
Sementara itu, dari arah tangga darurat, Alex terus melangkah gontai akibat nafasnya yang tersenggal senggal.
"Sialan! Capek juga naik tangga segitu banyaknya! Huh...." batin Alex menggerutu. "Coba tadi gue tunggu lift sampai kebuka aja bag---"
"Capek ya, Bos? Kan tadi gue udah teriak manggil Bos kalo pintu lift sudah terbuka. Sampai gue dimarahi pak satpam di bawah sana lagi. Ckckck.... Bos bos... Makanya fokus, jangan mikir aneh aneh aja. Tuh, gue baru aja dari kamar Rose. Ayo deh gue anterin biar jangan salah masuk ke kamar mayat," celoteh Jhonny panjang kali lebar dari A sampai Z.
"Kampret lo, Com! Cepetan gendong gue aja! Enggak kuat jalan lagi nih kaki. Capek!" sahut Alex merengek persis seperti anak kecil.
"Enak aja! Emang gue almarhum Mbah Surip jadi tak gendong kemana mana? Udah buruan. Bos udah ditunggu bininya tuh. Sakit katanya bekas jahitannya. Masa gak kas--- Lah! Kabur aja dia," kekeh Jhonny melihat tingkah sang majikan.
********
"Sayang, ini aku," lirih Alex saat wajah cantik istrinya sudah berada di pandangan mata.
"Eh, udah pulang? Maafin aku, Lex. Aku gak hati hati pas turun tangga. Jadinya----''
"Ssstttt.... Udah, sayang. Enggak usah diomongin lagi. Ini udah takdir kalo emang anak kita harus lahir dengan prematur." potong Alex mengecup kening Rose.
"Iya, tapi aku...." sahut Rose menatap wajah sang suaminya dengan mata berkaca kaca. "Aku sedih karena dia gak bisa sama sama dengan kita sekarang, tapi malah di ruang perawatan bayi, karena harus masuk ke dalam inkubator." lanjut Rose menumpahkan air matanya.
"Sayang..... Ini kan sebentar aja. Nanti kalo berat badannya udah cukup, dia bisa berkumpul bareng dengan kita." jawab Alex menenangkan. "Eh, tapi dia cewek atau cowok ya? Soalnya baterai hapeku dari semalam lowbat, Sayang. makanya tadi aku gak bisa nelpon papa buat tanyain kabar kalian. Pas aku telepon pake hape kapten Pilot Adit juga si papa malah bilang rahasia. Kesal kan?'' gerutu Alex dan Rose tersenyum melihat wajah suaminya.
"Anak kita perempuan, Mas suamiku sayang... Matanya persis kayak kamu, tapi aku hanya bisa ngasih dia inisiasi dini aja tadi. Terus dibawa sama suster," jelas Rose dan senyum bahagia mengembang dari bibir Alex.
"Alex, hemph!'' tanpa permisi Alex ******* bibir Rose dan setelah puas, rentetan kata bahagia pun keluar dari pita suaranya.
"Aku sangat mencintaimu, Rose Van Houteen. Terima kasih sudah memberiku satu keturunan yang cantik dan ini juga pasti bakalan buat mama super bahagia----"
"Iya, mama emang bahagia! Sangat bahagia sampai enggak mau keluar dari ruangan anak kalian. Untung aja papa langsung bicara sama kepala rumah sakit ini waktu mamamu nangis nangis. Maka anak kalian akan di bawa ke kamar ini bersama dengan inkubator dan satu perawat khusus untuk merawatnya sebelum Rose bisa bergerak bebas. Gimana? Papamu ini keren kan?" sahut tuan Guen yang masuk ke dalam ruangan itu dengan merangkul istrinya.
"Papa serius?!'' pekik Rose setelah menelaah semua ocehan ayah mertuanya itu.
"Seribu riu, Nak!'' sahut Guen terkekeh.
"Ang.... Makasih, Pap. I love you." sahut Rose dengan linangan air matanya yang jatuh tanpa bisa dibendung.
"Sama sama, sayang. Papa cuma mau yang terbaik buat keluarga kita, sekaligus takut juga sih, kalo anak kalian berlama lama di sana terus tertukar. Nanti jadi kayak sinteron aja putri yang tertukar. Benar kan?" seloroh tuan Guen masih saja berusaha melucu.
Mereka berempat pun tertawa lepas di sana, dan sekali Rose bersyukur atas berkat kasih Tuhan di dalam hidupnya.
Tak berbeda dengan Alexander The Laode, entah mengapa ia pun sangat bersyukur dengan keadaan keluarganya yang sangat hangat seperti sekarang.
"Permisi. Maaf ini kami mau mengantarkan bayinya." ujar seseorang dari balik pintu.
"Oh, iya. Mari masuk, Sus." sahut tuan Guen bergeser ke arah sofa dan tak lupa menggandeng tangan Nyonya Milea.
"Baik, Pak. Saya pasang dulu peralatan inkubator ya?'' ujar perawat laki laki mulai mencari lobang colokan listrik. Ia pun melakukan segala sesuatunya dengan cepat dan tepat, laku setelah itu datang seorang perawat wanita membawa bayi mungil nan lucu dan cantik.
"Anak Papi. Sini, Sus! Tolong berikan sebentar sama Maminya. Dari tadi nangis terus ingat anaknya yang beda kamar." kekeh Alex mengerlingkan sebelah matanya pada Rose.
"Aku gak mau dipanggil Mami, Lex. Aku maunya dipanggil ibu aja." Namun, Rose malah memajukan bibirnya ke depan dan mengungkapkan keberatan di sana, membuat Alex membuka lebar mulutnya, begitu juga Nyonya dan Tuan The Laode.
"Terus aku dipanggil apa? Ayah?" tanya Alex dan Jhonny tertawa di ujung kursi dan sibuk mengisi baterai hape.
"Ye enggaklah. Ayah itu pasangannya Bunda. Kalo Ibu, Ya gandengannya harus Bapak dong. Benar kan?'' sahut Rose menahan kekehannya.
"Enggak! Aku gak mau dipanggil bapak! Pokonya aku maunya di panggil Papi dan kamu harus dipanggil Mami! Enggak ada bantahan apapun juga. Titik!" tegas Alex dan seluruh yang bernafas dalam kamar rawat inap itu tertawa mendengar ocehan Alex.
Sampai sampai sang perawat wanita yang datang dari belakang dengan menggendong bayi perempuan itu ikut terkekeh, sembari membuka masker penutup mulutnya.
"Kamu?! Siapa yang suruh kamu datang ke kamar ini lagi, hah?!" lalu berhasil membuat Nyonya Milea histeris seketika.
"Papa! Aku gak mau dia yang tiap hari urusin cucuku disini, Pap! Pokoknya dia harus diganti! Aku gak mau dekatan sama perawat ini. Pokoknya enggak mau!'' dan repetan bersahutan pun kembali seperti beberapa saat lalu di ruang perawatan bayi.
Ya, begitulah gambaran lainnya dari keluarga The Laode. Nyonya Milea sudah berstatus sebagai seorang Nenek, tapi masih saja mulut tak berhenti beraktivitas seperti burung beo.
********
Lima tahun kemudian......
Heppy Birthday, Celine.....
Heppy Birthday, Celine.....
Heppy Birthday.....
Heppy Birthday.....
Heppy Birthday, Celine.....
"Ayo sayang tiup lilinnya." seru Master of Ceremony melalui pengeras suara.
Anak perempuan yang kini tepat sudah berusia lima tahun itupun meniup lilin di tengah cake bertingkat, dan riuh tepuk tangan kini membahana mengisi rumah mewah milik keluarga The Laode tersebut.
Ya, Celine Angeline The Laode. Begitulah nama anak pertama yang dilahirkan oleh Rose Van Houteen. Saat ini ia tengah belajar di taman kanak kanak dan selama lima tahun, anak perempuan itu tinggal bersama omanya, Nyonya Milea di Jakarta karena Alexander The Laode dan Rose Van Houteen harus pindah ke Sidoarjo untuk memimpin pabrik alat alat berat milik sang ayah di sana.
Dikarenakan Nyonya Milea akan merayakan pesta ulang tahun cucu kesayangan, maka Alex dan Rose yang sedang mengandung pun datang ke Jakarta.
"Gimana sama pabrik di sana, Lex?'' tanya Nyonya Milea di tengah acara.
"Baik, Ma. Alex lebih suka tinggal di sana daripada di Jakarta. Apalagi karyawan karyawan pabrik udah seperti saudara semua. Beda bangat sama gambaran pabrik lima tahun yang lalu saat sabotase jangka panjang itu terus terjadi dari jaman papa membangun perusahaan."
"Oh, Ya? Kamu serius, Lex?" kaget tuan Guen berhenti menyantap kue tart potongan kedua yang berikan Celine padanya tadi.
"Tanya aja sama Rose, Pap. Soalnya dia juga sekarang aktif dibeberapa acara para istri istri karyawan pabrik loh, Pap."
"What? Acara istri karyawan pabrik? Maksudnya arisan arisan?!'' tanya Nyonya Milea tak kalah kagetnya di sana.
"Bukan arisan, Mam. Tapi lebih ke bazar, PKK, Posyandu tiap bulan, juga acara keagamaan gitu. Ya, walaupun beda keyakinan, tapi kan enggak enak kalo Rose abaikan undangan mereka, Mam. Soalnya tanpa karyawan, jelas dong pabrik bukan apa apa. Iya kan, Mam? Jadi Rose mulai bantuin Alex di Sidoarjo dengan cara gitu deh, Mam." jelas Rose dan kedua orang tua Alex pun saling berpandangan.
"Tapi kan karyawan di sana gak hanya laki laki. Ada juga wanita," tanya Nyonya Milea penasaran.
"Iya, Mam. Mereka juga kadang gabung kok pas acara libur besar kayak lebaran atau natal gitu. Kan lebaran kurban kemarin, si mushola pabrik potong sapi 5 ekor sama kambing 10 ekor, Mam. Jadi deh malamnya kami bikin acara halal bihalal, setelah pembagian kurban dari pagi sampai sore. Nah, yang masak masak untuk acara halal bihalal di malam harinya ya para istri istri karyawan, serta solidaritas dari para karyawan wanita di pabrik itu. Cuma gitu deh, Mam. Yang banyak bantuin, karyawan cewek dari mess. Yang pada pulang ke rumah pada banyak yang gak datang." cerita Rose, benar benar membuat Nyonya Milea dan Guen takjub di tempat.
"Pantesan Alex betah tinggal di Sidoarjo ya, Mam? Orang orang sana pada welcome sama mereka berdua. Jadi papa gak salah nyuruh kamu pegang kendali di sana duluan dong, ya? Kamu jadi belajar bagaimana cara menjadi pemimpin yang tangguh, dan ini terbukti dengan indeks harga saham kita sejak Januari sampai Oktober yang semakin membaik," ujar Guen begitu bersemangat.
"Ah, papa bisa aja. Ini belum seberapa kok dari kerja keras papa selama ini. Soalnya dari dulu Alex perhatikan, Papa itu paling jago memperbaiki sesuatu yang sudah hampir hancur. Mulai dari masalah sabotase enam tahun lalu, terus Alex yang gagal sampai pindah jadi General Manager di Sidoarjo lima tahun lalu, terus berhasil bikin harga saham The Laode Corporation masuk lima besar kan tahun lalu?" sahut Alex menatap sang Ayah, ''Alex harus lebih banyak belajar dari papa sebenarnya. Cuma ya mungkin caranya harus dimulai dari yang bawah dulu," lanjut Alex diiringi dengan kelakar, setelah telapak tangannya mengelus punggung ayahnya.
Mereka berempat pun tertawa bersama, dan begitulah kisah keluarga The Laode tersebut. Setelah dua bulan pulang dari acara ulang tahun sang putri, Rose melahirkan seorang bayi laki laki yang sehat dan anak itu di beri nama Bryan Christofer The Laode.
Sesudah melahirkan melalui proses yang sama seperti kelahiran Celine yaitu seksio caesarea, Alex meminta persetujuan kepada kedua orang tuanya untuk tidak menambah keturunan lagi, karena memang Rose sendiri yang menginginkan hal tersebut.
Awalnya Tuan dan Nyonya The Laode membantah keras keinginan tersebut, tapi dengan berat hati mereka pun memberi ijin karena alasan Rose yang sangat masuk akal.
Alhasil, Rose pun kini menjalani proses ikat kandungan, meski wanita dua anak itu sangat berat untuk melakukannya.
Rose mencoba berpikir logis tentang sifat Alex yang sangat menyukai olahraga di tempat tidur, terlebih lagi postur tubuh lelaki itu sama sekali tak berubah kendati ia sudah berubah berstatus dua anak.
Rose tidak ingin mendapatkan kata penyesalan di kemudian hari, walaupun Alex sudah sering kali berjanji jika ia tidak akan menduakannya.
-------------- THE END--------------