
Namun, Alex berusaha mencari informasi sendiri, dengan membuka dua kaca mobil yang dibagian depan. Ia tahu Rose adalah gadis polos, tetapi dulu Nani pun sama seperti itu. Tak ingin tertipu lagi, maka kali ini ia harus lebih waspada.
"Rose, tunggu dong! gue mau minta nomor hape lo!" pinta Boy pada Rose sembari memegang tangan gadis itu.
"Nomor hape? buat apa, Boy?''
"Ya, buat gue save di hape gue dong, Rose. Kalo entar kita berdua diterima kan bakal teman satu jurusan kita nanti. Masa kamu cuma ngasih nomor hape kamu ke Riri doang, sih? Kita ini kan teman juga." jelas Boy, melancarkan rayuan mautnya.
Rose pun tersenyum lebar dengan perkataan Boy, dan segeralah meraih ponsel miliknya dari dalam tas.
"Oh, lo gak hafal? Nomor baru pasti nih? Ya udah mana hape lo? Nanti biar gue aja yang masukin nomor hape gue, terus gue miscall pake hape lo,'' sahut Boy, dan Rose pun setuju lalu memberikan ponselnya.
Bersamaan dengan itu Alex keluar dari dalam mobil dan tanpa tedeng aling aling, Ia langsung merampas ponsel Rose dari tangan Boy.
"Sialan!''
"Alex?!"
Brugh!
Sebelah tangan sang CEO bahkan langsung memberi satu bogem mentah di wajah tampan Boy, lalu semakin brutal menghajarnya.
"Kutu kupret! Siapa lo, Hah?! Ngapain lo minta minta nomor hape cewek gue?! Lo kira dia gak punya cowok? Gue ini cowoknya dia tau!" Alex berteriak keras, sembari masih berusaha menonjok wajah Boy.
Rose yang panik pun segera memeluk erat tubuh Alex dan berteriak kian histeris di sana.
"Alex! Udah, Lex! Udah!'' Rose semakin erat memeluk Alex dengan tujuan menghentikan aksi kekerasan itu.
"Gak! Lepasin aku, sayang! Biar aku kasih pelajaran nih cowok! Berani beraninya dia ngedekatin kamu, Sialan!" jawab Alex ingin menghajar Boy lagi.
Namun, kesabaran Rose ternyata sudah berada dititik puncak, Sehingga tanpa di duga, ia pun bertindak di luar dugaan Alex.
"Terserah kamu, Lex! Kalau kamu masih mau mukulin dia? Aku bakalan gak mau kenal sama kamu lagi! Aku mau pulang ke Surabaya sekarang juga!''
Alex yang mendengar perkataan itu pun secepat kilat menghentikan aksinya, lalu berbalik hendak mengejar Rose.
"Awas lo, ya?! Kalau masih berani ngedeketin cewek gue, bakalan gue habisin lo!'' Alex mengancam di antara langkahnya yang akan mengejar Rose.
Alex lantas berlari, kemudian menggendong gadis itu masuk ke mobil.
"Lex, Astaga!" teriak Rose meronta, karena ulah Alex yang menggendongnya seperti mengangkat karung beras.
"Ck! Diam, sayang!" pekik Alex meremas bokong Rose dan terus membawanya ke mobil. Gadis itu pun pasrah pada sikap keras kepala si lelaki, berniat untuk tidak mau bicara lagi dengannya.
Alhasil, Alex berhasil membuat mulut Rose mengoceh kembali, sebab mobil yang dia kendarai melaju dengan sangat cepat di atas rata rata.
"Lex, jangan ngebut ngebut! Aku takut!" itulah ucapan Rose setelah ia diam beberapa saat, tetapi Alex tidak mau mengindahkan dan tetap melajukan mobil tersebut dengan sekencang mungkin, hingga membuat Rose akhirnya pasrah di tempat duduknya. Setengah jam berlalu, akhirnya mereka sampai di depan gedung apartemen milik Alex.
"Ayo, turun!'' suara Alex penuh penekanan.
Alex mencengkal lengan gadis itu dengan kasar, setelah lebih dulu turun dan membukakan pintu mobil untuk Rose.
Lagi lagi tak mau mendengarkan ocehan Rose dan tetap menyeretnya dengan kasar. Setibanya di depan pintu apartemen, ia langsung menekan tombol akses pintu dan masuk ke dalam.
"Siapa laki laki tadi?!" amuk Alex tak terbendung.
"Teman, Lex. Dia itu teman baru aku di kampus."
"Teman apa yang mesra bangat kayak gitu? Kamu bohong kan? Aku gak suka, Rose! Aku paling gak suka dibohongi!''
"Aku gak bohong, Lex! Lagian apa hak mu melarang aku untuk berteman dengan cowok lain?'' tanya Rose menatap manik mata Alex yang terlihat sedang membara di sana. Wajah itu tiba tiba saja berubah kikuk, karena kini tatapan mata si cantik pun memancarkan letupan bara api kemarahan yang tak kalah darinya.
"Ya..... aku gak suka aja!'' bingung Alex.
"Gak suka? Kita ini kan bukan sepasang kekasih, Lex. Kenapa kamu mesti gak suka?'' heran Rose.
"Iya, memang! Tapi kenapa kamu bilang aku gak boleh dipuaskan sama cewek lain waktu itu? Kalau bukan karena kamu suka sama aku, itu apa namanya?''
SkatMat!
"Eh?! Ya, itu... itu...." Rose terbata mendengar perkataan Alex.
"Duh.... Nih, anak! Masa gue harus bilang se detail mungkin kalo gue suka sama dia dan pengen dia cewek gue? Apa tadi dia gak dengar pas aku marahin cowok brengsek itu? Kan jelas jelas aku bilang dia itu cewek gue! Ampun deh, Rose! Benar kata si Jhonny. Elo itu polos bangat. Jadi pengen gregetan buat pengen tidurin kamu!" batin Alex menggigit bibir bawahnya. Ia menatap wajah cantik si pujaan hati dengan intens dan kakinya tak dapat berhenti untuk semakin mendekati tubuh Rose.
"Rose..... Aku tuh suka sama kamu. Aku juga sayang kamu, makanya aku gak mau kamu di deketin cowok lain. Aku gak suka, Rose. Aku takut kamu diambil orang lain. Tolong kamu ngertiin perasaan aku. Bisa, kan?'' Alex menatap dua manik mata Rose, dan di detik berikutnya, ia meraih tubuh gadis itu lalu ciuman menggebu pun terjadi di sana.
"Emph...." Rose pun melenguh karena ******* bibis sang CEO.
Dengan sebelah tangan, Alex menuntun tangan Rose untuk membelainya dan termasuk si Jun dan gadis itu kini merasakan apa yang sedang terjadi.
"Rose....." lirih Alex setelah melepas tautan bibirnya.
"Hem...."
"Si Jun udah kangen bangat sama kamu, Rose! Mau dong di belai seperti biasanya."
"Ah.... Kamu tu, Lex! Habis merayu, terus minta di belai. Gak mau ah," rajuk Rose.
"Ya, Sayang.... Kita kan sekarang udah resmi pacaran. Kok sama pacar sendiri pelit, sih," rayu Alex.
"Pacaran? Sembunyi sembunyi pasti kan? Kamu yakin mau pacaran sama aku?''
"Kok gitu ngomongnya? Ya, kita... Em.... ya kita emang harus backstreet dulu, sayang? Soalnya kan kamu tahu kayak apa mamaku. Kasih aku kesempatan buat rayu mama dulu ya, sayang? Aku serius sama kamu dan aku mau kita bisa sampai menikah terus punya banyak anak. Kamu mau kan, sayang?''
Oh, So Sweet....
Rose begitu terenyuh mendengar ucapan Alex dan dengan lembut ia mengusap wajah tampan di depannya itu dengan lima jemarinya.
"Aku mau, Lex. Aku mau menjadi istri kamu." Rose lantas menggandeng tangan laki laki itu ke dalam kamar dan segera memberikan aoa yang Alex inginkan di sana.
"Ough... ****! Terus, sayang... Udah mau out... Sayang, iya gitu! Rose.... ach.... ach..... Rose.... Rose.... Ough!''