
đź–¤Bab.30.
KE BANDARA.
Untung hari ini tidak hujan, Dy mau mengantar Dina ke Airport, setelah itu Dy mau bertemu dengan Mr.x.
Dy memakai Outfit agak Casual, Celana pendek macan tutul, di padukan You Can See hitam polos dan sepatu sandal bertali.
Rambutnya Dy biarkan tergerai panjang.
Tidak lupa kaca mata hitam mempercantik penampilannya.
" Kita sarapan cepat saji saja ". Kata Dy setelah Dina naik ke Motor.
" Gue paling tidak nyaman di bonceng pakai Ninja". Gerutu Dina.
" Jangan banyak bacot, loe pegangan, gue mau ngebut ". Kata Dy sambil memakai helm.
Ninja merah itu menelusuri jalanan yang sudah mulai padat.
" Kita Drive Thru saja supaya cepat ". Kata Dy memasuki Restoran cepat saji.
Dina mau protes tapi gak jadi.
Malas Dina berdebat dengan Anak Bosnya.
Berdebat sama saja bunuh diri, siapa tidak kenal Beck quay, pendiri XPostOne yang banyak menelorkan Intelejen swasta yang mumpuni.
Salah ngomong nyawa taruhannya.
Motor Ninja merah itu keluar dari Restoran cepat saji, kembali menyusuri Jalan I gusti Ngurah Rai.
Tanpa di sadari sebuah Mobil Porsche membuntuti dari belakang.
Aby dengan sigap mengikuti Dy.
Kadang-kadang Aby tertinggal jauh.
Motor Ninja itu disamping larinya kencang juga suka nyalip.
Tapi di perempatan lampu merah Aby bisa mensejajarkan Mobilnya dengan Motor Dy.
Aby mengeluarkan Ponselnya dan mengambil gambar Dy dari samping.
Di otak Aby, sudah ada rencana.
Aby membiarkan Motor Dy melaju kencang dan mengambil jalan ke Bandara.
Sedangkan Aby melanjutkan perjalanan menuju Nusa Dua.
Aby sungguh tidak mengerti akan keberadaan Dy.
Kalau Dy anak haram Papanya, mengapa Dy mau menyamar menjadi Sopir, langsung saja datang ke Mamanya dan mengaku sebagai anak Papanya.
Aby bingung juga mikirin.
Yang jelas saat ini Aby sudah merasa jatuh cinta dengan Dy. Tidak ada alasan apapun untuk merubah pendiriannya.
Siapapun Dy, Aby tidak peduli.
Sama dengan ketidak pedulinya dengan Vivi.
Ponsel Aby berbunyi, panggilan dari Vivi.
Vivi terlalu manja dan tidak Natural.
Semua yang ada di tubuhnya berkat Operasi, tidak seperti Dy yang Natural.
dan selalu wangi.
Tidak terasa Aby sering membandingkan Dy dan Vivi.
Berkali-kali Ponsel Aby berbunyi dan berkali-kali juga Aby matiin.
aby tahu Vivi pasti kesal.
Sampai di Hotel Aby langsung mengontak Dy dan menyuruh datang ke Hotel.
" Aku sudah minta ijin sehari tidak kerja ". Sahut Dy memperlambat jalan Motornya.
" Kamu harus datang, Aku ada masalah". Kata Aby memaksa.
Dy tahu pasti ini akal-akalan Aby, karena tadi malam Dy tidak datang ke Kamar Aby.
" Ya tunggu, Aku mengantar teman ke Bandara dulu ". Kata Dy lewat
Bluetooth headset.
" Ya Aku tunggu ".
Dy ngebut menuju Nusa Dua setelah mengantar Dina sampai Bandara pemberangkatan.
Sampai di Hotel Romero Dy langsung ke Basement.
Dy memarkir motornya dan menggantung helmnya.
Dy naik ke atas mau masuk lewat Lobby.
Pagi ini Dy mau Breakfest di Restoran.
Banyak mata memandangnya dan ada yang bisik-bisik mengatakan bahwa Dy pengawal Aby.
" Siapa yang tidak mau di kawal cewek Cantik, Aku juga mau ". Bisik Mereka, yang rata-rata sekelas Manager dan Asmen ( Asisten Manager).
Dy diam saja tidak mau peduli, Aby terus menghubunginya.
Sehabis Sarapan Dy keluar dari Restoran dan menuju Ruang JM.
Muka Aby sudah cemberut ketika Dy masuk. Dy langsung duduk di Sofa dan membuka kaca matanya.
" Lama sekali ". Gerutu Aby duduk disamping Dy.
" Belum ada dua Jam ". Sahut Dy tersenyum.
" Aku tidak mau tahu, nanti malan Kamu harus ke Kamarku ". Kata Aby menatap Dy
" Gak bisa, Aku bisa mati kalau ketahuan" .
Nah mulai dah Aby cemberut, mungkin ini senjata ampuh Aby untuk memaksa Dy.
Tapi Dy memang tidak datang karena harus bertemu dengan Mr.x untuk memberi laporan.
*****