I'M Number Six

I'M Number Six
Epa. 57



🖤Bab.57.


KEHANCURAN HATI DY.


Pada saat Keluarga Romero dipanggil masuk oleh Polisi, Dy punya kesempatan WA Beck.


" Beck.. Aku ini siapa".😭


" Permata hatiku ".❤ balas Beck cepat.


" Aku anak ***** dan anak haram".🖤


Beck diam. Hatinya sedih. Cepat atau lambat Dy akan tahu, makanya Beck dari dulu tidak pernah mengajak Dy kerumah Ricardo Romero Kalau Mereka berlibur ke Bali.


" Mulut siapa yang berani berkata begitu?".👹


Akhirnya Beck melanjutkan membalas WA Dy.


" Mulut orang yang tahu siapa Ibuku. Tidak seperti Papa yang selalu menyembunyikan indetitas Ibuku". 😭Balas Dy sedih. Air matanya kembali turun.


" Papa sangat sayank kepadamu Nak". ❤


" Papa tidak sayang kepadaku, Papa hanya ingin menbalas demdam, Papa cuma ingin membunuhku".☠☠☠balas Dy mengakhiri WA nya, karena Aby keburu datang. Dy menghapus air matanya dan membiarkan tangan Aby memeluknya dan


mengajak Dy keluar dari Kantor Polisi.


" Kita pulang ". Bisik Aby mengecup kening Dy.


" Aku harus pamit". Sahut Dy serak.


" Aku sudah pamit, Kita pulang saja". Kata Aby menyeret tangan Dy keluar.


Mereka menuju tempat parkir.


Dy naik ke Mobil dengan perasaan tidak enak, karena Dy melihat rombongan istri Om Ricardo sudah keluar.


Dy membuang pikiran tidak enak setelah Aby memberi kode untuk berjalan.


Lambhorgini Aventandor itu meluncur cepat menyisakan rasa marah dan kagum dari dua kelompok Istri Pak Ricardo Romero.


Baru sampai di Hotel, belum sempat Aby mengganti baju, Beck sudah menghubunginya.


Ntah apa yang Mereka bicarakan, terdengar Aby beberapa kali minta maaf.


Dy mengambil dua botol air mineral di mini bar dan menyodorkan satu kepada Aby. Kemudian Dy duduk di Sofa disamping Aby.


Pikirannya kembali melayang ke Tante Ida.


Perkataan Tante Ida mengusik keingintahuannya tentang Ibunya, mengapa Tante Ida mengatakan Ibunya ***** atau mengatakan dirinya anak haram?.


Tidak tahu Dy harus berbuat apa atau bagaimana, pikirannya mumet seperti benang kusut.


Seandainya Dy sekarang berada di Jakarta pasti Dy akan ketempat latihan menembak. Dy akan menghabiskan peluru karetnya untuk menembak sasarannya atau Dy akan mengeluarkan isi Samsak tinjunya dengan pukulan mautnya.


Dy menarik nafas panjang dan membuangnya kasar...


Kemudian Dy keruang ganti, mengganti pakaiannya dengan Dress Sleepwear.


Hari ini Dy malas Chattingan dengan siapapun.


Dy ingin tidur-tiduran disamping Aby.


Rasa sedihnya perlahan-lahan hilang kalau Dy dekat dengan Aby.


Belum pernah Dy mempunyai masalah yang membuat dirinya seolah-olah terjerembab jatuh ke jurang yang sangat dalam tampa penyelesaian.


Sebagai InteIijen tentu tidak baik memendam masalah karena akan berpengaruh dengan pekerjaan.


" Aku mau pulang untuk mendampingi Mama menghadapi masalah ini". Tiba-tiba Aby nyeletuk setelah lama diam.


Suaranya pelan hampir tidak terdengar.


Dy diam berusaha mengerti posisi Aby, tapi hatinya seolah tidak rela melepaskan Aby, baru rasanya Dy merasa nyaman disisi Aby, sekarang Aby mau pergi.


" Kamu pergi untuk Mamamu atau untuk Vivi?". Tanya Dy tidak tahan memendam pikirannya yang berkembang.


Aby diam. Tadi Beck menelponnya dan memarahinya, karena mengajak Dy menemui Mamanya.


Seperti kata Beck, Aby harus mendampingi Mamanya sampai masalah ini selesai.


Disamping itu, Aby juga harus lebih fokus dengan pekerjaannya.


Setelah masalah ini merebak mungkin akan ada penurunan harga saham atau


Mosi tidak percaya dari pengembang.


Maklumlah Romero Group bergerak di bidang Perhotelan, Villa sampai Beach Club yang tersebar di Bali.


Tidak bisa disalahkan juga kenapa Admesh dan Beck turun tangan untuk menyelidiki kasus ini karena Beck punya saham 25% di Romero Group.


Cuma Beck tidak ingin Dy tahu semua ini.


Beck ingin Dy tumbuh apa adanya.


*****