I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 34



đź–¤Bab.34.


BERTEMU VIVI.


Pajero itu kembali menyusuri jalan yang padat. Mobil melaju sedang.


Ketika sampai di Rumah Nyonya Romero Dy melihat Mobil Expander terpakir di garasi.


Dy masuk ke Dapur mencari Bi Ijah.


" Bi Ijah, jadi gak bersih-bersih". Kata Dy.


" Dy makan dulu, Bibi melihat Dy jarang makan, walaupun makan pasti makan Roti dan Telor dadar". Kata Bi Ijah.


" Nanti Saya makan siang Bi ". Sahut Dy lalu mengajak Bi Ijah kedalam untuk bersih-bersih.


Aby dan Vivi ada di ruang Tamu lagi berbincang-bincang.


Akhir-akhir ini Vivi merasa Aby sering menolak kalau di ajak bertemu, ada saja alasannya


Tapi untunglah hari ini Aby mau bertemu setelah Vivi mengatakan bahwa Papanya ada masalah.


Dy pura-pura tidak melihat keberadaan Aby dan Vivi, Dy langsung naik ke Kamar Aby. Sepintas Dy mendengar pertanyaan Vivi yang menanyakan tentang keberadaannya di rumah Aby.


" Siapa itu Sayank ". Tanya Vivi ketika melihat Dy.


" Sopir Mamaku ". Jawab Aby singkat, matanya menatap Dy yang tanpa mengacuhkan ke beradaannya.


" Sopir saja sombong, apalagi sudah menjadi Bos ". Kata Vivi merasa tidak senang.


Ingin rasa nya Dy menendang mulut lamis Vivi, tapi Dy berusaha sabar, karena Dy masih berpredikat Sopir.


Dy membagi tugas dengan Bibi, Dy membersihkan Kamar Aby dan Bibi membersihkan Kamar Gama.


Dy bersin-bersin ketika membuka Sepray.


" Kenapa tidak memakai masker". Kata Aby tiba-tiba sudah berada di Kamar.


" Malas ". Sahut Dy pendek.


Aby membantu Dy memasang sepray.


" Gak usah bantu, ladeni pacarmu saja". Kata Dy memandang Aby.


Mereka saling pandang.


" Aku lebih senang membantumu.". Sahut Aby pelan, tapi Aby terpaksa turun karena Vivi memanggilnya.


"Tuh ..ladeni calon istrimu ". Kata Dy sambil membanting Bantal.


Aby mendekati Dy, tapi Dy menjauh.


Vivi terus memanggil di bawah.


Satu-satu Dy mengambil kancing Magnetic nya dan di masukin Kantong.


Dy dan Bi Ijah masuk ke Kamar Nyonya Ida, tanpa sengaja Dy menjatuhkan sebuah Lukisan.


Suara pecahan kaca terdengar keras.


Dy kaget, replek tangannya memegang lukisan. Telunjuknya berdarah kena kaca. Aby lari kedalam.


" Dy tanganmu berdarah". Kata Aby memegang tangan Dy dan mengisap darah yang berada di telunjuk Dy.


Vivi, Dy dan Bi Ijah kaget melihat spontanitas Aby.


" Yank...apa-apaan Kamu ". Teriak Vivi.


Aby tidak menggubris ucapan Vivi, Aby terus mengambil Tensoplast dan membungkus jari tangan Dy.


Vivi dengan kasar menarik Aby.


Matanya melotot kepada Dy.


"Dasar Sopir tidak tahu diri, kata Vivi marah besar.


Dy membiarkan Vivi marah-marah tidak keruan.


" Sopir, jangan sok ganjen. Pikirin dulu bingkai Lukisannya.... bisa tidak Kamu ganti. Itu bukan Lukisan sembarangan".


Kata Vivi kembali masuk ke ruang Nyonya Ida.


Dy tidak meladeni Vivi, matanya tertuju kepada pintu Brankas yang berada


Di balik Lukisan.


Bi Ijah sampai ke takutan mendengar Vivi marah-marah. Katanya kasar-kasar dan sangat menghina Dy.


Dy membawa keluar Lukisan yang sudah di bersihin Bi Ijah.


Dan menaruhnya di atas meja di depan Aby duduk.


" Biarin nanti Aku yang membikin bingkai ".


Kata Aby bangun dari sofa.


" Yank.. maksudmu apa, ada hubungan apa kalian berdua ". Kata Vivi marah.


" Kau ingin tahu?, inilah hubungan Kami".


Sahut Dy dengan secepat kilat memeluk Aby dan mengecup bibir Aby.


Tentu saja Aby kaget bukan kepalang mendapat serangan mesra mendadak.


Vivi langsung menyerang Dy membabi buta. Teriakannya seperti orang kesurupan.


Apa yang ada di ruang tamu Dia lempar ke tubuh Dy. Sayang sekali tidak ada yang mengena.


*******