I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 85



đź–¤Bab.85.


SAMPAI DI MARKAS


Beck dan Gama menatap bengong gerombolan pengacau yang selama ini membuat rusuh.


Selama menjadi Intelijen belum pernah ada kejadian selucu ini.


Beck menyuruh Dilan melepas Bom yang berada di Tubuh laki-laki itu.


" Apa mau Sampeyan yang sebenarnya, sampai berani menyewa pembunuh bayaran". Tanya Beck kepada Ibu tua itu, yang tidak lain adalah Ibu kandung Vivi.


Atau Nyonya Jubaedah.


" Aku hanya ingin membebaskan Burhan dan mengambil hak-hak yang seharusnya di dapat oleh Gama. Karena Gama adalah anak Burhan ".


" Semua masalah ini Aku akan serahkan ke Polisi, Sampeyan tidak bisa mengerti kalau di ajak ngomong ". Sahut Beck tegas. Capek Beck menjelaskan bahwa keinginan Mereka itu salah, tindakan Mereka itu salah.


" Kau benci sama Kami, karena Kau punya niat busuk akan menjodohkan Anakmu dengan Aby. Padahal Vivi sudah menjadi calon istri Aby". Suara wanita itu meninggi, mukanya merah saking marahnya. Dari dulu Beck selalu menjadi penghalang kalau Dia mempunyai maksud tertentu dengan keluarga Romero


Beck marah Dy ikut disentil, Dia langsung berdiri dan menelepon Polisi.


Sumpah serapah yang Beck terima dari Nyonya Jubaedah membuat Beck semakin mantap untuk menjebloskannya ke Penjara. VIvi hanya bisa menangis, Dia ikut terciduk gara-gara termakan rencana Ibunya.


" Maaf Vi, Aku tidak bisa berbuat apa.


Semua yang kalian kerjakan memang salah, dan Aku hampir ikut terjerumus gara-gara kalian, untung Beck cepat menyadarkanku". Sahut Gama ketika Vivi minta tolong supaya membantunya.


" Aku tidak ada bukti mengambil Surat-surat kalian, karena kalian memberi surat palsu ". Kata Nyonya Jubaedah lantang.


" Sampeyan cari pengacara, keluarkan semua Argument kalian di Pengadilan nanti ". Kata Beck lalu berdiri.


Satuan Polisi sudah menjemput Mereka.


Beck bebincang-bincang sebentar dengan Polisi dan memperlihatkan Kartu Identitasnya.


Setelah Mereka pergi Beck duduk termenung dengan anak buahnya.


Hanya karena harta membuat Manusia itu lupa akan hakekat hidupnya.


" Aku tidak menyangka lawan Kita ternyata Nenek-nenek tua, tahu gitu Kita tidak usah susah payah menyikat Bom ditubuh orang itu". Kata Fery membuyarkan lamunan Beck.


" Besok Kita kesana mencari Alat Sensor nya dan menitipkan Anjingnya ke Petshop.


Kemudian mengunci pintu gerbangnya" .


Kata Fery.


" Bila perlu nyapu, ngepel dan masak ". Sahut Agung merasa geli.


Mereka akhirnya tertawa, karena terpedaya dengan Imajinasi yang terlampau Extrime.


Ternyata seorang Intelijen pernah juga salah di dalam memprediksi lawan.


Tidak semua persis seperti di Film ada hal-hal lucu yang kadang-kadang membuat Mereka tertawa.


" Aku baru merasa lapar setelah 25tahun menjadi Intelijen". Kata Beck langsung menyuruh Dilan memesan makanan lewat Ojol.


" Aku juga mendadak lapar " Sahut Mereka hampir bersamaan.


Gama mendekati Beck dan duduk di sampingnya.


" Om Aku besok ikut Om ke Hotel, Aku mau minta maaf ke Aby".


Kata Gama membuka percakapan.


" Ya... Kita akan ke Hotel besok ". Sahut Beck merasa kasihan dengan Gama.


" Om mungkin Aku akan mengundurkan diri dari Uvassa, Aku akan mencoba bisnis". Ucap Gama lagi.


" Kamu akan bisnis apa?". Tanya Beck pelan. Gama menunduk. Ingat akan Mamanya dan Pak Burhan di Penjara.


Mungkin Vivi dan Nyonya Jubaedah akan menyusul. Pikir Gama.


" Belum tahu Om ". Sahut Gama lirih.


" Hubungi Om kalau Kamu butuh bantuan, siapa tahu Om bisa menolong. Apapun bisnismu yang penting di tekuni pasti berhasil". Kata Beck.


Gama banyak mendengar nasehat dari Beck. Pikirannya mulai terbuka dan menerima masalah ini dengan lapang dada.


*******