I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 83



đź–¤Bab.83.


PASRAH


Beck membawa sebungkus nasi padang dan menyuruh pemuda itu makan.


Ingatannya ke Ricardo, teman baik yang tidak ada duanya.


Beck menarik nafas kasar dan membuangnya....


Matanya sedih melihat pemuda itu yang tidak lain Gama.


Ya Gama....


Dia sekarang tinggal sama Beck, minta perlindungan karena Gama di tekan oleh suruhan Burhan untuk mencari surat-surat yang di bawa oleh Aby.


" Makanlah Gam...


" Ya Om Trimakasih ".


" Om bagaimana Aby ?". Sambung Gama


Sedih. Beck tersenyum dan medekati Gama.


" Semua baik-baik saja, Kamu tidak usah khawatir. Om akan mengurus semuanya.


Om minta Kamu jangan takut kepada Burhan, walaupun Dia Papamu sekarang".


Kata Beck sambil menyeret kursi didepan Gama. Beck kemudian duduk sambil tetap membawa GSMnya untuk memantau anak buahnya.


"Kamu harus ingat bahwa Ricardo yang membesarkanmu dengan kasih sayang.


Dia Papa sejatimu. Bukan Burhan yang tega membunuh Ricardo dan mengancam Kamu akan di bunuh demi harta.


Jadi Kamu harus mengerti, tidak ada orang yang mau membunuh anaknya karena masalah harta". Kata Beck menasehati Gama


" Ya Om...semoga semuanya cepat berakhir, dan Aku bisa bertemu dengan Aby ". Sahut Gama pelan.


Dia harus bertemu Aby yang telah di ancamnya sewaktu Mereka berada di Restoran Uvassa.


Gama ingin minta maaf sama Aby.


" Sekarang makanlah, Om mau ke ruangan sebelah". Kata Beck lalu berdiri.


" Ya Om...". Sahut Aby sambil mendengarkan lagu Deserve Ti Be My Wife dari DJ Tonjelava Hawillian.


Lagu ini mengingatkan Gama sewaktu Dia dan Dy mencuci mobil ke Wash Car Robotic.


Dy sangat senang dengan lagu ini.


Ingat Dy mata Gama berkaca-kaca.


Hanya Dy yang membuat Gama bersemangat hidup, walaupun Gama tahu


Beck sudah memilih Aby menjadi Calon suami Dy. Tapi sepanjang Dy belum tahu masalah perjodohan itu, Gama masih punya kesempatan masuk.


Mereka parkir dipinggir jalan raya diatas. Kebetulan jam sembilan malam keadaan sudah sepi.


Mereka lupa mempertimbangkan Hawa disini sangat dingin dan penerangan jalan di bawah hampir tidak ada.


Dilan, Boncu dan laki-laki itu turun kebawah. Sedangkan Agung dan Fery Standby di Mobil.


"Kita harus berjalan sekitar 1km Pak, kenapa tidak naik Mobil". Kata laki-laki itu.


" Jalan dibawah terjal dan hanya untuk satu Mobil. takutnya ada Mobil lain, Kita bisa terjebak ". Sahut Dilan mulai menuruni jalan yang terjal.


Laki-laki itu terpaksa mengikuti dari pada Dia mati. Beck telah memasang Bom di badannya, sekali Dy lari atau membantah badannya pasti hancur.


Mereka telah sampai di dekat Rumah Target.


Dilan tidak menyangka ada sebuah Istana tersembunyi yang di kelilingi Pohon Pinus.


Rumah ini ber lantai dua dan ada pagar tinggi mengitari Rumah ini.


"Kamu masuk dari depan dan Kita semua akan berpencar ". Perintah Dilan.


Laki-laki itu menuju ke Rumah besar itu.


Ada dua orang Satpam menahannya.


Terlihat Satpam itu mengijinkan Laki-laki itu masuk.


Dilan dan Fery meloncat lewat kebun belakang. Suasana sangat gelap. Dilan merasa Sensor nya jatuh. Pasti Beck tidak akan bisa melihat, karena Dilan tidak bisa merekam. Tapi Dilan dan Fery tetap maju.


Dengan cepat turun menyusuri pinggir tembok, melewati kolam renang.


Busyet!! Suara Anjing PitBul membuat Dilan kaget.


Untunglah bukan Dia yang di gonggong.


Mungkin laki-laki tadi itu.


Dilan dan Fery langsung menuju belakang Rumah. masuk kedalam, lewat Ruang santai.


Dan melangkah pelan melewati beberapa Kamar. Dilan terpaksa sembunyi di lekukan tembok karena ada seorang gadis menuju ke depan.


Kembali Dilan melangkah maju memasuki Ruangan besar, mungkin ini Ruang keluarga. pikir Dilan.


Anjing tetap menggonggong gaduh, padahal tidak ada Orang yang di lihat. Mungkin juga Anjing itu penciumannya tajam.


Dilan dan Fery terus maju kedepan sampai, terdengar ada suara ribut di dalam.


Ada suara Perempuan yang lebih mendominasi dari suara yang lain.


Siapakah perempuan itu??


*******