I Like Your Sexy Lips

I Like Your Sexy Lips
Bab 65



Nyonya Milea sama sekali tida bisa menjawab satupun tuduhan yang kini suaminya lemparkan. Memang ia yang memakai uang senilai dua ratus juga rupiah itu dan disaat ia ingin mengelak, Guen lebih dulu menggambarkan bagaiman tingkah lakunya ketika berkelit dari kesalahan yang diperbuat.


"Kenapa emangnya kalo mama yang pake uang itu, hah?! Apa salah kalo mama ikutan arisan berlian? Kenapa? Mau bilang mama nipu lagi? Apa kalian pikir berlian asli itu harganya murah? Atau kalian berdua mau mama telepon Jeng Nenny buat tanyain kebenarannya?''


Namun, itulah alasan yang tiga detik lalu terlintas dalam otak licik Nyonya Milea, sehingga kini gantian Alex dan Guen yang bungkam akibat alasan tersebut.


"Mama gak lagi bohong sama Alex kan? Rose itu lagi hamil anak Alex, Ma! Jadi----"


"Apa?!" dan teriakan tiga huruf itu tentu saja datang dari mulut tuan dan nyonya The Laode secara bersamaan.


"Jangan bercanda kamu, Lex!'' lanjut Nyonya Milea berdiri dari duduknya.


"Alex gak bercanda, Ma! Maka itu Alex rela melakukan apapun, termasuk bersedia dicoret dari daftar penerima warisan tunggal Papa dan Mama demi anak dalam kandungan Rose! Dia sedang hamil, maka itu tolong katakan dimana Mama sembunyikan Rose! Tolong jujur sama Alex demi cucu yang mama harap harapkan sejak dulu, Ma." bohong Alex yang mulai kebingungan, mengatur mimik wajahnya, akibat dari berita karangannya itu.


"Lex, kamu serius?'' kali ini gantian Guen yang bertanya dan ingin memastikan perkataan putranya.


"Sungguh, Pa. Alex gak akan segila ini mencari Rose sampai ke Surabaya! Memangnya dulu Alex peduli waktu Nani terima lamaran laki laki lain? Enggak kan, Pa? Padahal itu juga karena ulah mama yang sibuk menjauhkan Nani dari Alex. Karena apa, Pa? Karena emang Nani juga enggak setia dan udah digerepe gerepe sama dokter itu. Tapi kalo sama Rose beda, Pa. Alex yang rusak hidup dia, Alex yang jahat karena paksa dia untuk terus melanjutkan hubungan yang mama gak pernah restui ini, dan Alex juga yang sudah menghamili dia. Apa pantas Rose sendiri yang menerima hukuman dengan pergi membawa banyak rasa kecewa? Terus bayi dalam perutnya, apa baik kalo lahir tanpa ayah? Apa karma tidak akan berlaku untuk Alex dan keluarga ini akibat membuang darah daging kita sendiri?!" lanjut Alex semakin menghayati kebohongannya.


Sayangnya apa yang pria dua puluh lima tahun itu katakan adalah sebuah kebenaran dan kini wajah Nyonya Milea seketika syok, saat bokongnya kembali mendarat di atas sofa ruang tamu.


"Ma, katakanlah. Jangan berbohong lagi kali ini." Guen berlutut dan memohon di depan istrinya. "Mama ingin punya anak perempuan kan? Maaf papa gak bisa berikan impian mama itu sejak dulu. Tapi cucu perempuan yang lucu dan cantik, bisa saja mama dapatkan dari anak laki lakimu ini, Ma. Tolonglah, Ma. Apa mama tega melihat anak itu lahir tanpa ayah? Apa mama tega melihat hidupnya serba kekurangan di luar sana? Bagaimana kalo ternyata saat melahirkan ibunya tidak selamat, Ma? Apa mama tega membiarkan cucu mama jadi anak yatim pia---"


"Cukup, Guen! Cukup!" histeris Nyonya Milea, tak kuasa membendung air matanya. Kedua lengannya memeluk tubuh tegap sang suami yang berlutut di depan kakinya, dan pemandangan haru itu terlihat secara jelas di mata Guen The Laode.


"Aduh, bagaimana ini? Kacau!'' batin Alex meremas kedua telapak tangannya yang sudah berkeringat. "Bagaimana kalo Rose gak hamil? Bisa mati aku di bunuh mama!'' kikuknya lagi.


Alex bahkan tak mendengar penjelasan yang dikatakan Nyonya Milea, tentang kejadian yang memang diperbuat oleh ibunya. Sampai ketika satu tepukan mendarat sempurna, barulah khayalan tingkat tinggi pria itu buyar entah kemana.


"Lex, maafin mama, Sayang. Mama gak tahu kalo cewek udik itu sedang hamil anakmu," tangis Nyonya Milea dan bermaksud untuk memeluk putranya.


"Jangan sentuh Alex, Ma! Cepat katakan dimana mama sembunyiin Rose! Biar nanti Alex sendiri aja yang cari dia, Ma. Katakan cepat, Ma!" murka sang CEO, tak melupakan kebohongan yang ia lakukan tentang kehamilan Rose.


Alhasil, Nyonya Milea pun menceritakan kembali perbuatan jahatnya dua hari lalu dan setelah Alex mengetahui Rose diantar ke alamat tersebut, ia segera melajukan mobil sport miliknya menuju kesana.


"Riri! Ya, gue yakin pasti dia ada di rumah Riri! Alamatnya kan di Kedoya. Ciri ciri rumah yang mama ceritain tadi juga sama. Oh, Tuhan! Kenapa dari kemarin gue gak langsung cek kesana," umpat Alex, dan setir mobil menjadi alat pelampiasannya ketika ngamuk dalam kondisi berkendara.


Sementara itu yang menjadi objek sedang khusyuk dengan cacahan kacang tanahnya, dan tiba tiba saja pisau yang tajam itu membuat jari telunjuknya terluka.


"Auw!'' pekik Rose melepaskan pisau dari genggamannya.


"Ya ampun berdarah!'' Riri pun ikut memekik, "Nih tissue, bersihkan darahnya. Lo sih, ngeyel gue bilangin. Mendingan dana dua ratus juta lo itu kita pake buat sewa tempat di pasar. Baru deh lo jualan barang barang yang gak cepat basi kayak baju atau sepatu. Kan lebih enak daripada lo jual rempeyek, klepon atau jajanan pasar kayak niat lo tadi. Secara itu bikinnya sangat ribet, Rose. Lagian juga kalo gak laku, mau sampe kapan tuh makanan bertahan? Emangnya gak basi nanti?" omel Riri bersiap membeli plester ke kios di depan.


"Maaf, Ri. Aku gak mikir sampai sejauh itu," lirih Rose, memasukkan jarinya yang terkena pisau tadi ke dalam mulutnya.


"Ya udah, terserah lo deh. Klepon sama dada gulung yang udah jadi ini nanti kita titip di kios depan aja deh. Ini aku belikan lo plester dulu biar rempeyek kacang itu cepat jadi dan gak kena tetesan darah lo. Tapi gue gak pergi ke kios itu sampai dua kali ya, Rose! Soalnya gue mau kemas kemas karena besok udah harus pulang ke Jakarta." sahut Riri mengambil uang lima puluh ribu dari dalam dompetnya. "Tapi lo tenang aja. Setiap hari jumat, Gue bakalan pulang ke Solo buat pantau keadaan lo. Pikirkan kata kata gue tentang sewa lapak di pasar itu. Kalo sampe usaha lo udah stabil? Baru gue bisa tenang dan fokus sama kuliah gue. Jadi lo harus pikirkan bagaimana nasib gue, kalo sampe gue rela bolak balik Jakarta - Solo naik kereta nanti ya, Rose? Jangan kecewain gue. Oke?" lanjut Riri keluar dari pintu kosan.


"Alex....."


Sayangnya yang keluar dari mulu Rose adalah nama ayah si jabang bayi, dan entah kenapa detakan jantungnya terasa ingin meledak setelah menyebutkan nama itu.


"Alex, kamu kenapa, Lex?" air matanya bahkan ikut berlinang dan ternyata satu kejadian tragis telah menimpa sang pemilik nama yang disebutkan.


Mobil yang dikendarai Alex dengan kecepatan di atas rata rata berkendara tersebut, secara tiba tiba menabrak pintu tol cawang di kawasan pluit, dan entah seperti apa keadaan pria dua puluh lima tahun itu kini.