I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 6



đź–¤Bab.6.


COWOK NYEBELIN


Sore terus beranjak, matahari memerah.


Kerinduannya kepada Beck memenuhi kalbunya.


Kadang-kadang Dy sangat kasihan dengan Beck yang sudah semakin tua.


Walaupun masih gagah tapi Beck sudah kelihatan lamban.


Dy akui Beck adalah orang yang jenius dan sangat disiplin.


" Kamu bisa naik motor Ninja, kalau bisa Kamu boleh bawa motor Ninja yang ada di rumah". Kata Nyonya Ida lagi membuyarkan lamunan Dy.


" Ya Nyonya trimakasih, tapi motornya tidak dipakai oleh Putra Nyonya?".


Sahut Dy menatap Nyonya Ida dari kaca sepion.


" Tidak, Mereka sudah bawa mobil ".


Kata Nyonya Ida.


Sekitar pukul 17.45 baru Mereka sampai di rumah. Lama banget.


Ternyata di Bali macet sekitar jam empat ke atas. Berarti Dy harus mencari jalan alternatif kalau pulang.


" Dy mau langsung pulang?". Tanya Nyonya Ida setelah Mereka turun dari mobil.


" Ya Nyonya ". Sahut Dy cepet.


" Tunggu dulu, Saya WA Abi Dulu supaya kunci motornya di bawa turun". Kata Nyonya Ida menahan Dy..


Tidak berapa lama datang seorang Pemuda ganteng menyerahkan kunci kepada Nyonya Ida.


" Dy kenalin, ini anak Saya yang pertama". Kata Nyonya Ida. Dy mengulurkan tangannya.


Aby cuek, jangankan berkenalan menolehpun tidak mau.


Dasar sombong Kutendang Kau sampai ke Solo!!. Bhatin Dy kesal.


" Saya permisi Nyonya ". Kata Dy mohon pamit. Dy tidak peduli dengan Tuan Muda yang angkuh itu.


Dy menaiki Motor Ninja Aby dengan tenang. Pikirannya melayang kepada Aby, didalam Biodata Aby, Dia sudah punya calon istri yang bernama Vivi.


Tapi Aby adalah korban perjodohan yang tidak pernah di sukai dan tidak berani menolak ke putusan Nyonya Ida.


Dasar Banci!!. Gerutu Dy sibuk memikirkan Aby.


Dy kemudian membelokkan Motornya ke Restoran cepat saji. Drive Thru.


Pilihannya jatuh pada Paket Hebat, terdiri dari Buger, kentang dan Minum.


Antriannya cukup panjang, Dy melirik kedalam, banyak Bule yang makan.


Perasaan banyak sekali Bule di Bali.


Sekitar 10 menit Dy baru mendapat pesanannya.


Sampai di Rumah Dy langsung menaruh Makanannya.


Kemudian Dy masuk kekamar dan menaruh Tas nya.


Ponselnya berbunyi, Beck menelponnya.


" Gimana tugasmu di Rumah Nyonya Ida, apa Mereka terlalu menuntutmu".


Tanya Beck, terdengar suaranya cemas.


" Nyonya Ida baik dan Bibi semua baik, yang sombong ...". Dy tidak meneruskan bicaranya.


" Yang sombong Anaknya?, Mereka tidak sombong tapi Mereka cuek.


Maklumlah Mereka orang Kaya mana peduli dengan Sopir". Sahut Beck bijak.


" Paa.. Aku kangen, Aku sepi disini". Kata Dy mulai merajuk.


" Kamu jangan cengeng, mana ada Intelijen cengengesan". Sahut Beck membuat Dy diam.


" Tapi Aku merasa sedih kalau di Bali, beda sekali dengan Pulau lain.


Disini Aku merasa Sentimentil...". Jelas Dy merasa sedih. Dy tidak mengerti.


Setiap Dy ke Bali pasti perasaan sedih itu merasuk jiwanya.


Cuma Dy tidak pernah mengutarakan masalah itu kepada Beck.


Disamping itu Beck selalu menemaninya.


Tapi sekarang Dy harus sendiri, karena tugas.


" Sabar... nanti juga bakalan hilang perasaan itu. Makanya Papa menaruh Mobil disitu supaya Kamu bisa main keliling, hati-hati saja bergaul ". Kata Beck berusaha menghibur Dy.


" Ya Paa, sepertinya Aku tidak sempat memakai Mobilnya karena Aku capek sekali kalau datang dari kerja ".kata Dy pelan. Beck diam.


" Tapi Aku akan terbiasa, jangan Papa khawatir Aku pasti bisa". Lanjut Dy berusaha membuat suaranya ceria.


" Ya Sayank, semoga Kamu bisa melaluinya". Sahut Beck.


" Oke Paa...I Love You, Aku sayang Papa".


Kata Dy mengakhiri pembicaraannya dengan Beck.


Dy merasa Beck sangat perhatian dan sering menelponnya.


Biasanya Beck tidak pernah menelponnya kalau lagi tugas.


Biasanya Ponsel pribadi disimpan, Dy hanya boleh berkomunikasi memakai GSM atau Ponsel Agen.


Sekarang malah Beck membebaskan Dy memakai Ponsel dan memberikan Mobil untuk bersantai.


Dy tidak mengerti apa maksud dibalik semua itu.


Mungkin juga pekerjaannya tidak berbahaya dan cenderung sangat ringan.


*******