
đź–¤Bab.61.
SUDAH SADAR.
Perasaan Dy sangat senang karena Aby sudah sadar. Nanti kalau Aby sudah sembuh Dy mau mengajak tinggal di Suite Room, mungkin Dy akan mohon berhenti menjadi Intelijen dan fokus sama pekerjaan Hotel. Khayalan Dy melambung tinggi.
Dokter memanggil Keluarga Aby, Gama dan Vivi dengan cepat masuk kedalam.
Tidak berapa lama Gama keluar mengabarkan bahwa Aby walaupun sudah sadar tapi tidak ingat siapapun.
Aby Amnesia, Dy kembali sedih.
Dy ingin masuk kembali melihat Aby tapi Gama melarangnya karena ada Vivi di dalam.
" Kalau Om mau pulang, Om boleh pulang nanti Saya memberi info tentang keadaan Aby". Kata Gama kepada Beck.
Gama tidak senang kalau Dy terlalu memperhatikan Aby, bagaimanapun Gama masih mengharap Cintanya Dy.
" Kalau begitu Om pulang dulu, nanti Om datang lagi bersama Dy ". Kata Beck mengajak Dy pulang.
Sebenarnya Dy enggan pulang tapi Dy harus pulang karena Mereka baru datang dari Raja Ampat, tidak enak juga dengan anak buah Beck yang lama menunggu.
Sepanjang perjalanan ke Hotel Uvassa Mereka semua diam.
Taxi membelok melewati Scurity dan berhenti di Lobby.
Semua Karyawan Hotel kaget karena Bos besar Mereka tiba-tiba sudah ada di Lobby.
Dua orang Bell Boy dengan sigap mengambil koper Mereka.
Kesibukan terjadi sesat, terutama yang ada di Kichen.
Beck merasa bangga karena tamu Hotel hampir mencapai 90%.
Dy memasukan Kartu Chipnya dan Mereka mulai masuk.
Dy langsung masuk ke Kamar.
Dilan duduk di Living Room.
Di temani Beck.
Dua orang Waiter menyuguhkan kopi, Cake dan Pastry.
Kemudian Mereka menanyakan apa Beck akan Lunch ala carte atau buffet.
"Aku makan siang di Rentoran ". Kata Beck sambil melihat Jam tangannya.
Baru Pukul 11.00 Wib. Waktu Jakarta, berarti di Bali sudah pukul 12.00 pikir Beck.
Dua Orang Cleaning Service datang mulai membersihan ruangan.
Dy keluar menemui Beck di Living Room
Bau harum tubuh Dy membuat Dilan menelan salivanya.
Dy tidak menoleh pada Dilan yang menatap dirinya.
" Aku mau ke Rumah Sakit ". Bisik Dy di kuping Beck.
" Nanti Sore, Kita kesana ". Sahut Beck membuat Dy kecewa.
" Nanti Kita nginap disana, sekarang Kita ke Restoran, kasihan Dilan dari pagi belum makan ". Kata Beck.
Dy turun dari pangkuan Beck.
Ujung matanya mengerling Dilan yang sedang menatap Dy.
Dy masih kesal dengan Dilan yang menipunya.
Kenapa ketika pertama bertemu Dilan tidak mengatakan bahwa dirinya suruhan Papanya. Dasar penipu. gerutu Dy.
Beck menggandeng tangan Dy menuju life. Restoran ada di Lantai dua.
Kedatangan Mereka membuat sedikit heboh, karena tamu-tamu hotel yang sedang makan ikut memperhatikan Mereka dan ikut menganggukan kepala.
Walaupun umur Beck 60 tahun badannya masih kelihatan segar.
Body Beck tinggi besar. Kepalanya botak, wajahnya di tutupi jambang yang di cukur rapi. Mata Beck seperti mata Elang.
Keseluruhan Beck kelihatan sangat berwibawa, bahasa tubuhnya sangat Militer.
Beck dulu adalah Intelijen yang paling di takuti, karena sangat ahli mempergunakan semua senjata Agen.
Dia juga adalah sniper yang di perhitungkan, target berjarak 200meter gugur.
perlengkapan tempur Beck sebagai Sniper seperti pakaian anti peluru, senapan andalan Winchester M-70 yang sudah dilengkapi peredam, teleskop untuk keperluan tempur siang dan malam, peluru-peluru kaliber 7.62 mm yang dibuat khusus.
Membuat Beck waktu itu sangat ditakuti.
Itu masa lalu Beck yang mengesankan.
Beck duduk memisahkan diri karena JM Uvassa Mr Hendrigo mengundang Beck ke Mejanya. Sebagai pemilik Hotel Beck sangat loyal kepada bawahan.
" Kamu marah padaku?". Tanya Dilan setelah ada kesempatan ngomong.
" Ya..Aku kesal kepadamu, kenapa setelah di Raja Ampat Kamu baru buka topengmu.
Apa Kamu takut dengan tendanganku". Sahut Dy.
Dilan tersenyum melihat Dy marah.
Dy semakin dongkol melihat Dilan tersenyum.
Siang ini Dilan tidak mau merusak suasana makannya.
*******