I'M Number Six

I'M Number Six
Epa. 60



đź–¤Bab.60.


KERUMAH SAKIT.


Badan Dy langsung lemas, air matanya jatuh. Dy menyesal sekali marah dengan Aby.


" Papaa..ajak Aku menemuinya". Kata Dy lirih memeluk Beck.


Rasa bersalah menyelimuti hatinya.


Dy tidak tahu harus ngomong apa, air matanya sudah tidak bisa di bendung.


Dilan ikut prihatin. Matanya tidak pernah lepas dari Dy. Dilan sangat mengagumi anak Bos nya ini. Dy adalah contoh perempuan yang sempurna dan mahal.


Seandainya Kamu bukan anaknya Beck, Aku pasti akan menikahimu. Bisik Dilan dalam hati.


"Kamu harus tenang dan kuat, Kita akan kesana sekarang". Ucap Beck membelai rambut Dy.


Ingin rasanya Dy terbang supaya cepat sampai di Rumah Sakit.


Tidak habis-habisnya Dy menyesali dirinya yang pergi meninggalkan Bali.


penyesalan selalu datangnya belakangan.


Setelah sampai di Bali Mereka langsung kerumah sakit dengan Taxi.


Sampai di Rumah Sakit Dy menuju Ruangan ICU.


Terlihat Gama dan Vivi duduk diluar.


" Bagaimana keadaan Aby Gam?". Tanya Beck menghampiri Gama.


Muka Vivi terlihat marah, tapi Dia tidak berani berkata apapun karena ada Beck.


" Belum sadar Om". Sahut Gama sambil melirik Dy.


" Apa boleh masuk?". Tanya Beck lagi.


" Boleh, tapi cuma satu orang saja". Jawab Gama.


Beck membisikan Dy supaya masuk kedalam, kemudian Beck dan Dilan duduk dengan Gama sambil berbincang-bincang. Vivi berdiri dengan muka kesal dan duduk menjauh.


Kebenciannya dengan Beck dan Dy sudah menjadi dendam kesumat.


Gara-gara Beck dan Dy Papanya dan Nyonya Ida menjadi tersangka.


Kalau Vivi bisa membunuh, mungkin saat ini Dia sudah menembak kedua orang itu.


Sayangnya Vivi bukanlah seperti Dy yang dengan hati dingin bisa memuntahkan pelurunya kepada gembong Narkoba.


Atau tanpa berperasaan melempar pisaunya kejantung lawan.


Itulah tugas Intelijen, siapapun yang salah harus terima hukuman, tidak ada kompromi. Yang Ada Dy yang mati atau lawan yang mati.


Intelijen Lawannya adalah penjahat Negara dan Mafia yang merajalela di muka Bumi ini.


Dy masuk keruangan ICU lengkap dengan pakaian yang telah tersedia.


Hatinya hancur melihat keadaan Aby yang terbujur dengan Kepala terbungkus perban.


Selang infus menancap di langan Aby. Ada goresan merah di pipi sebelah kanan. Mungkin kena pecahan kaca Mobil.


" Aby... ini Aku, maafkan Aku..." hanya itu keluar dari mulutnya, Dy tidak tahu harus ngomong apa.


Dadanya sesak menahan sedih.


Perlahan air matanya jatuh


Jari tangan Aby Dy genggam lembut.


Kemudian Dy mencium pipi Aby dan membisikan kalimat yang belum pernah keluar dari mulut seorang Dy.


" Aku mencintaimu Sayank, cepatlah sembuh ". Kata Dy di kuping Aby.


Dy menghapus air matanya dan berusaha menenangkan diri.


Kemudian Dy memegang tangan Aby dan mendekapnya di dada.


Dy mulai berdoa, memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan Aby.


Bagi Dy hanya Tuhan yang bisa menyembuhkan Aby.


Dy menyudahi Doanya, bibirnya dengan lembut kembali mengecup pipi Aby.


Hatinya terasa berat harus meninggalkan Aby. Tapi Dy harus keluar, karena bergantian masuk.


Ketika Dy mau meletakkan tangan Aby, Dy merasa tangannya di genggam Aby.


" Aby apakah kamu mendengarku?". Kata Dy pelan. Perlahan tapi pasti Aby membuka matanya.


Tanpa sadar Dy memeluk Aby, sambil terisak. Beck yang dari tadi memperhatikan Dy lewat Kaca pengintai cepat-cepat memanggil Dokter.


Keadaan berubah menjadi ramai.


Semua berebut masuk untuk melihat Aby.


Dokter tergesa-gesa datang dan mengusir


Mereka semua.


Dy duduk disamping Beck dengan gelisah. Dy takut Aby mendengar pernyataan cintanya yang spontan keluar.


Dy tadi ngomong tanpa berpikir, karena bingung harus ngomong apa.


Gama datang mendekati Dy tapi tidak bicara apapun


Dy melihat wajah Gama agak tirus, badannya lebih kurus.


Dy membiarkan tangan Gama menggemgamnya dalam situasi begini tidak elok rasanya kalau tiba-tiba Dy menepis tangan Gama.


********