I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 54



๐Ÿ–คBab.54.


MAKAN SEADANYA


Aby masuk ke Kamar ketika Dy lagi mengganti pakaiannya.


Perasaan hati Aby saat ini sedih, galau, karena di tolak cintanya sama Dy.


Tapi Dy tidak mengerti sedikitpun kesedihan hatinya.


" Kamu mau kemana?". Tanya Aby mulai cemas, Dia mencoba bersabar.


" Aku mau ke Bar". Jawab Dy pendek, mulut Dy manyun.


" Dy mengertilah sedikit, Aku tidak mau ke Bar karena Aku banyak pikiran.


Besok Aku harus pulang karena Papa akan di Autopsi jenazahnya.


Kami dalam keadaan tertekan


Mama dan Om Burhan terancam di penjara. Dan semua ini ulahmu dengan Kak Admesh". Jelas Aby membuat Dy mengurungkan niatnya.


Dy kembali membuka pakaiannya dan kembali memakai Lingerie di depan Aby. Dy tidak pernah berpikir perasaan orang yang melihat tubuhnya yang setengah telanjang.


" Aku memang salah, tapi yang kulakukan adalah tugas dari XPostOne dan kalaupun terjadi ke kemalangan dengan Tante Ida dan Pak Burhan itu semua karena ulahnya. Karena Pak Burhan telah menggelapkan Sertifikat Villa Om Ricardo yang ada di Canggu senilai hampir 500miliar dan dua Mobil Expander.


Juga ada beberapa lahan yang sertifikatnya di gadaikan oleh Pak Burhan atas se ijin Tante Ida". Jelas Dy membuat Aby baru mengerti tujuan Kak Admesh.


Aby sadar Mamanya yang salah dan Pak Burhan memanfaatkan situasi ini dengan licik.


" Kalau sudah tahu keadaan begini apa pantas Aku mempertimbangkan perasaan Vivi. Aku sudah bilang sama Vivi Aku tidak cinta". Sahut Aby merubah topik pembicaraan.


" Aku tidak tahu dan tidak mau tahu, karena Aku sudah lapar". Kata Dy enteng membuat Aby gemas.


Ingin rasanya Aby memeluk badan Dy dan menggumulinya, tapi itu tidak mungkin karena Dy mempunyai ilmu bela diri yang canggih. Bisa-bisa Aby hancur lebur kalau Dy sudah mengamuk.


" Kita pesan Pizza atau Chicken katsu". Tanya Dy memandang Aby.


" Chicken Katsu saja ". Sahut Aby pendek.


Aby ingin mempelajari sifat Dy lebih mendalam. Mungkin juga karena Dy kurang sentuhan seorang Ibu, yang pasti Beck terlalu keras membentuk watak Dy.


" Dy. Aku tidak mengerti Intelijen, tapi di dalam tugas Intelijen itu pasti ada pihak yang terbunuh, bagaimana Kamu menghadapi orang yang harus Kamu bunuh". Tanya Aby bergidik.


Sahut Dy menghapal Slogan seorang Intelijen sambil berjalan ke pintu mengambil pesanan.


Sedikitpun tidak tergambar muka sedih di Wajah Dy, atau perasaan takut...


Slogan yang sangat menyedihkan. Pikir Aby.


Pesanan Mereka sudah datang,


Dy mengajak Aby makan.


Aby tidak berselera makan.


" Aby...besok Kamu akan pulang?". Tanya Dy ingat akan Autopsi Jenazah Om Ricardo.


" Ya, tapi Kamu ikut khan...". Aby berharap Dy ikut, Aby tidak ingin Dy jauh darinya.


Belum nanti Autopsi Verbal pasti akan lama sekali.


" Kalau Aku ikut semua orang akan memakiku". Sahut Dy memberi pengertian kepada Aby.


" Aku akan melindungimu, dan akan selalu membelamu". Kata Aby. Membuat Dy menyetujui.


" Bagaimana kalau Vivi mencakarku, memukulku seperti waktu itu?".


Ujar Dy mengakhiri makannya.


" Aku akan menciummu di depan semua orang dan memproklamirkan Kamu adalah Calon Istriku ". Sahut Aby tersenyum.


" You Crazy...". Kata Dy tertawa.


" Ya. Aku tergila-gila denganmu ". Sahut Aby serius.


" Kamu seperti teman-temanku, kalau ngomong suka ngawur. Nanti kalau di dengar Beck quay baru Nyahok". Kata Dy menganggap lucu pernyataan Aby.


Malam ini Aby harus mengalah tidur di Sofa, karena Aby tidak ingin terjadi sesuatu.


Lebih baik mencegah..... daripada...


Nasi menjadi bubur....๐Ÿ˜


*******