
đź–¤Bab.67.
TIDUR BERDUA
Aby dulu dan sekarang sangat berbeda.
Perasaan Dy juga berbeda.
Kalau Aby yang dulu Dy merasa masih ada perasaan waspada, tidur dengan Aby yang sekarang Dy tidak khawatir.
Tidak ada bantal penyekat di antara Mereka. Tidak ada yang usil dan pura-pura bermimpi supaya bisa menyentuh Dy.
" Yank..minum obat dulu ". Kata Dy mendekati Aby.
" Ya ". Jawab Aby pendek.
Dy mengajak Aby kedalam Kamar.
Menyuruh Aby tidur.
Sebelum tidur Dy berdoa supaya Aby cepat sembuh dan mengenal dirinya.
Dy mengecup kening Aby, Pipinya dan bibirnya. Setelah itu Dy mematikan lampu Kamar dengan lampu Tidur.
Bed ini berukuran king size sangat jumbo.
Aby tidur jauh di Kiri dan Dy di sebelah Kanan.
Zaman dulu kalau pagi burung-burung akan berkicau ceria.
Tapi sekarang bukan suara burung terdengar tapi suara ombak yang menderu
Karena di bawah Suite Room adalah Lautan biru nan cantik.
Sepanjang mata memandang adalah Lautan Biru.
Sudah pukul 09.15 pagi, Dy masih tidur lelap. Aby memandang wajah cantik itu penuh arti.
Kemudian Aby berdiri kembali ke Kichen melanjutkan tugasnya, membuat dua gelas Cappucino panas dan
Dua porsi Sandwhich.
Aby membawa sarapan sederhana itu ke meja makan.
Dy bangun dengan kaget mendapati Aby tidak ada di tempat tidur.
Pertama yang di periksa kamar mandi. Kosong!!.
Dy lari keluar dan merasa lega, Dy melihat Aby duduk di meja makan.
" Sayank...Aku takut Kamu hilang.
Apakah Kamu sudah sadar?, apa Kamu ingat siapa Aku?". Tanya Dy berharap.
Aby akhirnya mengangguk.
" Syukurlah Aku sangat gembira, akhirnya Kamu ingat siapa Aku ". Kata Dy langsung memeluk Aby.
Tidak berapa lama Dy sudah keluar dengan rambut dikuncir kuda dan daster mini dari katun.
Aby tahu Dy pasti cepat-cepat berdandan.
" Kamu membuat Aku sangat bahagia hari ini. Kamu adalah teman sejatiku". Kata Dy memandang Aby.
" Coba Kamu katakan siapa diriku ". Ujar Dy mendekati Aby.
" Kamu adalah istriku". Degg!! Jantung Dy seolah meloncat.
Mulut Dy menganga.
"Sayank, Kamu bercanda khan?". Tanya Dy dengan mata membulat. Dy ingat, tadi baru bangun badannya berada ditempat Aby tidur. Harusnya Dy dipinggir sebelah kanan. Jangan-jangan Aby sempat meraba-raba badannya.
Dy langsung meriang.
"Bukankah Kamu memanggilku Sayank, selalu mengecupku dan membisikan kata cinta di telingaku, itu tandanya Aku adalah Suamimu". Kata Aby.
" Tapi..tapi...". Dy tidak jadi melanjutkan bicaranya. Semua kata-kata yang Dy ucapkan selama ini adalah bohong, karena Dy ingin supaya Aby cepat sembuh.
" Apakah Kamu berdusta padaku?". Tanya Aby sedih.
" Bukan..bukan... Kamu suamiku, Aku sangat ..sangat...sayang padamu". Kata Dy cepat.
" Cuma sayang?, Kamu tidak Cinta padaku seperti kata mu setiap hari".
" Tentu...Aku cinta padamu". Sahut Dy jengah. Busyet dah!!, Aku kena batunya. Pikir Dy.
Aby tersenyum lalu menyuruh Dy menghabiskan sarapannya.
Ingin rasanya Dy kabur dari hadapan Aby.
Dy memutar otak, supaya Aby tidak menganggap Dy istrinya.
Istri itu artiannya sangat luas, bagaimana kalau malam nanti Aby minta jatah??
Waduuhh....Seketika kepala Dy nyut-nyutan.
"Sayang, nanti malam Aku tidur di Sofa, Aku takut mengganggu tidurmu". Kata Dy cepat berusaha menenangkan hatinya.
" Kita adalah suami istri, tidak boleh pisah tidurnya ". Sahut Aby kalem.
Busyettt.... bagaimana ini. Matilah Awak!!.
Kepala Dy tambah puyeng.
Dy duduk sambil memikirkan solusi yang terbaik.
Hanya satu solusinya Aby harus sembuh.
Pikir Dy.
*******