I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 28



đź–¤Bab .28.


TEMAN KERJA


Hujan sudah turun rintik-rintik ketika Dy menyusuri jalan pulang.


Hawa dingin menerpa badannya.


Dy mengencangkan gas motornya, jalanan agak sepi.


Sampai di Home Stay hujan sudah deras.


Dy mengelap Motor Gama seadanya untung warnanya merah, kalau hijau seperti Motor Aby, Dy mungkin menolak membawanya.


Sekitar pukul. 21.15 hujan masih lebat.


Dy akan menyusup ke perusahan Pak Burhan, Dy akan di bantu oleh Dina, Agen XP.17 seorang gadis cantik dari Bandung.


Dy janjian ketemuan di depan Toko Alam Raya.


Dy terpaksa membawa Mobil karena hujan, sebenarnya Dy lebih senang membawa Motor kalau lagi tugas.


Mobil Lambhorgini Aventador itu menembus lebatnya hujan.


Setelah dekat Toko Alam Raya Dy memberi Lampu Dim kepada Mobil Taxi yang ada di depan Toko.


Dy mendekati Mobilnya dengan Taxi didepannya.


Seorang Gadis cantik keluar berlari ke Mobil Dy.


" Sorry.. gue sedikit basah". Kata Dina lalu duduk di Mobil.


" Tidak masalah ". Sahut Dy sambil tersenyum.


Dy menyetel Ac Mobil menjadi hangat.


" Loe sudah siap?". Tanya Dy ingin tahu.


Temannya ini sering Dy ajak kerja.


Dina belum berani mengambil tugas yang besar, karena belum mahir mempergunakan senjata rahasia.


" Gue mah siap terus, masalah rayu merayu gue jagonya". Sahut Dina meyakinkan Dy.


" Oke...Kita goo..". Kata Dy tertawa.


Mobil melaju menuju Perusahan Pak Burhan.


Setelah dekat dengan Perusahan Pak Burhan, Dy mematikan mesin Mobilnya, tapi tidak di rem, Dy membiarkan Mobil melaju pelan sampai di depan gardu Satpam.


PT. Angin Ribut, sebuah Real Estate yang menaungi Prusahan Pak Burhan dan Koleganya.


Dina lari keluar menemui Satpam, hujan sudah agak reda.


Rencananya Dina merayu Satpam supaya Pak Satpam mau membuka Pintu masuk ke PT.


Setelah itu Dy masuk ke dalam PT dan mengambil semua data-data dari Laptopnya Pak Burhan.


Juga memasang alat-alat perekam di beberapa titik.


" Mat malam Pak ". Sapa Dina sampai di Gardu. Pak Gadon adalah Satpamnya Pak Burhan.


" Malam Non.". Jawab Pak Gadon, memandang cewek di depannya dengan mata genit.


Jangankan Pak Gadon, nyamuk yang lewat saja akan ngiler melihat Body Dina yang Bahenol.


Makanya tugas Dina dari dulu hanya seputar rayu merayu.


" Maaf Pak, kalau Ke Sanur lewat mana Pak, soalnya Saya tumben ke Bali ". Kata Dina mengelus tangan Pak Gadon.


Pak Gadon tersenyum simpul dan memasang tampang ganteng.


" Jalan ini terus di ikuti Non, lampu merah belok kiri dan kenceng sampai lampu merah berikutnya.....


sulit menjelaskan soalnya jauh sekali Sanur dari sini. coba Saya tidak tugas langsung Saya antar Non ". Ucap Pak Gadon membiarkan tangannya di elus-elus Dina.


" OW ..gitu ya Pak, berarti masih jauh donk". Sahut Dina.


" Ya Non...masih jauh ". Kata Pak Gadon membalas elusan tangan Dina.


"Pak ada kamar kecil??". Tanya Dina


memepetkan badannya.


" Ada...tapi jauh di dalam Non". Sahut Pak Gadon. Nafasnya memburu.


" Anterin donk Pak ". Kata Dina menarik tangan Pak Gadon.


Tanpa banyak cingcong Pak Gadon membuka Pintu gerbang sedikit dan mengajak Dina kedalam ruangan.


Mungkin sudah sepaneng Pak Gadon langsung mendorong Dina ketembok dan dengan garangnya mencium Dina membabi buta.


Semua di luar Sekrenario. Terpaksa Dina memukul tengkuk Pak Gadon.


Dina kaget melihat Pak Gadon tersungkur langsung pingsan.


Gimana ini......


*******