
"Apa? Hahaha... Kurang asem bangat tuh! Tapi seriusan, Bos? Emang si Jun bisa ngomong? Kok punya gue gak bisa ya? cuma bisa gituan doang," sahut Jhonny terus terkekeh keras.
"Sialan lo! Ya, bisalah. Tuh buktinya gue pernah coba sama Ira waktu pertama kali ketemu sama Rose. Gue kan ke kantor tuh, gara gara ketahuan nginep di hotel, lo ingat?''
"Oh, itu. Ingat bangat, Bos. Terus?''
"Terus gitu deh, oncom! Gak mau dianya keluar. Sampai malamnya gue harus buru buru ke apartemen cari si Rose lagi. Eh, sialnya mama ternyata ngikutin gue sampai ke apartemen. Yang gue ceritain tempo hari. Ingat?'' Dan untuk kesekian kalinya Jhonny tertawa mendengar tuannya dengan polos menceritakan tentang ritual kebiasaannya itu.
"Ya, mau gimana dong itu, Bos? Gue sih mau aja bangunin si Rose biar Bos bisa vidio call sama dia, Tapi kan tetap aja si Jun gak mau out kayak cerita Bos waktu itu. Mendingan cari cewek lain dulu deh di sana, Bos! Siapa tau aja bisa?"
"Duh... Elo tuh ya? Masih aja nyuruh gue nyari cewek. Udah gue bilang kan, kalau bukan Rose, si Jun gak mau out?!" amuk Alex mulai merasa sakit kepala sebelah kirinya.
"Terus gimana dong, Bos?''
"Fotoin si Rose lagi tidur deh. Gue lagi kangen sama dia." jawab Alex frustasi.
Jhonny pun mengendap masuk ke kamar Rose dan membuka pintu pelan pelan. Gadis cantik berbibir seksi itu sedang terlelap dalam buaian mimpi indahnya.
"Duh, Rose! Lo cantik bangat sih? Pantes aja Bos tergila gila sama elo." batin Jhonny memotret Rose dengan kamera ponselnya lalu mengirimkannya ke sang majikan.
"Udah, Bos! itu udah saya kirim di WhatsApp."
"Iya udah, gue mau lihat Rose dulu."
Klik.
Alex menutup panggilan dan beralih melihat foto pada aplikasi whatsapp di ponselnya yang baru saja dikirimkan Jhonny.
"Hm, sayang. Aku kangen tahu sama kamu. Kenapa wajah kamu sedih gitu sih, Rose?" Alex berbicara sendiri dengan ponselnya. Ia juga mulai mengelus dan mengurut si Jun dan berharap dengan terus melihat wajah cantik Rose, si Jun akhirnya bisa sembuh juga.
Namun, apalah daya. Sampai sepuluh menit berlaku, si Jun tetap bersikukuh tidak mau berejakulasi juga.
"Duh, Jun! Lo kenapa sih? Nyiksa gue bangat tau. Rose itu lagi jauh, terus juga lagi marahan sama kita. Elo malah minta melulu tanpa pedulikan gue. Gue sentil juga lo lama lama!" kesal Alex menghempaskan tubuhnya ke tempat tidur.
Namun, sepulu detik kemudian teringat pada perkataan Jhonny tentang cewek bayaran dan mau tak mau ia pun berniat pergi ke night club yang ada di bagian bawah penthouse miliknya.
Akan tetapi, bukan maksud Alex untuk mencari wanita penghibur, melainkan ia ingin minum sampai mabuk agar bisa cepat tidur dan juga dapat menghilangkan wajah cantik Rose untuk sementara.
Alhasil, melangkah lah kedua kaki CEO itu ke night club dan saat sampai di sana, ia menghampiri meja bartender.
"James?" sapa Alex sedikit ragu ragu.
"Hei, Alex! Ngapain lo disini?" tanya James sedikit kaget melihat mantan kekasih kakaknya berada di night club tempatnya bekerja.
"Gue cuma mau cari obat tidur aja. Lagi suntuk? Ada apa nih yang enak?" jawab Alex sedikit kikuk, karena hubungan mereka yang tak lagi dekat pasca Nani menikah dengan laki laki lain.
"Oh, ada dong. Tapi lo mendingan vodka deh ya? Biar bisa cepat mabuk. Mau tidur kan kata lo tadi?" tanya James yang langsung dijawab anggukan oleh Alex.
Satu botol vodka yang diletakkan dalam ember kecil berisi es batu dengan keadaan sudah terlepas segelnya pun kini menjadi sesuatu yang asyik untuk seorang Alexander The Laode dan James pun memilih terus melanjutkan pekerjaannya, karena merasa canggung jika lebih dulu membuka suaranya.
Seketika wajah Rose pun kembali berkutat dalam otak Alex. Ia menolak wanita itu, dengan tak menjawab sepatah kata pun. Juga berusaha untuk melepaskan diri dari pelukan wanita yang menjajakan tubuhnya dan meninggalkan James setelah memberikan beberapa lembar dollar Singapura sebagai bayaran atas minumannya.
Sepuluh menit kemudian, Alex sudah kembali berada di penthouse miliknya. Ia meraih ponsel dan lagi lagi Jhonny menjadi sasaran atas rasa nyeri yang semakin menjadi di bawah sana.
Tut tut tut....
"Hallo, Jhon! Elo bilang suruh gue pakai karet aja kan tadi? Terus itu barang gue dapat dimana?" tanya Alex, membuat mata kantuk Jhonny sukses seketika terbuka lebar.
"Beneran, Bos? Lah gue kira Bos udah keluar pakai foto si Rose tadi." jawab Jhonny menggosok matanya bergantian.
"Ck! Gue gak bisa keluarin sendiri, Jhon. Udah kebiasaan dari dulu nyuruh cewek gini, gimana mau out coba?''
"Ya, udah. kalau gitu coba pakai karet dulu deh. Nanti gue bantuin ordernya, Bos. Nih, ya Bos. Ada tuh yang bentuknya kayak patung pakaian yang di mall gitu, Bos. Gue sering pakai itu pas tanggal tua."
"Ah, yang benar lo? Seriusan bagus gak barangnya? Nanti si Jun kena penyakit lagi!" tanya Alex mencoba meyakinkan dirinya.
"Aduh, Bos. Kalau masih ragu ragu, kenapa telepon terus nanyain gue, sih? Gangguin bobo ganteng gue aja!" kesal Jhonny, membuat Alex murka di ujung telepon.
"Oncom geblek! Emangnya lo itu gue bayar buat apaan kalau gue telepon malah lo bilang pengganggu?''
"Eh! Iya ya? Maaf, Bos. Maaf. Bawaan ngantuk kali ini mulut, Bos. Makanya tadi masih mengigau aja. Gimana, Bos. Pakai boneka yang bentuknya kayak patung itu aja ya, Bos? Kebetulan teman gue tuh jualannya malam di club club Singapura situ, Bos. Ya, jaringannya sih dari Jakarta sini." jelas Jhonny.
"Yang kayak Rose ada gak, Jhon?'' tanya Alex antusias.
"Waduh, Bos! Kalau mau yang kayak Rose, mending Bos pulang terus minta maaf sama dia aja. Pasti deh tuh anak maafin Bos terus lanjutin ngebelai si Jun."
"Sialan! Enak aja lo ngomong. Kita itu lagi marahan. Kalau gue datang jauh jauh terus Rose gak maafin gue, gengsi dong! Belum lagi besok pagi masih ada meeting lanjutan. Pas ketangkep mama efek dapat laporan dari suami si Irres? Apes deh gue!"
"Yaelah, Bos! Sama cewek yang di sayang itu gak ada kata gengsi, Bos. Minta maaf aja kok gengsi, nanti Rose diambil cowok lain baru tau rasa deh! Tapi beneran soal sabotase yang Bos bilang di chat itu? Berarti besok gue dong yang pantau ke Sidoarjo, Bos? Rose gimana?'' ujar Jhonny panjang lebar.
"Iya. Sakit kepala gue mikirnya. Pokonya lo besok awasi Manager Engineering di sana deh. Lo pagi pagi anterin Rose, terus lo ajarin juga dia cara pulang ke apartemen naik taksi. Gitu aja deh!'' Alex memberi solusi.
"Oke deh. Semoga aja tuh cowok ganjen gak ada dan gak gangguin dia ya, Bos?'' oceh Jhonny, sukses membuat Alex khawatir lagi.
"Kalau gitu nanti gue suruh Pak Toni aja deh yang anterin dia sekaligus awasi selama di kampus deh. Gue telepon besok aja, suruh dia pura pura bilang bininya sakit ke mama. Biar mama gak ngamuk ngamuk efek sopirnya gak masuk. Gimana?" tanya Alex pada Jhonny.
"Oke, Bos. Kayak gitu bisa juga tuh. Tapi iya, Bos. Gue bilangin aja nih. Cewek Bos itu polos bangat. Gue sih takut aja dia nanti dimanfaatkan sama cowok cowok kampusnya, Bos. Maka itu, gue mau Bos cepat baikan sama Rose. Kalau perlu bilang kek jujur soal perasaan Bos sama dia. Biar Rose bisa jaga diri sama cowok lain kalau didekati, karena dia udah terikat hubungan khusus sama Bos." repet Jhonny, sudah seperti Ustad Maulana di TV.
Alex pun memikirkan semua omongan si anak buah, karena memang omongan itu ada benarnya dan ia juga tak mau kehilangan Rose.
"Ya udah. Gue mau kelarin kerjaan gue disini secepatnya deh. Biar bisa pulang dan ketemu sama Rose." sahut Alex memutuskan panggilan telepon itu lebih dulu.
Alex meletakkan ponselnya di atas nakas dan sekali lagi bayangan wajah cantik Rose kian menari dalam pikirannya.
"Duh, Rose. Kamu tuh punya pelet apa sih? Wajah kamu selalu ada di otak aku," ucap Alex pada dirinya sendiri. "Terpaksa deh, berendam air dingin aja biar si Jun diam dulu ini." lanjutnya melenggang ke kamar mandi.