I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 47



"Oh, Tuhan! Jangan biarkan Rose pergi ke tempat lain selain pulang ke apartemenku! Aku bisa gila kalau sampai dia pergi ke tempat yang aku gak tau!" teriak Alex benar benar frustasi dengan keadaan Rose yang sudah lebih dulu pergi, saat ia hendak menemuinya di ruang tamu.


Kala itu muntahan amarah juga sudah Alex keluarkan pada sang ibu, karena ia begitu yakin jika Nyonya Milea adalah dalang dari aksi minggat yang Rose lakukan.


Tut..... tut..... tut....


"Halo, Bos?''


"Lo, dimana Jhon?'' kepanikan membuat Alex menelpon si anak buah kesayangan.


"Ada di Depo, Bos. Kena----"


"Sial! Gue kira lo lagi indehoi sama cewek di apartemen. Gue mau nyuruh lo ngecek Rose di----"


"Lah, kenapa dia, Bos? Udah malam gini. Bukannya tadi pas gue pulang kasih kesaksian di kantor polisi, dia sama Bos mau ke rumah ketemu Nyonya sama Tuan?'' sahut Jhonny terkejut.


"Iya, sih. Tapi gak tau tuh tadi Nyokap gue bilang apa ke dia. Kabur kali gara gara dikasari Mama," lirih Alex dan Johnny mengeraskan rahangnya.


" Gue bilang juga apa kan, Bos? Mendingan dari awal Bos dengerin omongan gue! Rose itu cewek baik baik, Bos. Nah, iya kalo Nyonya cuma suruh pulang aja tadi. Kalo ternyata di tampar kayak si Nandi dulu gimana? Bos yakin dia gak bakalan kabur kemana gitu yang jauh?''


Deg.....


Jantung Alex seakan dicabut keluar dari tempatnya ketika Jhonny berkata seperti tadi.


"Bos! Woi, Bos?! Hal----"


Klik


Hal itu bahkan membuat Alex mematikan sambungan telepon, karena pikirannya sedang kacau saat ini.


Tut..... tut.....tut....


Namun, hal tersebut tak membuatnya mengutak atik ponsel pintarnya, dan kali ini ia memberanikan diri untuk menelpon nomor Rose.


"Ck! masuk nih. Tapi kok gak diangkat sih? Nyebelin bangat Mama! Argh!" lagi dan lagi Alex mengumpat, hingga memukul setir mobil sport miliknya akibat rasa kesal yang tak terbendung.


Akan tetapi, Beberapa menit kemudian alarm di otak kecilnya berbunyi dan sangat nyaring sekali lagi ia mengambil ponsel yang sempat ia lempar ke atas dasboard mobil tadi.


"Mana nih GPS gue. Untung aja ingat sama aplikasi satu itu. Huft... semoga aja beneran ketemu sata si sayang. Aduh.... sumpah, ya! Yang kayak begini kalo ke ulang terus terusan sampe dua kali lagi karena ulah mama ? Gue bawa Rose kawin lari aja sekalian! Bodoh amat sama harta yang bakalan gak aku dapat lagi, intinya bawa aja ijazah gue dari TK sampai S1 kemarin. Beres, kan? Tinggal cari kerjaan di kantor kantor orang. Masa iya sih gue gak diterima kerja? Jadi model juga bisa kali gue. Gak pake ijazah juga gak kenapa napa kalo mau jadi model, iya kan?" monolog Alex, entah pada siapa di sana.


Lima menit berlalu dengan keadaan fokusnya yang terpecah jadi dua akibat melakukan dua kegiatan menyetir mobil dan memainkan ponsel, akhirnya ia mendapatkan dimana letak keberadaan ponsel dan posisi Rose.


"Loh, kok di apartemen? Ini beneran si sayang ada di sana atau bagaimana ini? apa jangan jangan dia gak bawa hape ya tadi? Kok cepat bangat sampainya?" kebingungan sekali lagi menghampiri Alex, "Ah, masa bodo! Intinya hape Rose ada di apartemen. Jadi kita harus goes kesana deh sekarang. Kali aja dapat jatah secelup lagi kan enak. Iya gak, Jun?''


Sementara di tempat lain Rose masih sibuk memandangi ribuan bintang dari atas balkon kamar apartemen, tetapi tak ada niat dalam hatinya untuk bertindak bodoh seperti sore tadi.


"Jadi kamu itu habis kembali ke prinsip awalmu, Rose. Benar apa yang ibunya Alex bilang tadi. Kamu sih yang mau diajak pacaran sama anaknya. Sudah tahu semua orang kaya itu biasanya begitu. Malah kamu ngelunjak, Rose. Mendingan kamu biarin aja kalo minta kamu puasin terus si Jun nya. Kan memang dia yang biayai kuliahmu. Asal tetap pakai mulut. Jangan pakai si dedek yang dia kasih sebutannya itu buat punya kamu, Rose! Bisa hamil nanti kamu terus gak dinikahin, mana ada gereja yang kasih restu kalo sampai nikah di bawah tangan. Kalo pun ada, gak bakal berkah pernikahannya. Jadi kamu sebagai cewek ya harus bisa kendalikan dirimu dong. Gitu aja kok repot, Rose! Buang rasa cintamu itu ke laut sana... Belgedes sama cinta! sakit kan jadinya? Hiks....." air mata Rose juga akhirnya tumpah di akhir monolog dengan tema menguatkan diri.


Dengan sisa tenaga, Rose berdiri dari kursi yang hampir lima menit ia duduki selepas pulang dari rumah mewah Alex menggunakan ojek dan kini dua kaki menyuruhnya melangkah ke arah dapur.


"Goreng telor aja deh, aku lapar," gumamnya lekas mengambil sebutir telor dari kulkas. "Aku pikir tadi bakalan diterima dengan baik, terus diajak makan. Eh, ternyata beneran galak ibunya. Alex gak bohong sih kalo gitu. Kasihan sih, berarti dari dulu semua cewek yang selalu di pacarin selalu gini. Aku jadi sed---"


"Kamu diapain sama mama tadi, Say--''


"Astaga naga!''


Prang....


"Aish.... pecah kan mangkoknya!" pekik Rose tapi Alex semakin mendekat kearahnya.


"Jangan pedulikan mangkok sialan itu, Rose! Jawab aku, tadi kamu diapain aja sama mamaku?!'' kesedihan mendalam bercampur rasa bersalah, membuat emosi Alex tak terkontrol.


"Apaan sih, Lex? Lepasin tangan aku. Sakit tau ini!''


"Kamu di apain, sayang? Kamu tadi bicara apa aja sama mama? Kenapa kamu sampe pulang duluan?" Alex mengulangi pertanyaannya.


Sayangnya, Rose tak mau menjawab ucapan Alex, selain menatap manik mata hitam yang masih memancarkan kobaran cinta yang besar untuknya.


"Aku lapar, Lex. Nanti aja bahas hal yang gak penting kayak gitu, bisa gak sih? Tugas kuliahku masih banyak dan kalo kamu datang cuma buat ini, mendingan kamu pulang aja. Oke?''


Bingo!


Degupan jantung Rose sangat tidak terkontrol ketika rentetan keberaniannya mencuat seperti tadi. Sayang sekali sikap seperti ibu membuat si raja rimba tersulut emosi, sehingga satu ******* liar dari Alex pun tak dapat ia hindari.


"Alex---- Hemph!" suara Rose tercekat di tenggorokan.


Alex tak peduli dengan itu, dia semakin liar memagut bibir seksi yang sudah hampir tiga bulan menjadi candu baginya. Kendati lengan Rose terus memukul punggul belakangnya, tetapi itu tak membuat sang CEO menghentikan aksi panasnya.


Alex bahkan sudah mengangkat tubuh Rose ke counter dapur, lalu ciuman pun dari bibir ke sepanjang leher jenjang si cantik dan berhasil membuat libido keduanya muncul tiba tiba.


Akal sehat Rose seakan hilang tersapu gelombang gairah ketika Alex dengan lancang membuka paksa kemeja yang ia kenakan hingga seluruh kancingnya terlepas dan tentu saja berhasil memainkan gunung kembarnya.


"Alex----"