
" Ehem, jadi gini, Lex. Aku ini kabur dari rumah karena paman kandungku mau menikahkan aku sama anaknya. Kan, selama papa dan mama udah gak ada, memang paman aku itu yang membesarkan dan membiayai semua urusan sekolahku. Cuma... Anehnya kalau sampai aku harus balas budi dengan menikah dengan sepupu kandungku, Itu menurut kamu gimana, Lex? " sahut Rose yang mulai menjelaskan.
" Iya, aneh bangat dong menurutku. Kalian sepupu kandung lagi. Biasanya kata orang orang jaman dulu, kalau nikah sama orang yang masih ada hubungan, bisa bisa nanti anaknya lahirnya cacat. " oceh Alex menjawab kalimat panjang Rose, tetapi jawaban itu sukses membuat bulu di sekujur tubuh si cantik menjadi meremang.
" Astaga, Lex! Lihat nih tanganku dua duanya karena kamu ngomong kayak gitu barusan, bikin aku merinding ih! " jawab Rose yang langsung mengangkat kedua lengannya dan memperlihatkannya pada Alex.
Tak urung, hal tersebut pun membuat Alex sedikit terkejut, dan segera membalas ucapan Rose. " Ih, kok bisa gitu ya, sayang? Hahaha.... Gemas, ih! "
Dengan spontan, Alex pun mengangkat tangan kanannya ke atas, mengarahkan ke wajah cantik Rose dan segera mencubit pipi kiri. Kebersamaan mereka saat itu, bagai sebuah candu untuk sang CEO, ingin terus terjadi di hari hari berikutnya.
Rose pun terus saja bercerita tentang penyebab kenapa kedua orang tuanya bisa meninggal dunia. Tentang apa yang dia harapkan mengenai melanjutkan kuliahnya, dan tentu saja Alex mendengarkan semua penjelasan itu dengan seksama sembari mencari solusi.
" Kamu tinggal di apartemenku aja kalau gitu ya, sayang? Gak aku tempati juga soalnya. Mau ya? " pinta Alex meraih kedua telapak tangan Rose dan meremasnya dengan pelan.
" Janganlah, Lex! Nanti aku malah merepotkan kamu. " Sedikit terkejut, Rose sebenarnya merasa sangat tersanjung dengan pengorbanan Alex, tetapi yang keluar dari bibirnya malah sebuah penolakan halus.
Rose merasa tidak enak hati karena mereka baru saja berkenalan. Namun, bikan Alexander Van Laode namanya jika keinginannya itu ditolak begitu saja.
Alex kemabli merayu Rose untuk menyetujui keinginannya. " Jangan pernah membantah ucapanku. Kamu mau kuliah atau gak, Hm? Aku bisa bantu kamu, kok. Percaya sama aku ya, sayang. "
" Tapi aku mau berusaha sendiri, Lex."
" Rose.... Aku benar benar akan bantu kamu dalam hal keuangan dan apapun itu, sayang. Aku ngomong serius ini. Asalkan--- "
" Asalkan apa, Lex? "
" Asal setiap hari kamu mau melakukan seperti tadi. Aku suka bibirmu ini, Rose. Kamu mau, kan? " kata Alex, mengusap bibir Rose dengan ibu jarinya.
Sepersekian detik kemudian, Alex memberanikan dirinya untuk mengecup bibir Rose, lalu perlahan tapi pasti, gadis itu pun membalas ciumannya. Awalan yang hanya biasa saja, tetapi lama kelamaan, pagutan keduanya pun berubah menjadi semakin menuntut.
Ketika pasokan udara di dalam paru paru Rose mulai menipis, dengan terpaksa ia memberi sebuah kode kepada Alex, dan kedua bibir yang saling bertautan itu pun terlepas.
" Lex .... "
" Iya, sayang? "
" Kamu--- "
" Jadi, kamu mau ya tinggal di apartemenku aja? " lalu ia kembali berkata kata, membujuk, bahkan kali ini ibu jari sang CEO sudah mendarat mulus di bibir Rose , membelainya di sana.
Logika yang melarang keras, nyatanya mampu berkhianat hanya dengan perlakuan halus. Penolakan Rose beberapa saat lalu, ternyata kini pergi entah kemana, berganti dengan anggukan kepala dua kali banyaknya. Ia merasakan getaran lain di dalam hatinya berupa sebuah kenyamanan, sedikit kelegaan dan bercampur rasa senang bercampur jadi satu.
" Ya, Tuhan! Apa mungkin aku sudah jatuh cinta sama Alex? Ini gak boleh terjadi, Tuhan. Dia pasti laki laki yang punya banyak cewek. Kamu harus anggap dia itu majikanmu karena biaya hidup sama uang kuliahmu dia yang akan bayar nanti, kan? Maka dari itu, kamu jangan berharap lebih ya, bodoh? " Saat kedua mata mereka kembali bertatapan, yang Rose bisa lakukan adalah sibuk berkata kata, tetapi semua itu hanya mampu ia lakukan di dalam hati saja.
Detik itu juga setelah Rose dengan ikhlas hati menyanggupi permintaan Alex, membuat sang CEO pun segera melesat ke kamar mandi dan mengguyur seluruh tubuhnya.
Perasaan laki laki berusi dua puluh lima tahun itu menjadi hangat seperti kucuran air yang keluar dari pancuran kamar hotel dan tentu saja itu karena sosok Rose. Kebiasaan berlama lama di bawah pancuran pun ikut hilang seketika, berganti dengan mandi kilat ala kadarnya.
Selesai mandi, Alex pun keluar dengan hanya memakai boxer hitam, dan handuk kecil yang dipakai untuk mengeringkan rambutnya. Akan tetapi, hal itu membuat Rose menjadi sedikit terganggu.
" Loh, sayang! Kamu mau pergi kemana? Kan kita mau siap siap ke apartemenku? " kata Alex ketika melihat Rose berdiri dari sofa dan hendak melangkah.
Masih dengan posisi membelakangi, Rose pun menjawab pertanyaan itu tanpa berniat untuk membalikkan tubuhnya sedetik pun.
" Eh, iya. Ak--aku tunggu di luar aja ya, Lex? Ka--kamu pakai baju dulu. Aku--- "
" Astaga! Jadi karena hal ini? Apanya yang perlu dipermasalahkan sih, sayang. Kamu kan dari tadi udah lihat sekaligus udah merasakan si junior. Apa kamu mau nambah lagi? Atau kamu pengen yang lebih daripada itu? " jawab Alex lengkap dengan kekehannya, melangkah lebih dekat ke arah dimana Rose berdiri.
Terlihat tubuh Rose sangat menegang di kedua bola mata Alex dan sungguh itu begitu menarik bagi dirinya. Debaran jantung pun terus saja berlari kencang, bahkan bisa saja sedikit lagi akan melompat keluar.
" Gg--Gak usah nambah lagi ya, Lex? Besok aja. Kamu bilang jatah gituannya sehari cu--cuma sekali saja kan? " jawab Rose sedikit terbata, kikuk dan entah mengapa kini kakinya terasa sangat lemas seakan tak bertulang.
Berbeda dengan Alex, ia malah sibuk mengeluarkan tawa riuh dari suaranya dan terasa bergemuruh mengisi setiap sudut kamar hotel. Lantas tanpa bisa dihindari, tubuh Rose pun kini berada di dalam pelukan hangat sang CEO tampan.
" Lex, Aku---"
" Sebentar saja kok, sayang. Aku janji gak akan berbuat lebih kali ini. " sanggah Alex mengeratkan pelukannya. Namun, tiba tiba saja ponsel milik Alex berdering keras di atas meja nakas dan ia pun mulai menjadi kesal dengan keadaan itu.
Nama Jhonny tertera di sana bersama sebaris angka dan hal itu benar benar semakin membuat Alex geram. " Apaan sih, Jhon?! Lo gak ta---"
" Ini mama, Alex! Cepat kamu turun ke lobby dan ikut pulang sama mama, atau mama yang naik ke atas sekarang? Kamu udah balik dari Singapura bukannya langsung kerja malah asyik asyik an masih sama cewek ya, Lex?! Kamu mau mama permalukan cewek bayaranmu itu lagi kayak tempo hari? Cepat turun sekarang! " Alex mengangkat panggilan itu dan begitu terkejutnya dengan kedua bola mata yang hampir terpelocok keluar begitu saja.
Skakmat!!!!!