I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 21



đź–¤Bab.21.


NUNGGUIN ABY


Dy menyelesaikan laporannya ke Back.


Ada beberapa masalah yang tidak mampu Dy lakukan setiap hari, yaitu mengawal Aby di Kantor, karena Dy juga harus kerja.


Dy meraih Ponselnya dan menelepon Beck, Dy minta solusi yang terbaik.


Dan cara kerja yang praktis, tanpa melalaikan tugas yang lain.


" Kalau mengantar Nyonya Ida sekalian Kamu mengantar Aby.


Diam Kamu di Kantor Aby jangan balik pulang sebelum Aby pulang.


Habis kerja Kamu tinggal di Kamar yang dikasi Nyonya Ida, malamnya Kamu naik keatas ketempat Aby, kalau Kamu lengah nyawa Aby bisa melayang". Jelas Beck.


Dy manggut-manggut tanda mengerti.


"Siaap Paa... ".


" Hati-hati menjalankan tugas ".


" Oke Paa .... I Love You ". Kata Dy lalu menutup Ponselnya.


Dy punya waktu banyak untuk istirahat. Sekitar pukul 23.00 malam baru Dy akan ke Rumah Aby.


Dy sudah tahu dari mana Dy harus masuk supaya bisa menuju Kamar Aby..


Biasanya jam sepuluh malam Rumah sudah sepi.


Penghuninya sudah tidur, karena besoknya Mereka kerja.


Alarm Dy berbunyi. Sudah waktunya ke Rumah Aby. Dy ke Kamar mandi, menyetel Shower, air hangat membasahi tubuh Dy.


Malam ini Dy memakai Celana panjang corak tentara dan sepatu Sneaker. Baju kaos hitam serta topi pet.


Tidak lupa Pistol FN dan pisau lempar.


Dy mengendarai Mobilnya pelan menyusuri jalanan yang masih ramai.


Tapi ke ramaian itu pelan-pelan berubah sepi setelah Mobil masuk ke kawasan jalan widuri.


Dy memarkir Mobilnya di sebuah Apotik 24 Jam.


" Nitip Pak sampai jam empat pagi ". Kata Dy lalu menyerahkan seratus ribu kepada Tukang Parkir.


" Trimakasih Non...". Kata Pak Parkir tersenyum senang.


Dy berjalan cepat supaya tidak terlalu menarik perhatian.


Tembok Rumah Aby tidak begitu tinggi, Dy akan masuk ke Rumah Aby dari belakang, melewati kebon buah, kolam Renang dan belok kiri menuju Kamar pembantu.


Dari sini Dy loncat ke atas Balkon, naik ke meja dan mematikan lampu.


Dy duduk di sofa yang ada di Balkon.


Aby pasti menunggunya, karena lampu kamarnya belum mati.


Tidak berapa lama lampu Kamar Aby sudah berganti dengan lampu tidur.


Dy duduk dengan kaki di selonjorkan ke Sofa di depannya.


Dy sangat menikmati suasana malam yang sepi, perasaan sentimentil menyelimuti perasaannya.


Lamunannya melayang-layang ke segala penjuru, membuat Dy tidak menyadari ada seseorang di bawah mau melempar tali.


Setelah kaitannya mengenai besi baru Dy tahu akan ada tamu tak di undang.


Dy cepat mengeluarkan pistolnya dan mepet di tembok.


Seorang laki-laki berperawakan tegap sudah berdiri di depan Dy.


Sebelum orang itu sadar tentang kehadiran Dy, laras pistol Dy sudah menempel di Pelipis laki-laki itu.


Dy tidak mau ada keributan.


Tidak ada perlawanan yang berarti dari laki-laki itu.


" Bergerak atau mati ". Ancam Dy.


Kemudian Dy menggeser sofa dan menendang lutut laki-laki itu.


Posisi Laki-laki itu sekarang berlutut.


Dy memasang Borgol di kedua tangannya dan Lakban untuk menutup mulutnya.


Setelah itu Dy mengikat laki-laki itu dengan tali yang tadi di pakai naik.


Jam tangan Dy sudah merekam semua kejadian itu dan tersambung ke layar GSM Beck di Jakarta.


Beck dari Jakarta memerintahkan dua orang menjemput Laki-laki itu.


Di Bali ada juga Markas XPostOne.


Keadaan kembali aman hanya ada daun-daun tanaman hias di Balkon yang berantakan.


Dy melihat jam tangannya sudah pukul. 02.00 dini hari.


Dy memasukkan kawat magnetik ke lobang kunci, pintu Aby terbuka.


Pelan-pelan Dy masuk dan menutup pintu , Aby tidur nyenyak.


Dy merebahkan badannya di Sofa panjang yang ada di Kamar Aby.


Kita dalam keadaan siaga Empat, Kamu harus lebih ketat menjaga Aby.


kata Beck kemarin.


Dy memejamkan matanya dan menajamkan pendengarannya.


Semoga tidak ada pecundang lagi. Bisik Dy dalam hati.


Suara tubuh Aby yang merubah posisi tidur, membuat Dy bangun.


Sudah mendekati Jam empat Pagi Dy mau pulang.


Sengaja Dy meninggalkan Topi petnya sebagai bukti Dy datang.


Dy paling repot kalau Aby ngambek.


*******