I'M Number Six

I'M Number Six
Eps. 81



đź–¤Bab.81.


CEMBURU


Aby sangat berterimakasih dengan Admesh, atas semua bantuannya memulihkan kepercayaan orang kepada Perusahan Romero.


" Kak salam buat Mbak dan Mama Tami. Kapan-kapan pasti Aku kesana".


Pesan Aby ketika Admesh pamit mau kembali ke Ubud.


" Kamu harus datang, Mama selalu merindukanmu". Sahut Admesh menepuk bahu Aby.


Mereka akhirnya berpisah.


Aby mulai melanjutkan pekerjaan.


Tidak begitu banyak yang harus dikerjakan, karena Admesh sudah menyelasaikannya.


Sudah Jam istirahat, Aby mau makan bersama Dy di Suite Room.


Dy sudah memesan makan Siang untuk Mereka berdua.


Ada perasaan sedikit takut pada saat Aby


berada di life, karena keadaan sepi. Tapi Syukurlah semuanya aman.


Aby memasukan Kartu Chipnya dan membuka pintu. Suara Dy tertawa membuat Aby ingin tahu siapa yang diajak tertawa.


" Aby ini Dilan, sini duduk ". Seru Dy berdiri dan mengajak Aby duduk disampingnya.


" Dilan..Om Beck mana?". Tanya Aby berusaha ramah. Aby tidak begitu senang melihat Dy terlalu akrab dengan Dilan.


" Masih di Markas, Aku di suruh Standby disini". Sahut Dilan hormat.


" Beck terlalu mengada-ada, Dy saja sudah cukup nenjagaku". Kata Aby berusaha supaya Dilan pergi.


" Biarin saja Dilan disini Aku ada teman, tadi saja Kita berdua berenang ".


Deegg!!. Jantung Aby mau copot mendengar pernyataan Dy. Terbayang Dy memakai Bikini yang minim.


Aduhhh....perut Aby mendadak kenyang sebelum makan.


" Maaf Aby, Aku takut menolak, Dy khan anak Bosku ". Kata Dilan berusaha membela diri. Aby tidak menyahut, Dia berusaha setenang mungkin.


" Kita juga berjanji akan ke Raja Ampat.


Dulu Kita kesana tapi belum ke Telaga Bintang ". Dy nyerocos lagi membuat Aby semakin panas.


" Kapan kalian ke Raja Ampat". Tanya Aby menatap Dilan.


" Aby ..Dy, Aku permisi dulu, Beck mungkin membutuhkanku". Kata Dilan cepet.


" Lho koq pergi, belum Kita makan siang". Sahut Dy betusaha menahan Dilan.


" Kapan-kapan Aku kesini lagi ". Kata Dilan melangkah keluar setelah mengambil Tas ranselnya.


Lebih baik kabur daripada melihat Perang Dunia ke 3. Pikir Dilan.


Perasaannya lega setelah keluar dari kamar Dy.


Bersamaan Dilan keluar, Room Service datang membawa pesanan Aby.


Dilan merasa aneh melihat gelagat Room Service itu.


" Mau masuk kedalam?". Tanya Dilan kepada Orang itu.


" Saya membawa pesanan Pak Aby". Jawab Orang itu memaksa masuk.


"Nanti dulu Pak, Saya akan memeriksa dulu apa yang Bapak bawa". Kata Dilan menghadang.


" Bapak Siapa?". Tanya Orang ini tidak senang.


" Saya saudaranya ". Sahut Dilan bohong.


Tidak seorang Karyawan akan menyebut nama Aby, pasti kalau ditanya Mereka akan mengatakan Pak JM atau Pak Manager. Disitulah letak kecurigaan Dilan.


Mendengar ribut-ribut Aby dan Dy keluar.


Tapi sudah terlambat, seorang laki-laki menodongkan Pistolnya kepada Dilan.


Dy sama Aby sangat kaget melihat pemandangan itu.


Aby merasa sangat terguncang, keringat dingin membasahi bajunya.


" Aku tidak akan mencelakai kalian asal kalian mau memberi semua data-data dan Surat wasiat ". Kata orang itu keras.


" Sabar sobat, masalahnya Kami tidak tahu Surat yang mana Anda maksud ". Sahut Dy tenang.


" Jangan banyak cingcong. Surat atau Nyawa Aby melayang". Ancam orang itu.


Aby merasa kenal dengan suara ini, tapi dimana. Masalahnya orang ini memakai masker.


Seluruh badan Aby bergetar, belum pernah Dia melihat Orang menodongkan Pistol kecuali di Film Action.


********