
đź–¤Bab.84.
TERCIDUK
Dilan dan Fery melihat ada 5orang di dalam Ruangan itu.
Wanita setengah abad ada satu, mungkin umurnya sudah mencapai 50tahun.
Seorang gadis umurnya sekitar 24tahun dan seorang laki-laki tua yang tadi membentak Anjingnya menyuruh diam.
Yang lagi satu adalah laki-laki yang membawa Bom.
Dilan dan Fery mau tertawa, ternyata lawan tidak sebanding.
" Kamu goblog, ini tidak asli. Semua Surat ini sudah di salin. Mereka licik.
Dikira Aku bisa di bohongi ". Teriak perempuan itu marah.
" Maaf kak hanya itu yang di kasi". Sahut laki-laki itu.
" Kamu ambil dari siapa ini, Aby atau Dy?". Tanya perempuan itu lagi.
" Bapaknya, Beck...".
.
" Kurang ajar, beraninya Dia ikut campur urusanku ". Sahut prempuan itu marah.
" Mama sabar, jangan terlalu emosi, nanti kolesterol Mama kumat". Terdengar gadis itu menenangkan Mamanya.
Dilan dan Fery saling memberi kode mau masuk ke dalam.
Tapi tiba-tiba ada seorang laki-laki botak masuk kedalam.
" Bagaimana? Sudah dapat surat-suratnya?". Kata laki-laki itu kepada perempuan itu.
" Maaf Pak, ternyata Mereka hanya memberi ini". Kata perempuan itu menyodorkan Surat-surat itu kepada Laki botak.
" Ini tidak bisa, ini bukan aslinya.
Aku tidak bisa menerima ini ".
" Ya Pak, Saya akan iberusaha lagi, tolong bapak mengerti ".
" Tidak bisa begitu Bu, Saya kasi waktu seminggu ini, kalau tidak bisa terpaksa Saya menjadi saksi kunci atas kematian Ricardo ".
" Sabar dulu Pak, Kami akan berusaha ".
Sahut perempuan itu meyakinkan laki-laki botak itu.
Dilan dan Fery sengaja membiarkan Laki-laki botak itu pergi.
Toh Dia akan muncul ke permukaan, kalau perempuan itu tidak bisa memenuhi permintaannya. Pikir Dilan.
" Dasar goblog ". Bentak perempuan itu melempar semua surat itu ke muka laki-laki yang ada bom nya itu.
" Angkat tangan ". Bentak Dilan masuk kedalam. Semua kaget mendengar teriakan Dilan. Fery cepat masuk kedalam dan menodongkan pistolnya.
" Mama, ampun..ampun...". Gadis itu langsung berteriak dan menangis.
Dilan cepat menodongkan pistol di pelipis perempuan tua itu, Dia tahu pasti satpam akan datang karena mendengar suara teriakan gadis itu.
" Jatuhkan senjata dan angkat tangan, semua kumpul disini ". Bentak Fery mendorong kedua Satpam itu.
Kemudian Fery mengeluarkan Borgol dan Lakban.
" Saya tidak bersalah, jangan menembak Saya ". Kata Satpam itu memohon.
" Jangan coba-coba bergerak, semua diam ". Kata Dilan keras.
" Kamu mau merampok Kami atau mau apa ". Kata Perempuan tua itu sangat berani. Sebelum bacotnya merocos Fery sudah menutup mulutny dengan Lakban.
Dilan mengontak Agung supaya Mobil di bawa turun.
Agung dengan pelan menyusuri jalan turun. Mungkin karena longsor jalanan nya menjadi semakin sempit dan sangat berbahaya.
Bersyukur tidak ada Mobil dari lawan arah.
Dan yang membikin lebih mengerikan adalah jurang dangkal di kanan kiri jalan. Salah membelok sedikit mobil bisa terperosok jatuh.
Fery lari keluar Rumah untuk memastikan supaya Mobil tidak lewat.
Setelah Mobil dekat Feri menyuruh masuk kedalam.
Mereka duduk saling berdesakan. Laki-laki yang membawa bom duduk di depan disamping Agung.
Mobil keluar rumah dan mulai menanjak, mengikuti jalan yang gelap.
Dilan merasa lega, karena tugas sudah selesai tanpa perlu ada korban.
Setelah ini Dilan ingin minta cuti dan mengajak Dy pergi ke Raja Ampat.
Dilan sudah berjanji akan pergi ke Telaga Bintang.
********