
đź–¤Bab.24.
RINDU DENGAN BECK.
Mobil itu menyusuri Tol Bali Mandara, perasaan Dy terhibur melihat pemandangan yang indah.
Pikiran Dy melayang jauh mengingat Beck Ayah angkatnya.
Beck pasti merasa kehilangan.
Dy kangen Beck, Ayahnya yang kaku tapi sangat menyayanginya.
Dy tidak mengerti kenapa Beck tidak mau menikah di saat umurnya dulu masih muda, kini usianya sudah 60 tahun.
Tentu kesempatan menikah tipis.
Dy ingin Beck ada yang mengurus di hari tuanya.
Dy sendiri jarang di Rumah karena Beck sangat getol memberi tugas.
Padahal di hati kecil nya, dy tidak ingin menjadi Intelijen.
Sebagai perempuan Dy ingin pekerjaan yang menetap dan nyaman.
Pekerjaan ini sangat berbahaya, selalu mempertaruhkan nyawa.
Enaknya Dy bisa keliling Dunia dan uangnya sangat besar.
Mobil memasuki Garasi dengan mulus.
Dy langsung turun menuju Dapur.
Bi ijah memandang Dy dengan mata yang berbeda.
" Kenapa Bi?". Tanya Dy menghampiri Bi ijah.
" Tidak apa-apa ". Sahut Bi ijah melengos.
Dy akhirnya pergi ke Kamar, duduk di pinggir tempat tidur.
Untung cuaca mendung, jadi kamar ini tidak begitu panas.
Dy membuka Ponselnya, ada beberapa panggilan dan DM dari teman-temannya yang tersebar di seluruh Dunia.
Memang sengaja Dy menjalin pertemanan dengan orang asing sekalian mencari informasi keadaan Negaranya.
15 panggilan dari jannet, teman nya waktu Dy sempat tugas di Australia.
Dy kemudian menghubungi Jannet lewat Ponselnya.
"Jan ada apa menelponku ". Kata Dy dalam bahasa Inggris.
" Dy Aku sekarang ada di Bali, Kamu bisa nemani Aku?, Aku datang ke Bali sendiri".
Sahut Jannet.
" Please Dy, Aku baru pertama kali ke Bali, Aku ingin ketemu Kamu". Kata Jannet memohon.
" Oke.. Aku akan datang nanti malam.
Dimana posisimu?". Sahut Dy mengalah.
" Hotel Romero kamar nomor 320 ". Kata Jannet kegirangan.
Dy menutup Ponselnya dengan malas.
Badannya terasa lemas.
Pikirannya jauh, tadi Dy tidak konsentrasi apa yang Jannet bilang. Tapi Dy ingat nomor Kamar Jannet di Hotel.
Nanti Sore Dy juga menjemput Aby kesana, apa tidak sebaiknya Dy sekarang kesana, jadi tidak bolak balik. Pikirnya.
Setelah istirahat sekitar dua jam Dy kembali menuju Dapur.
Pikirannya gelisah, Dy menarik kursi dapur dan duduk dengan kaki menyilang.
Bi Narti dan Bi Ijah saling pandang. Mereka tidak berani menyapa Dy.
Dy mengeluarkan Ponsel dari tasnya mulai mengontak Jannet.
" Jannet, Aku akan datang sekarang. Kamu tunggu Aku di Lobby ". Kata Dy memakai bahasa Inggris.
Kedua Bibi saling mengangguk dan berusaha tidak berisik.
Mereka selalu heran melihat Dy bicara dengan memakai bahasa yang Mereka tidak mengerti.
Tapi Mereka sepakat tidak akan mengganggu Dy.
"Pukul berapa pesawatmu datang??". Sahut Jannet.
Dia baru ingat, tadi pagi Dy bohong mengatakan dirinya masih di Jakarta.
" Aku Tidak bisa memastikan, karena kadang-kadang Pesawat Deley.
Nanti setelah Aku sampai, Aku akan telepon Kamu". Kata Dy.
Kemudian Dy berdiri dan keluar dari Dapur.
Bibi Narti dan Bi Inah baru bisa menarik nafas ketika Dy sudah keluar. Mereka mulai bergosip.
" Sekarang Dy berbeda ya, agak angker". Kata Bi Narti pelan.
" Seperti orang lain ya, jangan-jangan Dy itu Anak haram Tuan, yang menyamar menjadi Sopir". Sahut Bi Ijah.
" Mosok Sopir baunya wangi sekali.
Kuku-kukunya bersih rapi, wajahnya Cantik seperti Artis Televisi". Ucap Bi Narti. Bi Ijah mengangguk tanda setuju.
*******