I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 65



đź–¤Bab.65.


TUGAS BARU.


Dengan persetujuan Gama akhirnya Aby tinggal di Suite Room. Walaupun ada perdebatan sedikit dengan Vivi, karena Vivi merasa menjadi pacarnya.


Tapi akhirnya Vivi terpaksa bungkam karena Beck mengeluarkan kartu As, sebuah Vidio mini dimana Aby mengakui bahwa Aby tidak mencintai Vivi, karena Aby dipaksa oleh Nyonya Ida dan Pak Burhan.


" Kau bukan mencintai Aby, tapi Kau cuma mengincar Hartanya saja!!". Bentak Beck kepada Vivi.


" Kau siapa, tidak usah ikut campur dengan urusanku". Teriak Vivi tanpa terkendali. Gama menenangkan Vivi.


" Sabar Vi, Kita ada di Rumah Sakit jangan ribut ". Kata Gama mengingatkan Vivi.


" Harta yang Bapakmu rebut itu adalah hartaku juga, karena Aku sama Ricardo satu". Jelas Beck menahan emosi.


Vivi akhirnya mengalah dan pergi meninggalkan Aby.


Sumpah serapahnya terdengar dari mulutnya yang monyong sepanjang lorong Rumah Sakit.


Dy kaget mendengar Beck mempunyai harta di Keluarga Romero.


Beck memang selalu bikin Dy terkaget-kaget.


Banyak hal yang Dy belum tahu mengenai Beck. Gama diam saja karena Gama sudah tahu siapa Beck dan bagaimana hubungan Papanya dengan Beck, hanya Gama belum tahu Dy adalah anaknya Beck.


Beck memang sering ke Bali bersama Dy, tapi Beck sengaja menutup akses pertemuan Dy dengan keluarga romero.


Banyak kisah yang akan menyakitkan apabila Dy masuk ke Keluarga Romero.


Sebelum Beck memberi tugas Dy ke Keluarga Romero, Beck sudah berpikir panjang akibat dari tindakannya itu.


Tapi semua harus dilakukan demi kebaikan semuanya dan memang harus ada korban.


Gama membantu Aby turun dari Mobil di bantu oleh Beck.


Dilan menurunkan koper Aby serta barang-barang yang lain.


Mereka menuju life ke lantai 3 Kamar Suite Room.


Dy berjalan duluan untuk membuka pintu.


Perasaan Dy sangat senang, karena Aby bisa Dy rawat. Bagaimanapun Dy merasa punya andil dalam kecelakaan Aby. Mungkin kalau Dy tidak marah-marah


Aby tidak celaka.


" Paa...Aku tidur dimana?". Tanya Dy baru sadar, karena Bed cuma satu.


" Disini dengan Aby, toh Aby lagi sakit". Sahut Beck enteng.


" Tapi kalau Aby tiba-tiba sadar ...". Sahut Dilan pelan sambil tersenyum.


" Kalian ini banyak nonton Sinetron jadinya terus mengkhayal". Tungkas Beck membersihkan tangan di Wastafel.


" Ayo siapa yang mau ngopi angkat tangan, mumpung Aku sekarang baik hati dan tidak sombong". Kata Dilan menuju Coffe maker.


" Bikin tiga saja ". Sahut Gama menuju ruang tamu. Mereka bertiga duduk di Sofa.


Dua orang Room Service masuk membawa pesanan menu makan siang.


Selagi Mereka menata makanan di meja makan Beck menanyakan Gama tentang beberapa hal yang menyangkut Accounting.


Selesai merapikan baju Aby di Almari, Dy langsung duduk dipinggir tempat tidur.


Banyak rencana di otak Dy yang telah tersusun.


Ingin mengajak Aby ke SPA yang ada di Hotel, ingin mengajak Nge gym, ingin mengajak berenang, ingin mengajak ke Pantai. Tapi keinginannya itu tidak disambut baik oleh Aby, semua ditolak.


" Aku tidak butuh". Jawab Aby singkat ketika Dy membeberkan rencananya.


Yach...apa boleh buat, Dy harus sabar karena Aby masih labil.


Aby keluar dari kamar mandi sudah rapi, kemudian Dia ikut duduk disamping Dy.


Dy memandang Aby sambil tersenyum.


" Kita akan makan siang bersama ". Kata Dy mengajak Aby keluar.


" Aku ingin sendiri ". Sahut Aby pendek.


Dy diam. Tidak tahu harus ngomong apa.


Masalahnya Aby banyakan diam kalau bicara cuma sepotong.


" Sayank, apakah Kamu sudah ingat siapa Aku?". Tanya Dy untuk ke sekian kalinya.


Dy berharap Aby ingat, tapi jawaban Aby selalu menggeleng.


" Dy ajak Aby makan". Gama datang menghampiri mereka.


" Aby tidak mau, biarin nanti Aku yang nemani Aby makan".


Sahut Dy beranjak dari duduknya.


*******