal sepele, Aku tidak boleh cengeng. Bhatinnya.


Dengan kasar Dy membuka dan menutup pintu Mobilnya.


Sepanjang perjalanan Dy menangis.


Ponselnya terus berbunyi.


Dy tidak peduli siapa yang menelponnya


Mobilnya terus berjalan ntah sudah sampai mana.


Tapi akhirnya Dy turun dari Mobil setelah sampai di pantai Kuta.


Dy melangkah menuju Area Pantai.


Ternyata banyak sekali Turis yang berjemur. Ada beberapa Bule dan orang lokal bermain persilancar.


Dy mencari Pohon perindang, mencoba berkomunikasi dengan Bule-bule yang duduk disana.


Dy mulai menyapa dengan kata Hallo kepada dua orang gadis Bule yang duduk tidak jauh darinya.


Mereka langsung mendekati Dy.


Ketty dan helena, bule Australia.


" Kamu sering ke Bali?". Dy mulai membuka percakapan.


" Kita baru satu kali ". Sahut mereka tersenyum. Dy merubah cara ngomongnya supaya tidak seperti orang meng Interview.


" Aku sering ke Aussie, Negara kalian sangat maju, Aku menyukainya ". Kata Dy.


" Bali juga sangat Indah, masih alami dan Aku senang melihat Orang-orangnya yang ramah. Aku merasa Bali itu Sesuatu banget...". Kata Ketty.


" Aku juga merasa begitu "". Helena ikut nimbrung.


" Kalian tinggal dimana?". Tanya Dy.


" Kita menginap di Hotel Bintang 5 dekat sini. Kita baru kemarin kesini, belum tahu mau kemana ". Kata Helena.


Dy langsung menyerahkan Kartu namanya. Mereka kelihatan kagum, karena di kartu namanya tertulis "Owner Hotel Uvassa dan Hotel Romero "


Yang membuat Kartu itu adalah Aby, Katanya biar tajir, jadilah Kartu nama super Absurd.


Kebetulan Ketty dan Helena Orangnya super gaul, jadi Dy merasa cocok saja berteman.


*******