I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 63



đź–¤Bab.63.


MALAM HARI DI RUMAH SAKIT.


Dilan kembali melanjutkan obrolannya dengan Dy.


Banyak hal yang bisa di ceritakan karena Misi dan Visi Mereka sama.


Dan Hobby Mereka juga hampir sama.


Yang berbeda adalah latar belakang kehidupan Mereka.


Dilan dari orang menengah kebawah dan Dy adalah orang berada yang dari kecil hidup mewah. Seperti burung di sangkar emas.


Persamaan Mereka adalah terpaksa menjadi anak buah Beck.


Kalau Dilan karena uang, tapi kalau Dy karena Beck terlalu ambisius.


" Seberapa sayangmu kepada Beck?". Tanya Dilan tiba-tiba.


" Aku sangat menyayanginya". Jawab Dy pendek.


" Apakah Kamu tahu, betapa sayangnya Dia padamu dan betapa khawatirnya Dia padamu". Kata Dilan menatap Dy.


"Maksudmu?". Tanya Dy mengerjitkan alisnya.


" Sepanjang Kamu tugas selalu ada bayanganku di belakangmu, kemanapun Kamu tugas. Akulah tumbalmu". Sahut Dilan tersenyum tipis.


Dy betul-betul kaget.


Berarti selama ini tugasnya selalu di bantu oleh Dilan dengan diam-diam.


Pantasan tugasnya terasa mudah.


" Aku kasihan kepadamu, Aku akan berhenti menjadi Intelijen supaya Kamu bebas". Kata Dy memegang tangan Dilan.


" Aku sangat mengharapkan!.


Tapi kurasa Aku nyaman menjadi bayanganmu". Sahut Dilan balik menggenggam tangan Dy.


" Gombal...berani Kamu dengan anak Beck quay ". Kata Dy melepaskan tangannya dari Dilan.


Mereka lalu tertawa.


Dy berdiri menuju Mini Bar dan memilih minuman ringan.


" Dilan Kamu minum apa ?". Tanya Dy.


"Aku milih sendiri ". Sahut Dilan ikut memilih Minuman ringan.


" Dy, Kamu tahu gak Minuman andalan Hotelmu?". Tanya Dilan. Dy menggeleng.


" Rice Wine ". enak banget, kapan-kapan Aku akan mentraktirmu". Kata Dilan, sambil memilih minuman ringan.


" Salah.... Aku yang seharusnya mentraktirmu". Sahut Dy tertawa.


Kemudian Mereka kembali ke Sofa dan kembali berbincang-bincang sampai Beck datang.


" Mana bisa tidur siang, Aku kepikiran mau cepat ke Rumah Sakit". Sahut Dy melihat Ponselnya.


Dy membuka Ponselnya, ada beberapa panggilan dari Gama dan WA, DM dari teman-temannya di seluruh Dunia.


Dy kembali menutup Ponselnya.


Malas Dy menjawab, pikirannya lagi sedih kalau mengingat Aby.


Pukul 18.00 Dy, Dilan dan Beck sudah berada di Rumah Sakit. Kata Gama Aby sudah di pindah keruangan perawatan biasa. Hanya Gama yang menunggu.


Dy mendengar dari Beck bahwa Nyonya Ida dan Pak Burhan sudah di tetapkan sebagai tersangka. Di tahan di Polda dulu sebelum ada Putusan Pengadilan.


" Gam..sudah ada perubahan dengan


Aby ". Tanya Dy khawatir


" Masih seperti kemarin ". Jawab Gama lesu.


" Gam, Kamu pulang beristirahat, kami akan menunggu disini". Kata Dy memandang kasihan kepada Gama.


" Ya Gam, Kamu kelihatan sangat pucat".


Timpal Beck. Setelah terus di desak akhirnya Gama mau beristirahat pulang.


Dy memandang punggung Gama yang kelihatan semakin kurus.


Dy yakin masalah keluarganya sangat membebani dirinya.


Beck dan Gama masuk kedalam ruangan.


Aby tidak tidur, matanya kosong menatap kedepan.


" Aby...". Panggil Beck.


Sambil memegang tangan Aby.


Mungkin karena pengaruh obat Aby akhirnya tertidur pulas.


" Seharusnya Kita pagi datang dan menanyakan riwayat penyakit Aby.


Kalau tidak ada kemajuan, Kita bawa ke Singapore". Kata Dy kepada Beck.


" Atau Papa bertanya ke Dokter jaga ".


Saran Dy.


Beck keluar ruangan, mau menanyakan


Dokter jaga.


Beck melihat ada perubahan dari Dy semenjak Dy di Bali.


Dy kelihatan lebih perasa.


*********