
"Ya itu, Pak. Si burung beo nanti jadi bau amis kalau Bapak suka makan udang, kepiting atau ikan ikan gitu. Mendingan makan daging merah atau sayuran segar aja kayak biasanya, Pak. Rasanya beda dan lebih----''
"Sialan lo! Turun sekarang juga. Apa lo pikir bakalan suruh lo buat nyenangin si Jun lagi? Jangan terlalu percaya diri lo!'' kesal ALex turun dari mobil dan membanting pintunya dengan keras.
"Ck! Lo apaiin lagi tuj laki, sih? Heran deh gue. Mendingan juga masukin punya gue aja kalau dia mau, Ira. Udah gak karuan juga ini efek si bule detektif tadi. Gimana?'' celetuk Badron dari balik kemudi.
"Amit amit! Gak level gue tidur sama lo!'' balas Ira ikut keluar dari mobil. Kaki sang sekretaris itu pun terus melangkah masuk ke dalam restoran, dan enam orang lainnya pun melakukan hal yang sama.
Tim dari The Laode Corporation tersebut memilih ruangan private di lantai dua sebagai tempat melepas penat mereka dan setelah lima belas menit menunggu, pesanan pun datang.
"Makan, Pak Sem. Maaf cuma bisa bawa kesini. Ayo, Mbak Mal,'' tergur Alex menghormati kedua orang ynag lebih tua tersebut. Dengan basa basi mereka menjawab perkataan Bosnya itu dan mulailah acara santap siang itu berlangsung.
"Pak, Jangan banyak banyak makan ikannya. Amis, Pak!'' bisik Ira, sukses membuat bola dua bola mata Alex membulat sempurna.
Pria dua puluh lima tahun itu hendak mengambil potongan ikan salmon dengan sumpitnya, dan bisikan Ira tadi ternyata diikuti dengan sumpit ditangannya yang lebih dulu beraksi.
"Sialan nih, ******! Sok kecantikan bangat pake mukul sumpit gue segala. Apa dia pikir si Jun bakalan mau di elus dia lagi? Heh, mimpi!'' kesal Alex, menarik sumpitnya dari depan piring ikan salmon.
Badron yang menyadari hal itu, bahkan ssampai terbatuk dan tentu saja wajah merah Alex menjadi objek dari pandangan mata anak buahnya yang lain.
"Lanjutin ya makannya Pak Sem, Mbak Mal. Saya ke toilet dulu,'' ujar Alex bangkit berdiri. Ia berbalik dan meletakkan serbet makannya di atas kursi, lalu melangkah menuju toilet restoran.
Tak sampai sepuluh detik kemudian, Ira juga malakukan hal yang sama, apa lagi jika bukan pamit dari sana dengan alasan kebelet pipis. Ia pun lekas mencari keberadaan Alex, sebab keinginan birahinya sedang ingin dipuaskan dan memuaskan saat itu.
Ira masuk ke dalam toilet pria dan kepala yang sudah lebih dulu celingukan, akibat memperhatikan sekitarnya agar akinya tak ketahuan. Lantas seperti mendapatkan buruannya, senyum Ira pun melebar ketika Alex ternyata baru saja akan keluar dari pintu toilet.
"Shitt! Apa apaan kamu, Ira?!'' pekik Alex aat Ira mendorongnya masuk kembali ke dalam toilet.
Alex yang geram melangkah maju dengan tujuan ingin keluar dari sana, Tapi Ira sudah lebih dulu beraksi. Ia ******* bibir tebal Alex, dan mendorong sang CEO hingga terduduk di closet.
"Hemph! ****! Sial---- Hemph!'' suara Alex tercekat ditenggorokan.
Ira tidak mau ambil pusing dengan tingkah brutal yang ia lakukan pada LAex dan terus saja ia juga memegang tengkuk belakang kepala Bos nya agar tak bisa mengelak.
Alhasil, puncak kesabaran Alex pun berada di titik akhir, dan dengan kesal ia mendorong Ira hingga terjatuh diatas pangkuaannya. "Auw! Alex, sakit!''
"Brengsek! Minggir lo dari sini! Jangan sok cantik, ******! Apa lo pikir karena udah pernah ngelus si Jun, jadi lo bisa seenaknya ginin!'' umpat Alex membenarkan setelan suite miliknya yang kusut akibat ulah Ira.
"Gue bakalan pecat lo kalo seklai lagi lo berani macam macam dan ngatur hidup gue, Ira! Jadi kalo lo masih mau kerja? Jaga sikap ****** lo, atau lo bakalan gue hancurin!''
Alex membuka pintu dan melangkah pergi dari dalam toilet tersebut, tetapi ia sedikit terkejut akibat sosok Badron yang kini melihat mereka dengan tatapan aneh.
"Lo suka sama dia, kan? Jagain tuh ****** sebelum gue muak dan dia hancur di tangan gue!'' tegas Alex menunjuk wajah Badron dengan jari telunjuknya.
"Si---siap, Pak!'' Badron tergagap di sana.
Alex meningggalkan deretan toilet pria itu dengan keadaan hati yang super memanas, ditambah si Jun yang sekali lagi tidak bia diajak kompromi.
"****! Gue gak bisa nunggu lagi kalau kayak begini caranya! Bisa mati gue kalau gak ketemu Rose sekarang juga!'' umpat Alex dalam hati.
Alhasil, acara selanjutnya tentu saja adalah langkah kaki Alex yang melebar menuju ke pintu keluar restoran dan meninggalkan tim dari The Laode Corporation itu di sana.
"Taksi!'' teriak ALex di pinggir jalan dan pergilah sang CEO itu menuju ke Changi Airport, dengan tujuan mencari pelukan hangat sang pujaan hati. siapa lagi kalau bukan Rose Van Houteen.