
"Maaf ya, sayang? Aku gak tahu kalo ada schedule ke Bali sore ini sampai tiga hari ke depan. Kan tadi sekretaris gila itu aku pecat. Untung saja tadi si Badron ingetin. Duh, bisa berabe ini urusannya kalo mama sampe tahu aku gak kerja malah asyik sama kamu."
"Ya, siapa juga yang tahu. Coba kamu kasih info ke aku, pastilah aku ingatin. Tapi kan dari tadi kamu gak bilang kalo mau ke Bali, dari kemarin malah kita gak ketemu karena kamu ada di Sidoarjo. Benar, kan?" Rose berpendapat dan itu memang kenyataannya.
"Hooh. Kamu benar, Sayang." kikuk Alex terkekeh bodoh. "Maafin aku ya, sayang?''
"Ck! Christmas masih lama kali, Lex. Lebaran juga udah lewat kan? Minta maaf dalam rangka apa?'' polos Rose semakin membuat Alex terpingkal.
Tangannya lekas menarik tubuh candu si cantik Rose, dan masuklah sang pujaan hati ke dalam pelukan hangat Alex.
"Kamu tuh paling bisa bikin aku hepi seharian. Mendingan kamu ikut aja yuk ke Bali? Ini kan jumat tuh, terus besok sama minggu. Jadi kita pulangnya lusa aja. Pas hari senin gi---"
"Aku lagi banyak tugas, Lex. Aku mau aja ikut sama kamu, tapi ada kuis juga hari senin. Masa aku harus bolos? Terus semua tugas tugas Akuntansi yang di suruh Dosen buat buku besar dan beberapa jurnal itu akau suruh siapa yang kerjain? Senin juga dikumpulnya. Bukan via online lagi, supaya bisa langsung aku kirim ke email pak Dosen. Jadi maaf ya, Lex?'' jelas Rose dan Alex tersenyum lembut, setelah memperhatikan bagaimana mimik serius dari wajah kekasihnya.
"Maaf? Bukannya natal dan lebaran masih lama? Siapa yang tadi bilang gitu sama aku, hm?" goda Alex dan Rose kembali memeluknya sembari tersipu.
Sepuluh menit mereka habiskan berdua dalam ruangan kerja Alex, dan tentu saja itu diisi dengan rengekan sang CEO yang belum mau mengantar Rose pulang.
Namun, keduanya beranjak dari tempat itu dengan cara yang cukup buru buru, karena ternyata Nyonya Milea memberi kabar bahwa ia sudah mengemasi beberapa barang keperluan Alex selama di Bali untuk tiga hari ke depan, dan akan segera mengantarkan koper kecil itu ke kantor.
"Maaf ya, Sayang?''
"Udah Aku gak apa apa kok, Lex. Lagian kalo kemana mana kamu terus yang anterin. Terus aku kapan bisa mandirinya? Terus kalau ternyata kita gak berjodoh, aku kan---"
"Gak! Siapa bilang kita gak berjodoh? Aku bakalan paksa biar kamu itu jadi jodoh aku sampai mati dan ketemu lagi di alam lain kalau sudah mati!" kesal Alex menyanggah.
"Iya, tapi---"
"Udah gak ada tapi tapian. Tuh lihat, taksi orderan kamu udah datang kan? Sayang naik, gih. Nanti Mama keburu memergoki kita disini lagi. Kalo si Jhonny datang, biar aku kasih pelajaran dia karena matiin hapenya. Jadinya kamu naik taksi kan, Sayang."
"Hm.... Jangan marah marah terus, Lex. Nanti gantengnya ilang tau!'' gombal Rose dengan mimik polosnya.
"Kamu tuh ya. Pengen aku cium aja disini sekarang," kekeh Alex tertawa lepas. "Ya, Udah. Bye, sayang..."
"Bye, Alex.... I love You! Jalan, Pak!'' pekik Rose lekas menutup pintu mobil dan membiarkan Alex terpaku beberapa detik.
"Aduh, si Sayang..... Jadi pengen peluk deh," batin Alex dipenuhi ribuan kupu kupu dan bunga bermekaran. Ia berbalik dan meninggalkan basemen kantor, karena tidak ingin sang ibu mendapati dirinya di sana hingga bisa menimbulkan banyak pertanyaan yang memusingkan baginya nanti.
Sementara itu, Rose pun terkejut bukan main, tatkala matanya mendapati wajah familiar seseorang yang berada di balik kemudi. Sebab topi dan kaca mata yang dikenakan sopir tersebut tiba tiba saja dilepas, dan terkejut lah ia di sana.
"Boy?!"
"Hai, Cantik. Hanis ketemuan sama pacarnya, ya?" jawab pemuda delapan belas tahun itu, setelah melirik kaca spion di depannya.
"Egh, i...iya. Kamu----"
"Apaan? Narik taksi? Aku selalu kerja kayak gini kalau sabtu atau minggu, Rose. Tapi kan jumat tadi kita cuma dua SKS doang dan itupun pagi. Jadi habis makan siang, aku narik deh. Dari sore sampai malam nanti jam delapan gitu. Lumayan buat beli ketoprak kan? Nunggu baju atau kain laku belum tentu bisa dipakai makan. Sama Nyokap paling dipakai buat putar dagangan lagi. Benar gak?" sela Boy melemparkan sejumlah modus.
"Hooh. Benar yang kamu bilang." jawab Rose sedikit tersentuh.
"Jadi lo mau kemana sekarang?''
"Mau pulang ke apartemen, Boy. Aku belum selesai ngerjain tugas Akuntansi 1. Jadi----''
"Makanya lo itu jangan pacaran terus dong. Tugas diingat, baru deh pacaran." potong Boy dan Rose sontak tersenyum kikuk.
"Emang kamu udah selesai? Perasaan tadi kamu sibuk ngintilin aku sama Riri di perpustakaan gitu kan? Terus tugasnya baru di kasih kemarin, kapan kamu kerjain kalo sekarang lagi narik taksi begini?'' Rose mencoba membela dirinya.
Namun, Rose tak menjawab pertanyaan Boy, tetapi terkekeh hingga membuat kerutan di kening sang pemuda berkerut.
"Ye, malah cengar cengir gak jelas lagi."
"Aku cemburu buta, Boy. Itu karena cewek yang ngebet sama Alex kirimin aku foto mesranya mereka dulu. Jadi aku kayak anak kecil deh tadi." jelas Rose.
"Foto mesra? Foto apaan? Ciuman?''
"Ada deh. Kamu mau tau aja, Kepo!" celetuk Rose, membuat Boy terkekeh geli.
"Udah gaul ya sekarang. Selain kepo, si Riri ajari lo bahasa apa lagi?" keduanya makin keras tertawa. "Sedikit lagi, Rose. Aki yakin setelah ini masuk dalam perangkap ku," bati. Boy di sela kekehannya.
Mobil terus melaju, dan kini tiba di lampu merah sekitaran mangga besar, Jakarta.
"Egh, Boy. Kalo mau pesan pizza delivery ke nomor mana?"
Bingo!
Pertanyaan Rose benar benar dianggap senjata bagi Boy dan jurus pun mulai dilemparkan.
"Kenapa? Kamu lapar?"
"Gak. Maksud aku buat nanti malam. Biasanya aku masak, karena Alex kalo pulang kerja singgah ke apartemen. Cuma sore ini dia mau ke Bali. Jadi aku mau makan pizza deh. Kalau ada Alex kan aku gak boleh makan junk food gitu. Dari datang ke Jakarta aku udah sering mau coba order, tapi gak kesampaian." jelas Rose, dihadiahkan satu senyuman licik dari wajah tampan Boy.
"Aku gak pernah tau soal delivery gitu, Rose. Soalnya aku lebih suka makan langsung di tempatnya. Kan lebih seru. Banyak pilihan menu dan kita bisa langsung tuh menu makanannya kayak gimana. Jadi gimana nih? Singgah makan aja deh mendingan ya?" tawar Boy, "Nanti habis makan, lo bungkus juga buat bawa pulang atau kalau emang lo takut ketahuan sama pacar lo, ya gak usah makan di sana, tapi dibungkus aja gitu bawa ke apartemen. Tinggal makan deh lo terus sampahnya buang ke tempat sampah. Jadi gak ketahuan kan?''
Yuhu..... Tolong berikan Boy penghargaan sebagai aktor terbaik tahun ini segera. Sebab dari penjelasan panjang lebarnya itu, kini Rose pun mengangguk dan menyetujui perkataan tersebut.
"Benar juga. Alex kan udah mau ke bandara. Terus mamanya bakalan datang ke kantor juga. Jadi gak mungkin dia kemana mana lagi selain dari kantor langsung ke bandara. Kalo beli terus dibungkus dan di bawa pulang, tinggal buang bungkusnya ajah kalo selesai makan. Beres deh gak ketahuan habis makan pizza. Asyik....." batin si cantik Rose.
Sayangnya, hal tersebut tak sama dengan realita yang terjadi di restoran pizza, karena saat Boy menyuruhnya menunggu sebentar, Rose pun ikut memesan pizza lain selain dari isi bungkusan di tangannya dan ia ikut duduk makan persis di depan Boy.
"Tuh, Rose. Air mineral punya gue ada dua nih. Tadi gue beli buat bekal narik. Kalo lo mau satu gue bukain segelnya. Gak asyik kan habis makan, tapi gak minum air putih juga?" ucap Boy lagi lagi melemparkan modus liciknya.
"Memangnya, gak kenapa napa aku minum, Boy? Nanti kalo kamu haus di jalan----''
"Alah, itu gampang kali. Ini kan sebotol cuma tiga ribu perak aja. Masa gue minum terus lo ngelihatin aja? Lagian soft drink nya punya udah mau habis tuh. Jadi gue bukain ya?" lantas segel dari botol laknat itupun terbuka.
Boy menyodorkannya ke Rose, lalu tanpa disuruh lagi, si cantik itu langsung meneguk air mineral hingga tersisa tiga perempat bagian.
"Good job, Boy! Untung aja lo sedia payung sebelum hujan tadi. Jadi setelah enak enak satu ronde dan si Bora juga udah nyuntik obat itu ke dalam botol, lo langsung buat dia tidur pakai obat bius yang jadi senjata lo." kekeh Boy dalam hati. ''Sayang aja lo gak suka ngeseks sama cewek dalam keadaan gak sadar, kalo lo doyan? Palingan udah dari kemarin kemarin si cantik yang di depan mata lo ini udah berkali kali mampir ke tempat tidur lo? Benar kan?" lagi lagi suara dalam hati Boy terdengar, diikuti kekehannya yang semakin keras.
Namun, obat itu belum menunjukkan reaksi di saat mereka masih berada di dalam restoran pizza, sehingga dua anak cucu adam masih asyik dengan kegiatan mengisi perutnya di sana hingga beberapa menit ke depan.
Akan tetapi keadaan berubah total, ketika sudah berada di dalam mobil taksi sewaan Boy yang ia pakai untuk melancarkan aksi bejatnya. Sebab baru saja kendaraan roda empat itu sampai di pintu keluar mall, Rose sudah mulai merasakan reaksi akibat setengah air mineral sialan itu di dalam perutnya.
"Boy, ini AC nya mati ya? Kok bangat, sih? Hidupin paling gede dong. Serius ini rasanya panas bangat!''
"Lah, masa sih? Ini udah paling gede kali, Rose. Gue gak kenapa napa ini malah. Mana sisa air lo tadi? Minum lagi aja, biar adem." anjuran Boy segera diindahkan oleh Rose.
Alhasil, semakin pula reaksi itu terjadi atas diri Rose, karena nyatanya air laknat tersebut sudah tandas tanpa tersisa sama sekali.
"Boy.... Panas, Bangat...."
"Ya udah buka aja kancing kemeja lo satu atau dua. Gampang kan?"