
Tentu saja hal tersebut sempat membuat Alex merasa sedikit kesal dan memajukan kedua bibirnya ke depan. Tetapi sesaat kemudian ia pun kembali bercerita.
" Cari kemana lagi, tante? Barusan saya dapat rekomendasi dari si germo banci kaleng malah di kasih anak perawan kok. Nih, ceweknya masih pingsan disini. "
Alex mengatakan apa yang terjadi pada dirinya, lengkap dengan penjelasan tentang keadaan seorang gadis yang tak sadarkan diri di kamar hotel akibat dari ulah gilanya, membuat mulut Windi terbuka di seberang sana.
Dengan setengah percaya Windi melontarkan pertanyaan pada Alex. " Astaga, kok bisa pingsan gitu sih? Emang kamu apain aja dia dari tadi di sana, sayang? Kamu perawanin--- "
" Dih, tante Windi! Ya gak dong! Kan, Tante tau sendiri kalau aku suka sama mulut dan bibir aja. Tadi dia aku paksa oral gitu, tan. Mungkin karena baru pertama kali atau gimana, pas aku goyang goyang kepalanya malah pingsan dia, Tan. " Alex dengan cepat memotong perkataan Windi, ketika si wanita langganannya menuduh dirinya berbuat terlalu jauh. Laki laki berusia dua puluh lima tahun itu memberikan penjelasan panjang lebar yang terdengar masuk akal di telinga, mematahkan semua tuduhan.
" Oalah, Ya udah, telepon aja si germo banci itu. Suruh dia datang terus bawa deh tuh cewek keluar dari kamar sana ya, kan? Habis itu kasih tau alasannya apa gitu, bilang aja ke dia kamu itu sukanya di elus dan diemut manja, gak suka main kuda lumping. Hahaha ... " Mencoba untuk mengerti, Windi pun kembali membalas ocehan Alex. Ia memberi saran tapi masih saja tawa kerasnya terdengar di seberang sana, sukses membuat membuat bola mata sang CEO berputar akibat sudah jengah.
Alex yang sedang menahan konak, akibat terus saja melihat pemandangan tubuh tanpa busana milik si wanita pingsan itu, pada akhirnya ia pun melontarkan sedikit gerutuan. " Ih, Tante Windi ini. Malah diketawain akunya."
" Lah, beneran kan, sayang? Kamu kasih tau aja sama dia, apa kebutuhan kamu biar nanti dia cari ganti cewek gitu yang udah pro dan lincah sama urusan dan kemauan kamu, sayang? Hahaha .... Gitu aja kok repot, sih? "
Jujur saja, Windi bukan tak paham akan pelanggan setianya itu. Ia sangat tahu akibat jam terbang yang sering bertambah sama si junior, tetapi dirinya juga tak mungkin mengkhianati janji suci yang sudah diucapkan ketika seorang pria baik baik melamarnya atas dasar suka sama suka.
Mulai merasa bosan dengan perbincangan yang terasa tak ada jalan keluarnya, Alex pun berniat untuk benar benar mengakhiri sambungan teleponnya itu.
" Bukan repot atau gimana, Tante sayang. Aku kesal aja makanya nelepon Tante Windi. Ya udah kalau gak mau bantuin aku tutup aja telepon---"
" Eh! Jangan ditutup duku dong, ganteng. Gitu aja marah sama tante. Ya udah deh, sayang. Coba Tante hubungi teman teman di tempat mami dulu ya? kali aja ada yang --- "
" Em, Tan! Tante punya banyak lowongan pekerjaan ya? Apa boleh saya ikutan ngelamar kerja di tempat kerja itu? Cuma saya hanya lulusan SMA gitu, Tan. Nama saya Rose Thee Houteen dan ini ijazah saya kalau tante mau melihatnya dulu. " Namun, ternyata perbincangan telepon itu sejak tadi di dengar oleh seorang gadis yang duduk tak jauh dari tempat Windi berada dan itu sungguh membuat Alex sempat tertegun lima detik di sana.
Deg .... Deg .... Deg .... Deg ...
Tak ayal, secara tiba tiba saja jantung seseorang di seberang telepon nyaris berlari dengan kencang, dan tentu pemiliknya adalah Alexander Van Laode.
Suara halus nan lembut Rose membuat si junior di pangkal paha kembali mengeras, lalu secepat kilat sebuah tindakan pun segera dia ambil sebelum Windi mengeluarkan bunyi di pita suaranya.
" Tante Windi, antarkan aja cewek itu ke tempat aku kesini sekarang. Bisa gak, Tan? Bisa ya, tante sayang? Please..... "
" Tapi, sayang---- "
" Tenang aja, Tante. Aku gak bakal lupa kok jatah buat Tante juga. Mau, ya? Tante Windi yang cantik? Punyaku udah tegang bangat nih, Tan. Dengar suara Tante aja buat aku semakin tegang, apalagi tambah suara cewek itu tuh. Berasa dikeroyok dua orang aja punyaku ini deh. Ugh! "
Mendengar perkataan dari pelanggan setianya seperti itu, Windi tentu saja terkekeh keras untuk yang kesekian kalinya lagi di seberang telepon. Sampai sampai membuat gadis cantik disebelahnya sedikit terkejut, tetapi ia terus berusaha menetralisir rasa canggung yang ada dalam dirinya.
Puas tertawa, Windi pun akhirnya melontarkan perkataannya dari ujung telepon, " Oke deh kalau gitu, sayang. Tante antarkan cewek ini langsung kesana sekarang ya? Nanti diperjalanan Tante jelasin semua ke dia. Maaf ya kalau selesai Tante jelaskan, eh sampai sana ternyata Tante sendirian efek dia menolak pekerjaan yang kamu tawarkan. Soalnya cewek cantik ini kan bukan saudaranya tante Windi, Ganteng. Kenal aja baru sekarang. Jadi--- "
" Aduh, Tante sayang, jangan gitu dong. Gak usah tante Windi yang jelaskan ke dia soal apa yang harus dia kerjakan nanti. Biar sampai disini aku yang kasih tau, oke? Nanti benar benar kabur lagi. Udah tanggung kali, tante sayang! " Alex menyela perkataan Windi yang menurutnya sangat tidak menguntungkan.
Ting Tong!
Ting Tong!
Bersamaan dengan ucapan yang keluar dari mulut Alex barusan, ia juga sedang berjalan menuju pintu kamar hotel. Suara bel terdengar dua kali dan laki laki berusia dua puluh lima tahun itu yakin, jika orang di balik sana adalah sang germo waria itu sialan itu.
Alex membuka pintu kamar hotel dan memberi kode pada si germo bernama Nurman itu untuk melangkah ke dalam.
" Cepat masuk! "
Hanya saja hal tersebut ternyata sukses membuat Windi salah kaprah.
" Hah? Apanya yang masuk, Ganteng? Cewek yang pingsan tadi itu bangun terus minta di pera--- "
" Aduh, tante cantik .... Aku bukannya mau perawanin cewek goblok itu, tapi si banci satu ini nih udah datang ke sini, makanya aku suruh dia cepat masuk kedalam kamar ini, tante. Astaga! " Itulah alasannya, mengapa untuk yang kesekian kalinya, Alex harus kembali memotong omongan Windi.
Entah harus menjawab apa pada pikiran konyol yang bergelayut manja di dalam isi kepalanya, Windi kembali memberikan tawa kerasnya sekaki lagi, sebelum ia menjawab perkataan Alex.
" Hahaha..... Oh gitu. Tante kira kamu mau belah duren. Hahaha, Ya sudah deh kalau kamu maunya si cewek cantik di sebelah tante ini jangan tahu dulu apa yang akan dikerjakan, Tante langsung pesan taksi sekarang ya? Jadi alamatnya di mana nih? "
" Di tempat biasan, Tan. Nanti aku kirim alamatnya, ya. Sekalian sama nomor kamar hotelnya. Intinya sekarang tante langsung cari taksi aja dan cepat kesini ya, Tante sayang? " kata sang CEO itu.
" Siap, Sayang. siap! "
" Bye, tante Windi. Cepatan ya datang ke sininya? Jangan singgah kemana mana dulu deh. "
" Beres, sayang. Beres pokoknya mah! " Windi pun tersenyum lebar saat menjawab perkataan Alex, sebelum suara pria itu akhirnya hilang dari kedua indra pendengarannya.