
"Apes - apes! Belum ketemu sama Rose tapi udah kena tilang model gini. Untung aja mobil ini atas nama gue! Kalau tadi gue pake mobil sport yang platnya genap? bisa berabe tuh karena STNK nya atas nama mama. Oh my God!" gumam Alex mulai fokus memperhatikan jalanan, menghidupkan mobil lalu bergerak kembali.
Akan tetapi konsentrasinya tersebut hanya berlangsung sebentar saja, karena kini wajah cantik Rose kembali lagi merasuk ke dalam pikiran Alex layaknya hantu si manis jembatan ancol.
"Rose oh Rose.... Lo itu sebenarnya manusia apa hantu sih? Nih, lihat. cuma mikirin kamu aja, kenceng lagi si junior. Hahaha..." ujar Alex diikuti gelak tawa lepasnya.
Dua menit berlalu dengan keadaan yang masih sama seperti tadi, Alex hanya bisa mengambil sebotol air mineral yang sedang di samping mobil, lalu meneguk semua isinya hingga tandas.
Alex berusaha untuk terus berkonsentrasi, agar ia bisa cepat sampai di apartemen miliknya untuk bertemu dengan Rose, tanpa harus kena tilang lagi dari anggota kepolisian lainnya.
"Jangan bilang gue udah jatuh cinta sama Rose, God! Kasihan gadis baik seperti dia harus dibenci mama nanti. Gue gak pengen dia kenapa napa, beneran deh. Gue sayang sama dia. Benar kan junior? Kita cuma sayang aja kan ke Rose? Bukan cinta kan?" hanya saja usaha Alexander The Laode itu tampaknya sia sia belaka. Sebab sosok seorang Rose Van Houteen entah kenapa pagi itu enggan untuk pergi dari isi kepalanya.
Alex melajukan mobilnya ke apartemen dengan sedikit tergesa karena ia ingin segera menemui Rose dan menumpahkan segalanya. Usai memarkirkan mobilnya, ia turun, berjalan sembari bersiul. Hatinya merasa sangat senang sebab sebentar lagi si junior akan dimanjakan oleh bibir seksi Rose.
"Junior, sabar ya? Sebentar lagi keinginanmu tercapai. Kamu akan dibelai sama bibir seksi nan tebal milik Rose yang nikmat itu." kekeh Alex dalam hatinya.
Tubuhnya bahkan merasakan gelenyar aneh, akibat semua bulu romanya meremang ketika mengingat Rose yang mengorak si junior.
Sepanjang perjalanan di dalam lift apartemen, Alex masih saja terus terus senyum sendiri, persis seperti anak baru gede yang merasakan jatuh cinta. Lantas setelah lift terbuka, ia pun keluar dan melangkah lebar menuju unit apartemennya.
Alex kemudian menekan tombol pada panel pintu karena Rose sudah memberi tahu kode akses yang baru setelah mereka selesai ber vidio call an semalam melalui pesan singkat.
Ceklek.
Dengan langkah lebar, Alex menuju kamar di mana Rose berada, tanpa mau repot repot mengetuk pintu terlebih dahulu.
Dengan santainya Alex menekan kenop panel pintu kamar. "Rose---"
"Ah, Alex!" Namun, yang terjadi adalah di luar pikiran Alex karena ternyata Rose baru saja selesai mandi. Ia berteriak keras sembari melilitkan ke tubuhnya kembali.
"Aduh, sayang! Ngapain ditutup lagi. Malu ya? Bukannya kemarin kamu udah telanjang di depan aku di vidio call?" ucap Alex terkekeh melihat sikap Rose yang kikuk.
"Habis kamu ngagetin tau! Kalau aku penyakit jantung gimana?!" rungut Rose memasang wajah masam, tetapi menggemaskan di mata Alex, dan membuat si junior di pangkal pahanya kembali menggeliat.
Alex pun sukses memecahkan tawa besarnya, reflek memeluk Rose, dan mengecup pucuk kepala gadis itu dengan sangat lembut.
"Sayang, aku buka ya? Kemarin kan aku lihat tubuh kamu cuma dari vidio call doang. Sekarang aku mau lihat secara langsung. Lagian coba kamu pegang nih." rayu Alex membawa telapak tangan Rose menuju pangkal pahanya. "Si junior udah keras banget kan, sayang? Jadi aku buka ya." lanjutnya membuka handuk yang melilit di tubuh Rose.
Gadis itu hanya bisa pasrah dengan rayuan maut sang CEO, sembari terus saja menampilkan semburat merah di kedua pipi putihnya.
Jujur saja, Rose sebenarnya risih Alex yang tidak pernah puas. Namun, ada rasa bangga sedikit dalam hati, ternyata tubuhnya yang membuat Alex selalu merasa tidak puas.
"Sayang...."
"Emph, Lex!" lenguh Rose akibat ******* intens yang Alex lakukan.
Dengan sebelah tangan yang bebas, Alex kini mulai merebahkan tubuh Rose di atas kasur dan meremas gundukan di dadanya.
"Lex, Ough...." sudah pasti, yang Rose dapat lakukan adalah membusungkan dadanya.
Mata pria itu begitu berbinar diantara ******* pada pucuk dada Rose dan sebelah tangan Alex pun kini mulai bergerak, meremas daging kenyal disebelahnya lagi.
"Alex...."
"Hm...."
"Geli, Lex.... Aku---- ach!'' desah Rose tidak selesai.
Alex tak mempedulikan reaksi dari tubuh Rose, sebab kini matanya benar benar sudah ditutupi oleh kabut gairah yang sangat memuncak.
"Sayang.... Kamu enak bangat.... Ini baru gundukan mu aja, sayang. Gimana kalau yang lainnya lagi, hm?" lirih Alex memindahkan mulutnya ke gundukan yang satunya lagi.
"Ough, Alex....Ach, Kamu.... Ssstt.... Alex, jangan di--- Ach... Alex gigimu!!" pekik nikmat Rose akibat Alex menggigit daging kecil berwarna coklat kemerahan di puncak gundukan itu.
"Aku, gemes bangat sayang. Apalagi sama punya kamu yang merah muda di vidio call itu tuh. Nih, coba dengerin suara jantung aku, sayang? Ugh.... Aku udah gak sabar pengen rasain punya kamu. Jadi, aku coba sekarang ya, sayang?" pinta Alex dengan sejumlah rayuan mautnya yang sangat mematikan.
Sebenarnya Alex ingin sekali dapat langsung saja menerkam Rose, layaknya seekor singa jantan yang sedang mendapatkan sebongkah daging segar. Hanya saja, Ia tidak ingin gadis itu merasa terpaksa menuruti puncak birahinya yang saat ini sedang meletup letup.
"Em.... Lex.... Aku....."
"Aku apa, sayang? Boleh ya, Rose? Ini enak kok, sayang. Biar kita sama sama puas, biar aku gak puas sendiri aja sama kamu. Mau kan, sayang?" sahut Alex menatap kedua manik mata hitam rose yang sejujurnya sudah dipenuhi dengan kabut gairah juga.
Gelenyar aneh pun kian muncul di dada Rose akibat tatapan wajah tampan di hadapannya, hingga membuat ia tidak bisa menghentikan pergerakan kedua tangannya. Gadis cantik berusia sembilan belas tahun itu pun membawa jari telunjuk menyusuri wajah Alex dan hal tersebut membuat kelopak mata sang CEO perlahan lahan mulai tertutup.
"Lex..... jangan merem dong. Buka matanya." lirih Rose hampir tak terdengar.
"Kenapa, sayang? Aku tahu kok dari dulu aku sudah ganteng bangat. kamu naksir ya samaku?'' kekeh Alex mengerlingkan sebelah matanya.
Blush.....
Rona merah muda tentu saja muncul lagi di pipi putih Rose, tapi bukan itu yang ia ingin utarakan kepada Alex.
"Aku mau minta satu hal sama kamu sebelum kamu cobain punya aku, Lex. Cuma aku----"