
Alex berusaha membuat suasana santai dulu agar dia bisa pelan pelan menceritakan yang sebenarnya. Saat Alex hendak memulai percakapannya, malah sang Ibu yang menanyainya duluan.
"Lah, terus kopernya mana? Udah kamu kasih ke Mba Suri toh? Kok gak kedengaran suara mobilmu tadi? Untung kamu masuk kesini. Kalo gak, ya mama mana tahu kalo kamu sudah pulang. Iya gak, Pap?''
"Iya. Gak ketuk pintu dulu lagi, Mam. Kalau tadi Papa lagi makan punya Mamamu gimana? Pintunya kan----"
"Pap, udah! Cerocos aja! Ssstt..." Nyonya Milea geram dengan adu mulut asbun suaminya.
Kembali ketiganya melepaskan tawa keras di sana, sampai rasa lucu itu terhenti ketika Alex mulai bercerita.
"Alex kesini bawa pacar Alex Mam. Dia ada di bawah. Alex mau kenalin dia sama Mama dan juga Papa."
"Wah.... kamu serius, Lex? siapa dia?'' Nyonya Milea begitu antusias dan segera menutup majalah di pangkuannya.
"Itu, Mam. Yang kemarin Alex kasih lihat fotonya sama Mama tempo har----"
"Apa kamu sudah gila, hah? Sudah berapa kali Mama bilang jangan macam macam kan, Lex? Mama gak mau turun ke bawah. Jangan harap!'' Nyonya Milea akhirnya tetap duduk di kursinya, lalu kembali membuka lembaran majalah fashion terbaru langganannya.
"Pa...."
Sementara Guen The Laode hanya bisa mengangkat kedua pundaknya dan itu benar benar sangat mengecewakan sang putra yang sudah membujuk keduanya hampir setengah jam.
"Coba kamu pikir baik baik, Lex! Dia itu mahasiswi dan kabur dari Surabaya. Siapa yang tahu alasan dia kabur ternyata memang benar karena di paksa kawin sama Akiu - nya(Pamannya), ya kan? Kalau ternyata dia habis bunuh or----"
"Dia buka seperti itu, Ma! Tokong jangan jelekin Rose terus! Alex mau dia, Ma! Alex sudah kecanduan sama mulut dia!'' jawab Alex membuat Guen berdiri dan menghampiri keduanya.
Bule Spanyol itu pun bertanya. "Kecanduan gimana?''
"Alah, Papa ini! Gak usah sok polos, ya? Ini anak keturunanmu, makanya hobinya diemut aja! Kalian berdua ini memang aneh. Sudah sana ajak dia pulang. Bayar tarifnya berapa dan-----"
"Mama! Alex gak main main ini, Ma!? Alex bahkan tadi siang udah hilang perjaka sama----"
"Apa?'' Namun, jawaban demi jawaban membawa keadaan menjadi semakin runyam, Bahkan Nyonya Milea sampai murka, hingga dia lekas berdiri dan menarik kerah kemeja sang putra. "Kamu jangan gila, Alex! Kenapa kamu mau tidur dengan ****** itu, hah?! Mama kecewa sama kamu!''
"Tapi, Alex juga udah ngambil perawannya, Ma! Kami sama sama baru pertama kali melakukan itu dan tidak pakai alat kontrasepsi apapun! Alex mau dia hami anak Alex. Jadi kalo Mama sama Papa gak setuju, tolong anggap Alex bukan anak kalian lagi, dan mulai detik ini pun semua hata The Laode Corporation silahkan berikan saja pada orang lain!'' tegas Alex berbalik dan pergi dari sana.
Oh, Tuhan. Suara berat Guen The Laode selalu terasa seperti mantra, hingga Alex acap kali tak berkutik dengan perintah sang Ayahnya. Sejak dulu selalu saja begitu. Dulu puncak ketegangan saat Alex menolak untuk menggantikan posisinya pun dapat segera ia atasi, dan jangan katakan jika saat ini pun, Guen The Laode bersikap egois pada kebahagiaan putranya sekali lagi.
"Pa.... Alex cinta sama dia...."
"Ikut, Papa kalau gitu!" ujar Nyonya Milea lekas mengejar kedua lelakinya, ''Mau kemana kalian? Mama gak akan kasih restu sampai kapan pun!''
"Milea, Diam! Aku masih kepala rumah tangga di keluarga ini. Sudah cukup sekian lama kamu lebih dominan dalam mengambil beberapa peranku. Jadi sekarang tolong dengarkan pendapat anggota keluarga lain, terlebih lagi pendapatku!''
"Sekarang ceritakan kenapa sampai kamu bisa jatuh cinta sama dia. Papa mau dengar lebih detailnya lagi, Lex," suara Guen mulai membuka pembicaraan.
"Memangnya kenapa, Pap?" Alex yang merasa risih pun bertanya, karena hal tersebut jelas tak biasanya antara hubungan ayah dan anak lelakinya itu.
"Papa hanya ingin tahu, Alex. Pacarmu itu kan bakal jadi menantu Papa kalo memang kalian berjodoh. Jadi, biar bagaimanapun papa harus jelas bagaimana ceritanya kalian bisa sampai ketemu dan yang terpenting bagaimana perasaanmu ke dia. Jelas?'' sahut Guen menatap kedua manik mata hitam Alex yang pria itu dapatkan dari Nyonya Milea.
Helaan nafas berat Alex terdengar ditelinga Guen. Tetapi ia tahu, itu semua karena sang putra tak ingin menceritakannya. Namun, ini adalah cara jitu menurutnya. Dengan begitu ia dapat mengetahui, apakah Rose baik atau tidak untuk dijadikan calon pendamping hidup anak semata wayangnya.
"Papa gak akan bisa kasih kamu restu untuk hubungan kalian, kalo kamu gak mau jujur sama Papa, Lex." ucapan itu membuat Alex tertegun, ''Papa juga pernah berada di posisimu saat ini. Mamamu adalah wanita yang sangat ditentang oleh Grandma dan Grandpa, sehingga kami memilih untuk pulang kembali ke Jakarta dan membangun Thel Laode Corporation dari nol! Mamamu jelas adalah wanita tangguh menurut Papa, sehingga segala pencapaian itu bisa Papa dapatkan hingga kini kamu juga menikmatinya. Jadi katakan saja semua, Alex. Papa masih memegang teguh prinsip lebih baik jujur daripada tidak sama sekali. Disepanjang hidup Papa, walaupun nanti akan ada goresan luka di sana."
Perasaan Alex mulai menghangat, ketika sang Ayah meyakinkannya. Alhasil, pelan gapi pasti, Alex mulai membuka semua cerita tentang awal perkenalannya dengan Rose, juga bagaimana ia bisa jatuh cinta pada sosok polos nan candu itu, hingga urusan tusuk tusukkan pun tak luput dari mulutnya.
"Hm, Kamu masih perjaka? Wah, Papa gak nyangka bangat. Papa pikir kamu----"
"Ya elah, Papa! Alex itu sukanya cuma di **** dan diisap, dielus aja selama ini, Pa. Cuma pas udah pacaran sama Rose, gak tau kenapa bisa sampai pengen bangat main tusuk tusukkan gitu," potong Alex, sukses membuat Guen kembali bingung dengan bahasa anaknya.
"Main apa kamu bilang tadi, Lex? Main tusuk tusukkan? Apa itu? Kamu tusuk pacar kamu pakai jarum? Atau?''
Oh, Tuhan! kekehan kembali membahana seketika dari taman belakang rumah mewah tersebut. Ia selalu lupa saat sedang berbicara dengan sang ayah yang tak seberapa paham tentang bahasa kekinian, dan berusaha menjelaskan hal tersebut dengan cara bahasa isyarat lewat kedua tangannya.
"Pap, main tusuk tusukkan itu yang kayak gini.'' lalu hebolah tawa sang ayah, akibat dari tangan Alex yang membentuk bulatan juga memasukkan jari telunjuk yang lain ke dalamnya.
"Terus enak gak?'' goda Guen The Laode.