I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 15



đź–¤Bab.15.


KECURIGAAN


Mobil Pajero itu memasuki Garasi.


Dy langsung ke Dapur datang dari mengantar Nyonya Ida dan Tuan Gama.


" Dy sarapan dulu, nanti Bibi mau ajak bersih-bersih ". Kata Bi Ijah.


" Ya Bi ". Sahut Dy langsung mengambil roti tawar dua lapis, di atasnya diisi telor dadar dan sambal botol.


" Kamu tidak makan nasi Dy??". Kata Bi Narti heran.


" Aku diet Bi ". Sahut Dy tersenyum.


" Bi, Aku duluan naik ke kamar Tuan, mana alat perangnya..... ". Kata Dy tertawa.


Bi Ijah memberikan Dy kemoceng dan sapu. Dy naik keatas, mencari kamar Aby. Pintu tidak di kunci, Dy langsung masuk ke kamar Aby.


Kaca mata dan maskernya Dy taruh di atas meja.


" Capeekk..." Dy setengah teriak.


Dengan kasar Dy merebahkan setengah badannya di tempat tidur Aby, kedua kakinya masih menjuntai.


Dy mulai memejamkan matanya.


Memikirkan cara yang paling praktis untuk mendekati Pak Burhan.


Dy kaget merasa ada yang melempar handuk ke wajahnya.


" Bibik...". Teriak Dy melompat bangun.


Dy tambah kaget karena Aby berada di kamar. Rupanya Aby tadi mandi.


" Maaf Tuan..". Kata Dy cepat keluar, Dy tidak berani memandang Aby yang telanjang dada.


Aby sudah yakin bahwa Sopir ini sama


dengan Cewek yang meringkus penjambret.


Aku akan terus memata-mataimu sampai Kamu tertangkap basah- bisik Aby dalam hati.


Dy berdiri di depan pintu menunggu Bibi naik. Bi Ijah naik pelan-pelan, karena lututnya sakit. Kata Bibi Dia punya penyakit Asam Urat.


Aby keluar dari Kamar berhenti di depan Bibi.


" Bi ganti sepraynya, tadi di tiduri Kucing ".


Kata Aby melirik ke Dy.


Muka Dy merah, Dy di samakan dengan kucing. Hatinya langsung panas.


Dasar manusia sombong, Aku urug Kamu dengan Spray. Gerutunya.


Dy kembali masuk ke Kamar Aby.


Dengan kesal Dy menendang tempat tidur Aby yang tidak bersalah.


Dy tersenyum memandang Laptop Aby yang lupa di bawa.


Tidak butuh waktu lama semua data dari Laptop Aby sudah berpindah ke Flashdisk Agen.


" Dy ganti spray nya". Kata Bibi masuk ke Kamar Aby. Bibi menyerahkan Spray kepada Dy.


Dy mulai bersin-bersin ketika membuka sepray.


" Duuhhh...joroknya yang punya Kamar, dasar manusia Kardus".


Oceh Dy terus bersin-bersin.


Aby tertegun mendengar kata-kata Dy.


Dia kembali karena mau mengambil Laptopnya yang ketinggalan.


" Gak usah di bersihin, itu tugas bibi, makanya jangan menyamar jadi pembantu". Kata Aby mengambil Laptopnya.


Dy kaget mendengar omongan Aby.


" Siapa yang menyamar?". Tanya Dy pura-pura tidak mengerti. Matanya menatap Aby.


":Kamu, apa hubunganmu dengan Papaku?". Tanya aby tidak senang.


" Aku tidak mengerti omonganmu, Aku juga tidak kenal dengan Papamu ". Sahut Dy merasa lega, ternyata cuma salah sangka.


" Jangan bohong, Kamu kesini mengincar harta Papa khan ". Kata Abi memojokan Dy.


" Jangan menuduh sembarangan. Apa maksud perkataanmu". Dy menggali emosi Aby.


Aby diam, Dia merasa kesal karena Dy tidak mengaku.


" Jangan sok munafik, ngaku sajalah ".


Kata Aby.


" Eh..Tuan Aby yang terhormat, Aku tidak menginginkan secuilpun hartamu. Jangan sewenang-wenang menuduhku, mentang-mentang Aku seorang Sopir". Sahut Dy mendekati Aby.


Secara otomatis Aby mundur mepet ketembok, Aby merasa ngeri ingat Dy memukuli penjambret.


" Heh..Kamu mau apa, jangan coba-coba memukulku ". Seru Aby.


" Jelaskan mengapa Kamu menuduhku".


Kata Dy pelan, jarak badan Dy sejengkal dengan Aby.


" Karena Kamu tidak cocok menjadi Sopir".


Kata Aby ragu, Dia tidak berusaha mendorong tubuh Dy.


" Aku tidak percaya, Aku minta penjelasanmu". Sahut Dy memepetkan badannya ke Badan Aby.


Hati Aby berdesir mesra merasakan tekanan dari badan Dy.


Bau wangi tubuh Dy membuat Aby terbuai.


Ingin rasanya Aby mencium bibir Dy yang berada beberapa senti dari bibirnya.


Tapi asrat Aby terhempas bersama hempasan tubuh Aby yang terlempar ke tempat tidur.


Augghhh.....Aby kaget.


" Aku akan menunggu penjelasanmu ". Kata Dy keluar dari Kamar.


******