
Oh, Sayang.....
Alex benar benar tertegun mendengar serentetan kata yang Rose lontarkan. Gadis lembut itu, entah kenapa bisa berubah seketika di mata Alex. Ia berusaha tak mau mendengar, tetapi otaknya terus saja mencerna makna yang kesayangannya sebutkan tadi. Sampai pada waktu darahnya mulai mendidih, ia pun lekas bersiap memakai pakaiannya dengan rapih kembali.
Secepat kilat rasa kesal menuntun sang CEO muda berusia dua puluh lima tahun itu bersiap, lalu beberapa detik kemudian.
BRAAKK!!!
Bantingan pintu yang berbunyi keras pun terjadi akibat ulah Alex, dan sekali lagi sukses membuat Rose semakin terisak di kamar mandi.
"Buset! pelan pelan dong, Bos. Kaget gue jadinya!" seru Jhonny mengelus dadanya, akibat ia ternyata masih setia berdiri di depan pintu kamar Rose.
"Lo disini aja. Jangan macam macam sama cewek gue! Habis ini, lo minta ijazah SMA dia, dan tanyain dia mau kuliah di kampus mana dan jurusan apa. Setelah lo jelas sudah tau yang dia mau, cepat lo daftarin dia ke kampus itu. Ini sudah masuk bulan september. Setau gue penerimaan mahasiswa waktunya sedikit lagi bakalan tutup. Jadi kalau emang lo ke kampus yang Rose mau dan berhasil mendaftar di sana, ya syukur. Tapi kalau emang mereka masih basa basi mempersulit dan banyak bacot, lo tinggal telepon gue dan bilang orang itu minta di bayar berapa biar Rose bisa masuk kesana. Lo ngerti, kan?'' tegas Alex menampilkan aura mematikannya.
"I--iya, Bos! Si...siap. Gue bakalan urus sesuai yang bos su...suruh." sahut Jhonny gelagapan.
"Good! Sekarang mana ponsel gue?''
"Egh, ada, Bos! di kantong ce...celana gu---"
"Ambil! Lo suruh gue ketangkap mama disini dan Rose jadi sasaran, termasuk lo?!" kesal Alex yang melihat Jhonny tak segera merogoh saku celananya.
Alhasil, Jhonny pun secepat kilat mengambil benda pipih milik Alex itu. Lantas setelah menerima, tuan muda itu melenggang pergi tanpa menghiraukan aura mematikan yang terpancar di wajahnya.
"Duh... Kampret! Si, Bos kenapa lagi sih? Bukannya tuh otongnya udah dikeluarkan sama si Rose? Gak ngaruh harusnya Rose mau datang bulan atau gak kan??? Argh..!!" batin Jhonny bertanya - tanya.
Sementara itu, di dalam kamar mandi, Rose terus terisak merangkul dirinya sendiri.
"Aku sayang sama kamu, Lex. Aku gak mau kamu sampai berlebihan sama aku. Cukup mulut sama bibirku aja, Lex. Jangan sampai kamu merasa bersalah karena kita sudah bertindak jauh seperti tadi. Kamu pasti bakal ketagihan, dan kalau sampai aku hamil, itu berarti kamu juga harus menikahi aku secara paksa kan? Aku gak mau, Lex. Aku tahu sikap kamu ke aku hanya sekedar sayang dan menghormati karena kebutuhan batin kamu. Bukan karena kamu cinta sama aku. Mama kamu juga pasti gak akan pernah setuju. Menikah tanpa restu jelas jelas adalah satu kesalahan fatal yang bakalan buat hidup kita gak akan tenang besok. Itu yang aku pikirkan sejak kenal kamu dari awal, Lex. Karena aku tau bangat kamu siapa, dan aku bukan cewek yang pantas mendampingi kamu." gumam Rose semakin terisak.
Alex keluar dari gedung Apartemen dengan wajah yang masih murka, ia terus saja mengingat perkataan Rose dengan sangat jelas.
"Kenapa kamu bisa ngomong gitu sih, Rose? Aku itu udah sayang sama kamu, makanya aku gak pernah anggap kamu itu cewek bayaran aku. Mungkin kalau orang lain bilang, aku ini udah jatuh cinta beneran sama kamu. Ya, aku akui itu. Aku kecanduan mulut dan bibir kamu, parahnya lagi cuma mengingat wajah kamu? si jun langsung saja tak karuan habis dan gak bisa diobati siapapun kecuali kamu. Ira aja gak berhasil kemarin, bahkan vidio call aja gak bisa membuatnya berhasil. Hanya aku perlu menyakinkan sama perasaanku ini. Aku takut kamu kayak mantan pacarku si Nina dulu, Rose. Aku takut kamu tinggalkan. Aku takut kamu gak kuat menahan omelan dan sikap kasar mama yang pasti bakalan gak terima sama hubungan kita. Aku harus bagaimana, Rose?" batin Alex, masuk ke mobil sport miliknya.
Sang CEO itu bahkan sempat memukul stir mobil, lantas dengan kencang melajukan kendaraan roda empat miliknya ke kantor saat ocehan Jhonny akhirnya berputar lagi dalam otaknya. Namun, tak berselang lama, kemacetan pun terjadi akibat dari sebuah kecelakaan lalu lintas di ujung jalan sana.
"Duh.... Apaan lagi sih ini? Dari tadi macet aja gak jalan jalan mobil di depan!'' umpat Alex memukul setir mobilnya lagi.
"Pagi, Pak." sapa Ira berjalan mengikuti dari belakang.
Alex yang dengan langkah berat menuju ke ruangannya pun langsung duduk dan meminta berkas berkas di tangan Ira.
"Pak, Cabang Perusahan Adara yang di Singapura katanya ingin merencanakan meeting ulang sama bapak karena ada beberapa proposal yang tidak sesuai dengan kesepakatan." Ira menjelaskan panjang lebar.
"Kapan mereka minta meeting ulangnya?'' tanya Alex terus fokus memeriksa berkas dari perusahaan Adara.
"Mereka minta kalau bisa sore ini atau besok pagi, Pak."
"Kok cepat sekali? Apa sudah kamu kasih tahu kalau saya paling gak suka sama hal hal mendadak seperti ini ke mereka?!" kesal Alex menaikkan satu oktaf suaranya.
Ira terlihat kikuk dengan teriakan Alex, tetapi apalah daya jika ternyata rekanan bisnis The Laode Corporation itu tetap berkeras pada pendiriannya.
"Sudah, Pak. Tapi kata sekretarisnya, CEO dari perusahaan Adara itu berencana untuk cuti selama sebulan untuk menemani istrinya melahirkan, Pak. Jadi----"
"Ck! Alasan yang tidak profesional! Ya sudah, pesan tiketnya sekarang! Nanti sore kita langsung berangkat bersama tim yang kemarin ikut menangani proposal proyek ini. Awas aja, kalau sudah disetujui kayak gini, masih ada komplain gak jelas seperti di berkas ini! Lebih baik gue batalkan aja daripada ngelunjak terus!" kesal Alex meremas berkas yang dikirim oleh rekanan bisnisnya melalui faksimile.
"Apa yang mau kamu batalkan, hm? Siapa yang mulai berulah duluan itu? Kamu atau mereka? Ingat ya, Lex?! Jangan macam macam dalam hal bekerja! Papa dan Mama membangun perusahaan ini dari nol, tanpa mengharapkan belas kasihan dari keluarga The Laode!" sahut Nyonya Milea, wanita yang melahirkan CEO muda itu ke dunia.
"Eh, Mama. Tumben main ke kantor. Papa mana, Ma? Kok sendirian aja?'' kikuk Alex. Ia sebenarnya tahu jika ibunya akan menguntitnya ke kantor, karena Johnny sudah lebih dulu memberi kabar itu.
Hanya saja Alex selalu merasa was was ketika berdekatan dengan ibunya, karena memang wanita paruh baya itu sangat temperamental dan sering meletup - letup sejak memiliki riwayat penyakit hipertensi sekitar tujuh tahun yang lalu. Hal itulah yang kadang menjadi satu alasan bagi Alex untuk terus mencoba menjadi anak manis di depan ibunya.
"Alahh! Gak usah basa basi! Mama kesini itu karena kamu pagi pagi udah ngilang aja. Mana pake acara nyuruh Jhonny stay di rumah lagi. Ya, jelas lah mama curiga!" cerocos Milea.
"Dan kamu Ira! Kenapa kemarin saya titipin pesan, kamu gak ngasih tau ke atasan kamu? Dasar! Bikin capek saya aja kamu itu!''
"Maaf, Bu. Sa... saya anu, Bu. Saya----"
"Anu-anu! Udah berhenti ngelesnya! Tadi bosmu ini sampai ke kantor jam berapa?" tanya Milea dengan nada tajam.
"Hah? Ke kantor?" gugup Ira.