
"Di kelurahan----Tut....Aduh! Pulsa Topan Habis, Tan! Ya ampun....Giman---klik," sahut Topan sengaja menekan salah satu tombol di keyboard ponselnya dan memutuskan panggilan telepon secara sepihak.
Tanpa pikir panjang, Nyonya Milea memeriksa layar ponselnya dan ia berinisiatif untuk menelpon Topan kembali.
"Jadi ini gimana, Bu? Saya antarnya kemana?" celetuk supir taksi lebih dulu berbicara.
"Sabar, Pak. Duh, ini masih saya telepon ulang dulu karena pulsanya anak tadi habis." sahut Nyonya Milea sekenanya. Maka kedua orang dalam taksi itu pun harus sabar menunggu sambungan telepon di jawab oleh Topan, dan berhenti dipinggiran trotoar jalan.
"Halo, Pan? Gimana? Kelurahan apa nih jadinya?'' tanya Nyonya Milea tanpa basa basi, ketika suara Topan menyapa.
"Maaf, Tan. Pulsa Topan habis tadi tiba tiba. Maaf ya tadi harus terputus," sahut Topan malah sibuk bersandiwara tanpa mau secepatnya menjawab apa yang Nyonya Milea tanyakan.
"Ya udah, nanti saya isikan pulsa kamu. Jadi sekarang tolong kamu jawab dulu nih. Kelurahan apa tempat budemu itu tinggal," jengah Nyonya Milea, tetapi ia berusaha untuk tetap sabar demi keinginannya.
"Kelurahan Nusukan, Tan. Naik taksinya terus aja sampai ketemu ruko ada tulisan loundry sekar arimbi, Nah itu masuk aja lewat gang kecil yang ada di samping rukonya." jelas Topan dan supir taksi pun segera melajukan kendaraannya.
Hampir sepuluh menit taksi berjalan mencari ruko yang dimaksud dan saat ketemu, Nyonya Milea kembali berbicara dengan Topan di telepon.
"Halo, Pan. Udah ketemu rukonya." terang Nyonya Milea menunjuk gang kecil yang hanya bisa dilewati oleh satu mobil saja, "Terus gimana lagi?" lanjutnya bertanya.
Topan pun kembali mengarahkan Nyonya Milea dan sampailah mereka pada sebuah kios kecil yang kebetulan berada tepat di depan rumah bu Ratna tadi.
Ya udah, Pan. Makasih banyak ya? Ini tante udah mau turun nih. Kamu yakin gapi kan, kalo rumah budemu itu nomor tujuh yabg didepannya ada banyak pot pot bonsal ini?''
"Iya, dong. Itu rumahnya, Tan. Ya sudah coba aja tanyain langsung sama bude Ratna soal pacarnya anak tante itu deh. Cuma Tante jangan lupa sama janjinya yang tadi ya?'' modus pun terungkap ke permukaan.
"Janji? Janji apaan, Pan?" bingung Nyonya Milea, sama sekali tidak ingat.
"Janji mau isikan Topan pulsa dong, Tan. Kan tadi tante yang bilang sendiri," kekeh Topan membuat Nyonya Milea membuang nafas kasarnya.
"Oh, itu. Saya kira apa. Kamu tenang aja. Nanti saya isikan tiga ratus ribu. Gimana, cukup?"
"Wah, baik bangat. Cukup, Tan. Cukup sekali. Makasih sebelumnya ya, Tante cantik. Topan tunggu di nomor yang ini ya?'' sahut Topan, dan Nyonya Milea segera mematikan panggilan itu tanpa mau repot repot lagi menjawabnya.
"Pak, tunggu dulu disini ya? Saya masih ada urusan di dalam. Biarin aja argo taksinya jalan. Nanti saya bayar yang penting urusan saya lancar. Oke?'' Nyonya Milea malah memilih berkata pada sang sopir taksi.
"Kalo gitu, apa mau saya temani kedalam aja Bu?''
Tokk Tokk Tok...
Pintu pun mulai diketuk olehnya dan tak sampai lima menit keluarlah si empunya rumah dengan wajah sedikit keheranan.
"Maaf, Bu? Anda mau cari siapa ya?" tanya wanita berkerudung, yang Nyonya Milea yakini bahwa itulah tante dua anak tadi yang bernama Topan dan Riri.
"Maaf, saya mau jemput calon menantu saya. Dua hari lalu dia datang dari Jakarta sama anak yang bernama Riri kesini." Nyonya Milea mulai membuka pembicaraan.
"Hah? Calon menantu? Siapa namanya, Bu?" bude Ratna masih linglung dengan perkataan Nyonya Milea.
"Rose Van Houteen, Bu. Saya gak punya fotonya sih emang. Cuma calon menantu saya itu sedang hamil dan dibawa kesini sama keponakan ibu yang namanya Riri itu loh. Masa ibu enggak tahu?'' jelas Nyonya Milea sekali lagi.
"Tunggu saya tanya anak saya dulu ya, Bu? Nia.... Nia, keluar sebentar Nak, Ada yang cari ini loh, Penting!'' tak lama kemudian Nia pun muncul dari balik sekat tembok.
"Apa toh, Bu? Teriak teriak aja. Ini subuh tau, Bu." kesal Nia, tetapi dengan suara pelannya.
"Ck! Makanya ibu teriaki kamu tadi. Lah, sebentar lagi adzan juga toh? Jadi bisa sekalian bangun kamu. Tapi ini loh, ada tamu nyari calon menantunya yang hilang. Katanya si Riri yang bawa dari Jakarta kesini kemarin. Ala cewek yang tinggal di kosan depan paling ujung itu?" tanya Ratna mendelikkan mata dan melipat kedua tangannya di dada.
Deg......
Nia yang masih terkantuk kantuk pun sukses membulatkan kedua bola matanya. Gadis itu menatap Nyonya Milea dari atas kepala sampai ke ujung kaki dan dengan susah payah ia menelan salivanya di sana.
"Kok diam, Nia! Ayo ngaku cepat! Kamu bersekongkol sama Riri bawa lari calon menantu orang dari Jakarta sampai kesini, hah? Apa kamu gak takut namamu ikut diseret sama si Riri ndablek itu?'' kesal Ratna berprasangka buruk.
"Eh, maaf. Bukan itu maksud saya. Jadi gini, kemarin kan saya sempat gak setuju kalo anak saya berhubungan dengan cewek pilihannya ini. Soalnya anak saya ini mau saya jodohkan. Jadi saya menyuruh pacarnya ini untuk pergi dari Jakarta, tapi saya gak tahu kalo ternyata dia sudah hamil. Maka itu----"
"Oalah.... Jadi itu sendiri toh yang biang keladinya? Tak pikir anak sama keponakanku ini yang jadi kompor biar calon menantu ibu itu lari aja dari Jakarta," sinis Ratna memajukan bibirnya, '' Ya sudah! Kamu antarkan ibu ini minta maaf sama cewek yang tinggal di kosan san itu deh, Nia. Ibu mau mandi dulu. Tiba tiba kepanasan bandan ibu semua nih! " ketus Ratna berbalik dan tak berpamitan dengan Nyonya Milea sama sekali.
Nia yang bingung dengan sikap sang ibu lekas meminta maaf pada Nyonya Milea, tetapi ia masih sedikit ragu untuk mengantarkan wanita itu ke tempat kosan Rose.
"Maaf sebelumnya. Apa ibu yakin kesini karena ingin membawa Rose pulang untuk dijadikan menantu? Saya takutnya, jangan jangan ibu berniat ingin membunuh bayi dalam perut Rose lagi!" ketus Nia, melupakan pertanyaannya apakah pantas atau tidak.
Itu karena Riri sudah menitipkan Rose pada Nia dan karena itu ia tahu bagaimana kesedihan yang menimpa sahabat barunya beberapa hari ini, maka keraguan tentu saja datang melanda si calon perawat.