
đź–¤Bab.86.
SUITE ROOM
Aby termenung lesu menganggap bicara Dy sangat menyakiti perasaannya.
Tidak sepantasnya Dy membandingkan dirinya dengan Dilan.
Sebagai seorang lelaki Aby merasa sangat di rendahan oleh Dy.
Salahkah Dia kalau takut dengan kekerasan yang menimpa dirinya ??.
Mungkin bukan Dia saja laki-laki di Dunia yang mengalami Shock pada saat seorang penjahat menodongkan pistolnya.
Aby bangun dan mengganti bajunya, hari ini Dia mau bekerja, Dia sudah sangat tersinggung.
Dia juga tidak takut kalau ada yang membunuhnya di life atau di lorong Hotel.
Lebih baik mati dari pada mendengar hinaan Dy. Gerutu Aby.
" Yank. Kamu mau kerja? ". Tanya Dy menatap Aby heran.
Aby diam ... perempuan apa itu, tidak pernah merasa bersalah sehabis ngomong. Apa Dia mengira Aku patung yang tidak bisa sakit hati. Bhatin Aby.
" Yank... Kamu kenapa?". Dy mendekati Aby. Bau tubuh Dy sehabis mandi membuat Aby terbius sesat, kemudian Aby menepis perasaan sukanya.
" Ya Aku mau kerja, sudah bosan disini". Sahut Aby kesal.
" Aku akan menemanimu....".
" Tidak usah!!". Sahut Aby ketus.
" Yank, ada apa? Perasaan Kamu marah padaku ". Tanya Dy memegang tangan Aby. Aby langsung menepis tangan Dy.
Dy kaget melihat sikap Aby dan mundur duduk di Sofa. Dy tidak mengerti kenapa tiba-tiba Aby marah.
Aby keluar Kamar tanpa menoleh, Dy diam terpaku tidak berusaha melarang Aby. Dy merasa selalu salah di mata Aby, padahal Dy sudah berusaha terus terang apa yang Dy pikirkan atau apa yang Dy lakukan. Dy bukanlah seorang perayu yang pintar mencari muka, di hati A diluar B. Atau mungkin karena Dy selalu terus terang membuat Aby marah. Pikir Dy.
Apa Dy harus mengatakan sebaliknya, misalnya..
.Aby Kamu perkasa bisa melawan penjahat, padahal Aby penakut.
Atau...Dilan jelek, pengecut...padahal Dilan ganteng dan gentlemen.
Aahhh....Dy jadi pusing.
Dy Tidak berselera untuk membuat sarapan, buat apa?? Aby sudah kerja, pastilah Aby breakfest di Restoran.
Biarin Dy gak peduli.
Dy duduk di Sofa menonton TV.
alu mmengambil Ponselnya dan mengecek Instagram, Twitter, WA...tapi Dy tidak ingin membalas DM apapun...
Dy melangkah ke dalam Kamar, tidur-tiduran. Bau badan Aby masih tersisa.
Tadi malam Aby tumben rapi tidurnya, tidak menyentuhnya sama sekali.
Dy juga jadi heran.
Ponselnya berbunyi, ternyata Papanya.
" Papa mau ke Suite Room, Kamu nitip apa?".
" Roti dan Buah ". Sahut Dy senang.
" Tunggu ya Sayank..." Beck lalu menutup Ponselnya.
Dy keluar Kamar, duduk di Sofa sambil mendengarkan lagu dari Playlist.
Pintu masuk sengaja tidak di kunci.
Beck datang bersama Dilan dan Gama, Dy heran mengapa Gama ikut.
Matanya menatap Gama penuh selidik.
Dilan langsung ke meja makan dan menaruh belanjaannya. Sedangkan Gama langsung ikut duduk di sofa.
" Paa... ". Dy memeluk Beck.
" Dimana Aby?". Tanya Beck duduk di Sofa.
" Sudah mulai kerja". Sahut Dy lalu pergi ke mini Bar.
" Dilan, Gama, kalian ambil minuman sendiri ". Kata Dy mengambil minuman ringan untuk Beck.
" Gam..koq bisa ikut Papa gimana ceritanya?". Tanya Dy penasaran.
" Panjang ceritanya. Aku minta maaf kepadamu karena selama ini Aku telah menyusahkanmu ".
"Bukankah Kamu yang menginginkan kematian Aby, apakah sekarang Kamu sadar atau terpaksa sadar karena ada Papaku, nanti setelah Papaku pergi Kamu tusuk Aby ". Muka Gama merah mendengar kata-kata Aby.
" Maaf Dy...Aku ....". Gama tidak bisa melanjutkan kata-kata.
" Sayank, Gama waktu ini tidak mengerti apa yang Dia lakukan. Papa harap Kamu bisa memaafkan Gama, Kita ini saudara tidak boleh saling mendendam bla...bla...bla...".Dy hanya mengangguk, tidak konsentrasi dengan omongan Beck yang panjang lebar.
Dy gelisah karena sudah jam 12siang Aby belum juga datang.
*******