
đź–¤Bab.35.
FINISH
Hampir Tiga Puluh Menit Dy menunggu di tempat Pigura.
Bukan Bingkai lukisan ini yang membuat Dy melamun, tapi Brankas di balik lukisan itu. Dy merasa kurang sensitif terhadap lingkungan.
Sebagai Intelijen harusnya Dy tahu bahwa di Kamar seorang Tuan rumah pasti ada Brankasnya.
Apalagi Nyonya Ida adalah istri seorang Kolongmerat, pasti Brankas itu ada.
Setelah selesai membayar harga Pigura, Dy kembali ke rumah Nyonya Ida.
Dy mengeluarkan lukisan itu dari Mobil dan masuk kembali ke ruang tamu.
Di ruang Tamu masih ada Vivi dan Aby.
Vivi berdiri ketika Dy masuk, dengan garang Vivi menghadang Dy.
" Ku mohon jangan bikin masalah ". Kata Aby, sambil memegang Vivi.
Tentu saja Aby takut kalau Dy mengeluarkan Ilmu kungfunya, bisa-bisa Vivi babak belur.
Vivi berontak dan berusaha mencakar Dy.
" Sopir tidak tahu diri, dasar perempuan gatal, pelakor ". Seribu umpatan di lontarkan oleh Vivi. Semua nama hewan di kebun Binatang di sebut oleh Vivi.
Aby sibuk menenangkan Vivi yang dimakan cemburu.
Sebenarnya Dy bisa dengan mudah membungkam mulut Vivi, tapi Dy tidak mau melakukan itu. Seorang Intelijen sejati tidak boleh sembarang bertindak.
Dy masuk ke ruang Nyonya Ida, Dy tidak jadi membuka Brankas karena Aby keburu datang.
" Kamu bisa memasangnya?". Tanya Aby mendekati Dy.
" Tidak perlu di bantu, jaga peliharaanmu supaya tidak mengamuk". Sahut Dy kesal.
Dy tidak tahu kenapa Dy kesal kepada Aby.
" Jangan khawatir Dia sudah pulang ". Jawab Aby, menatap Dy.
" Baguslah....". Kata Dy pendek.
" Apa maksudmu tadi ". Tanya Aby.
Dy sudah tahu pasti Aby akan bertanya masalah Dy mengecup Aby.
" Kenapa kamu takut mengatakan yang sebenarnya?, apakah Kamu menganggap Aku Kakakmu?". Tanya Aby sinis.
" Apa maksudmu?". Dy jadi tidak mengerti dengan tingkah Aby yang berubah-ubah.
" Ngaku sajalah Kamu anak haram Papa". Kata Aby.
Dy langsung tertawa sinis.
" Aby...Aby... Kamu ini lho, tidak ada kapok-kapoknya menuduh Aku. Nuduhnya yang bermutu dikit lah ". Sahut Dy membuat Aby kesal.
" Trus Kamu siapa?, Aku tidak percaya kalau Kamu cuma Sopir. Tidak ada Sopir yang menaiki Lambhorgini atau Sopir yang membayar tagihan Hotel ". Kata Aby mengeluarkan unek-uneknya selama ini.
" Ow...itu, jadi Kamu sudah tahu siapa Aku?". Tanya Dy menatap Aby.
" Aku yang bertanya, siapa Kamu apa tujuanmu di rumah Kami, tidak mungkin orang sepertimu mau jadi Sopir kecuali ada maksud jahat. Papaku seorang Kolongmerat banyak yang mengincar ke kayaannya". Kata Aby penuh emosi.
Dy diam, baginya hinaan, rasa curiga dari orang lain itu sudah biasa.
Sebagai Intelijen Dy harus bersabar dan kalau tidak kuat mendengar lebih baik pergi. Kadang-kadang Dy merasa berada di titik jenuh menanggapi ke curigaan Aby.
" Aby, Aku dari tadi mendengar caci maki dari pacarmu dan sekarang Kamu menghinaku sebegitu rupa. Trimakasih...kalian berdua memang pasangan yang cocok". Kata Dy keluar dari Kamar Nyonya Ida.
Dy merasa lelah lahir bhatin.
Dengan setengah berlari Dy menuju Mobil, Dy ingin ke Home stay, ber istirahat sebelum menjemput Nyonya Ida.
Sampai di Home Stay Dy langsung masuk Kamar.
Dy langsung merebahkan dirinya di tempat tidur.
Bunyi Alarm mengagetkan Dy, dengan malas Dy bangun dan langsung menuju Kamar mandi.
Sebentar lagi Dy harus menjemput Nyonya Ida dan Gama.
GSM nya menyala.
- Finish. Menyingkir dari sana-
Ini pesan dari Beck, berarti Dy harus segera keluar dari rumah Nyonya Ida.
Perasaan gembira menyelimuti hati Dy.
*****