
" Sini, Buruan sini!!! "
Ira pun berusaha melempar senyum kikuknya, akan tetapi usai kedua telinganya mendengar perintah Alex, kini wajah cantik itu menampilkan sebuah seringai yang cukup tajam.
" Hem.... apa gue bilang tadi kan? itu juga lo pengen akhirnya, Alex! Gue tahu lo pasti ketagihan sama permainan gue yang begitu lihai ini. Pakai sok belagak jaim lagi. Untung aja lo gak pernah mau melakukan lebih dari itu. Kalau gak, pasti sedikit lagi, gue udah jadi nyonya Alexander Van Laode, dengan alasan klasik yang akan gue buat yaitu gue hamil anak lo! Uh.... Gak sabar nih aku menunggu di belai sama lo, Lex. " batin Ira terkekeh keras, puas dengan semua dugaannya tentang Alex.
Merasa aneh dengan sikap Ira yang hanya diam mematung di tempatnya, sekali lagi suara keras Alex pun berada di sana.
" Heh, Lo itu dengar gak sih, apa yang barusan gue bilang? Cepat sini nih! Kenapa malah jadi senyum senyum sendiri disitu, hah? "
" Si...siap, Pak. Ba...baik. " kini Ira pun menjadi salah tingkah, akibat tertangkap sedang tersenyum mesum di depan Alex.
Sang sekretaris itu lantas melangkah mendekati tuannya, kemudian ia pun mendekati Alex, dan melakukan apa yang si Alex perintahkan.
" Sssh... Ah, enak! Ough, yeah! "
Tak ayal, hal itu sukses membuat Alex mengerang, bahkan saat ini ia sudah memegang surai panjang yang berada di kepala Ira dengan keras.
Tik tok tik tok tik tok....
Lima menit pun berlalu, tetapi yang terjadi tidak sesuai dengan semua harapan Alex. Cucuran keringat membanjiri di sekujur tubuhnya, padahal pendingin ruangan sudah bekerja sebaik mungkin, bahkan sudah berada dilevel paling dingin.
" Cepat dikit, Ira! Gue benar benar udah gak tahan nih! Yang santai dong! sakit! " kesal Alex.
Ketika Alex tak kunjung mendapatkan apa yang ia harapkan, ia pun sekali lagi bertitah. Akan tetapi, hingga lima belas menit berlalu, acara puncak yang ia inginkan itu tak kunjung datang juga.
" Sudah deh, cukup! Tambah pusing aja kepala gue yang ada. Hari ini si jun ngambek kali. Gak tahu kenapa diam aja dia. Sampai lecet begini lo, Ra! Sengaja kan, lo? " titah Alex melepas si jun dari Ira.
Merasa sudah sangat maksimal dalam melayani Alex, tentu saja Ira ikut menjadi kesal dengan tingkah tuannya dan menjawabnya pula.
" Gak gitu juga kali, Pak. Kan itu juga sudah biasa sama saya. Cuma.... Maafkan saya ya pak soalnya gak bisa bikin bapak puas hari ini. "
" Hm, gak apa apa. Lo gak salah deh. Yang salah si jun aja kali. Udah sana lo lanjutin kerjaan lo aja. Jangan lupa ingatkan gue soal meeting tadi. " kata Alex mengebas tangannya ke udara, lalu segera merapikan pakaiannya.
" Kayaknya gue harus ke tempat Rose nih nanti malam. Kepala gue pusing bangat kalau si jun gak olahraga. Gila tuh cewek! Bisa mati muda kalau sekarang kalau cuma dia yang bisa buat gue senang dan nyaman. Habisnya kalau sampai mama gak setuju gue pacaran sama dia, pasti juga papa ikut sama apa kata mama. Terus nasib si jun gue bagaimana? Oh, God! Jangan biarkan ini sampai terjadi ya, jun? " gumam Alex mengacak acak rambutnya.
Alex pun secepat kilat menyelesaikan pekerjaannya agar nanti malam ia bisa bertemu dengan Rose, dan menuntaskan kebutuhannya.
*****
Arloji mahal dengan merek rolex yang melingkar di pergelangan tangan Alex itu kini sudah menunjukkan pukul 19.45 WIB. Ponsel pintarnya terus saja berdering keras di atas meja kerja mendengarkan musik rock dan band asal amerika serikat, Linkin Part. Namun, ia enggan untuk mengangkat telepon yang tentu saja dari Ibu kandungnya sendiri, Milea.
Sekali lagi Alex terus menyibukkan dirinya pada tumpukan berkas yang berada tepat di depan mata. Sampai pada akhirnya arloji mewah tadi terus berputar dan telah membawa waktu menjadi pukul 21.30 WIB.
" Hufft.... Akhirnya kelar juga semua pekerjaan ini. Sekarang udah bisa ketemu sama Rose deh kita, jun. Benar kan ganteng? Mau ketemu sama Rose yang udah jadi couple kamu itu gak, sih? " tanya Alex pada jun nya yang merasa sedikit merasakan sesuatu di sana.
Tak ayal, kekehan keras pun keluar dari mulutnya dan ia segera membereskan tumpukan berkas tersebut. Ponsel yang sejak tadi berdering juga ikut ia masukkan ke dalam saku jas hitam yang ia kenakan, lalu beralih mencari kunci mobil sport, dan sedikit mengecek wajahnya di cermin wastafel.
" Hm... Tetap ganteng kok. Nafas? Huh... " gumam Alex menghembuskan nafasnya pada telapak tangan. " Em.... kurang wangi, sih. Kumur kumur aja deh pakai mouth wash biar cepat. " cicitnya sembari mengambil obat kumur.
Usai tiga menit berlalu, Alex pun melenggang dengan penuh percaya diri keluar dari ruangannya. Saat melintas dari depan meja sekretaris, Ira sempat terpaku dengan aroma fresh yang menguar tajam dari tubuh Alex. Sampai sampai, wanita agresif itu lupa mengabarkan tentang ibunya Alex yang tengah menunggunya di basemen untuk pulang bersama sang putra.
Alhasil, saat sudah tiba di bawah, Alex berjalan masa bodoh ke arah mobil sportnya dan hal tersebut tentu saja membuat sang mama geram.
" Mau kemana lagi tuh anak satu?! Bukannya aku sudah titip pesan sama sekretarisnya, kalau aku ada disini? Apa si cewek genit itu gak kasih tahu ke Alex? " batin Nyonya Milea bertanya tanya, begitu penasaran dengan tujuan Alex.
" Pak Alex sudah masuk ke dalam mobilnya tuh, Bu. Jadi kita mau kemana nih, Bu? " tegur pak supir ketika melihat mobil Alex sudah keluar dari basemen kantor.
" Ya, harus kamu ikutilah, Pak Toni! Masa diam aja kayak sapi ompong sih? Cepat bangat hilangnya tuh anak! Ngerti gak?! " perintah Mile membuat sang supir segera bergerak dari sana.
Mobil sport milik Alex itu pun dimata matai mobil baru ibunya, hingga sampailah mereka di sebuah pelataran parkir bangunan megah dan tempat tersebut adalah komplek apartemen mewah. Alex memiliki beberapa unit hunian di sana, tetapi ada bagian yang belum ia sewakan pada siapapun.
" Buat apa anak nakal itu datang ke sini? Bukannya tadi siang udah aku suruh pulang ke rumah aja? Kok malah lebih memilih nginap di apartemen, sih? Kayaknya memang ada yang gak beres nih sama dia! Pokoknya aku harus cari tahu! " batin Milea yang sudah mulai curiga.