I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 11



đź–¤Bab.11.


OM BURHAN.


Seorang laki-laki paruh baya datang membuyarkan rayuan Gama.


" Gam, Mama ada ". Tanya laki-laki itu kepada Gama. Raut wajah Gama yang tadinya cerah berubah kecut.


" Ada Om, didalam ". Jawab Gama singkat.


Laki-laki itu lalu keluar dari ruang makan menuju ke ruang Utama.


Sifat Intelijen Dy keluar, dengan manis Dy mulai mendekati Gama.


" Siapa yang tadi itu ".


" Om Burhan ". Kata Gama singkat.


" Pasti Om Burhan sangat Sayang ke padamu ya, kelihatan dari Dia menatap Kamu ". Jebakan Elisitasi dilancarkan oleh Dy.


" Kebalikannya, Dia itu sangat benci kepadaku ". Sahut Gama menunduk.


" Kenapa bisa begitu? ".


Malas Gama membahas masalah Om Burhan. Dari pertama bertemu sampai sekarang Gama tidak pernah senang sama Om Burham.


Nyonya Ida keburu datang bersama Om Burhan dan Aby.


Mereka mau makan bersama.


" Nyonya....". Sapa Dy santun.


" Kirain Dy belum datang.


Hari ini Dy boleh pulang, karena tidak ada kerjaan. Besok juga Dy boleh libur ". Kata Nyonya Ida tersenyum.


"Ya Nyonya, kalau begitu Saya langsung pamit pulang, sekalian kunci motornya Saya kembaliin". Sahut Dy menaruh kunci Motor diatas meja.


Ujung matanya melirik Abyshaka yang duduk dengan muka acuh.


" Terus Kamu naik apa?". Tanya Nyonya Ida heran.


" Sama teman Nyonya ". Jawab Dy berbohong.


Dy sengaja tidak naik motor, karena pristiwa kemarin.


" Pacarnya ya Dy, Saya baru ingat sekarang Weekend ". Kata Nyonya Ida.


"Ya Nyonya ". Sahut Dy enteng.


Akhirnya Dy keluar dari ruang makan menuju Dapur,.Dy pamit dengan Bibi. Semua Bibi sayang dengan Dy, mungkin karena Dy ringan tangan dan tidak sombong.


Tadi pagi Nyonya memuji penyajian masakan Mereka, yang simpel dan sangat pas. Setelah Bibi mengadu bahwa semua itu berkat Dy, Nyonya langsung melihat daftar menu yang di tempel di tembok Dapur. Biasanya bumbu dan segala ***** bengeknya berantakan, sekarang di atur rapi. Nyonya Ida tambah kagum kepada Dy.


Dy keluar dari Rumah Nyonya Ida dengan banyak pertanyaan.


Seharusnya Dia tetap tinggal di Rumah Nyonya Ida, supaya cepat mendapat informasi.


Tapi badannya terasa pegal gara-gara kemarin berantem.


" Mau pulang Dy ". Kata Pak Adi satpam Nyonya Ida.


" Ya Pak... ". Sahut Dy.


" Naik apa Dy?..". Tanya Pak Adi.


" Naik Ojek Pak ". Sahut Dy.


Dy langsung menuju ke Mas Ojek.


Rasa ngantuk menyerangnya sepanjang jalan. Untung hari ini tidak begitu macet.


Sampai di Home Stay, Dy langsung ke kamar mandi. Dy ingin berendam di Bathtub.


seluruh tubuh Dy terendam air hangat.


lamunannya melayang kemana-mana, terutama pristiwa kemarin.


Dy sangat beruntung punya kehalian bela diri, membuat Dy tidak pernah takut.


Selesai mandi Dy kembali di sibukkan oleh laptopnya.


ponsel Dy berbunyi, panggilan dari Beck.


" Hallo Sayank.... gimana khabarnya?".


" Papaa...koq tumben lebay banget ". sahut Dy heran. belum pernah Papanya berkata semanis madu seperti hari ini.


jangan-jangan Papanya kesurupan Jin Tomang.


" Papa cuma mau nanyain perlakuan keluarga Nyonya Ida ". Beck ngeles.


" Biasa saja Paa...mereka orang kaya, mana peduli ma sopir seperti Aku. yang ada malah Mereka agak sombong". sahut Dy ingat Aby.


" Gitu ya sayank, Kamu yang sabarr...".


" Oke..peluk cium untuk Papaa tersayang.


Aku kangen sama Papa". kemudian Dy menutup ponselnya.


*****