
Tok..... Tok.... Tok.... Tokk...
Cukup lama menangis hingga sekitar lima belas menit lamanya, tiba tiba kedua telinga Rose mendengar suara ketukan dari arah pintu kamar. Ia yakin itu adalah anak buah Alex yang bernama Jhonny, jadi dengan cepat kedua kakinya berjalan ke arah pintu dan membukanya.
Ceklek!
Ketika suara pintu terdengar, bersama itu pula kalimat panjang dari Jhonny juga hadir di sana.
" Hai, Non. Gue--- Waduh! Kok matanya sampai bengkak gitu, non? Di apain tadi sama bos Alex? Di pecahin perawannya ya? Astaga! Kasihan bangat ka---"
" Gak kok, Mas. Alex gak nyentuh saya sejauh itu kok. " Jhonny bukan hanya bertanya, bahkan ia pun menuduh Alex berbuat yang tidak tidak. Namun, Rose dengan sigap memotongnya sembari memberikan penjelasan singkat.
" Oh, gitu. Gue kira kok non matanya jadi bengkak gitu. Apa sedih karena harus ditinggal sama si bos Alex pas lagi enak enaknya ya, Non? " tanya Jhonny sekali lagi dengan sebegitu polosnya, membuat gelak tawa Rose pun terdengar keras.
" Hahahah..... Astaga, Bang Jhonny ini! Lucu banget deh, ih. Hahaha... " hanya bisa menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal, Jhonny pun ikut tertawa di sana.
Beberapa saat kemudian, Jhonny oun menyodorkan telapak tangan kanannya untuk berkenalan dengan Rose, meskipun gadis di depannya itu sudah mengetahui namanya.
" Jadi gimana, Non? Jadi si Non udah siap belum ya? Ayo gue antar ke apartemen si Bos. Eh, tapi kita harus kenalan dulu dong ya, Masa Non aja yang udah tahu nama gue ya kan? Gue Jhonny orang terkeren se-Jabodetabek. "
Hanya saja, akibat kedua alis Jhonny yang turun naik beberapa kali sembari kerlingan mata genitnya, tawa Rose pun tidak bisa lagi ditahan. Keduanya berjabat tangan dengan sedikit berbincang, sebelum akhirnya pergi dari sana.
Sepanjang perjalanan dari hotel menuju apartemen, ternyata Jhonny benar benar membuat Rose terus saja tertawa, hingga berulang kali gadis itu merasa perutnya sakit akibat terus saja terkekeh geli.
" Rose pikir semuanya bakalan susah ya, Tuhan. Maaf kalau Rose harus pakai cara kotor seperti ini. Rose harap setelah lulus kuliah nanti, semuanya akan berubah jadi baik ya, Tuhan. Biar dosa Rose gak menumpuk setinggi gunung. Sekali lagi maafkan Rose harus seperti ini agar bisa sukses, Tolong bantu aku biar bisa sukses sampai sarjana, Amin. " Ditengah riuh tawa mereka, Rose pun sibuk bermonolog sendiri, mengucap syukur atas semua nikmat Tuhan yang ia terima hari ini.
Bertemu Alexander Van Laode, Seorang CEO muda nan tampan, yang mungkin sebentar lagi bisa saja akan menjadi bagian terpenting dalam hidup Rose The Houteen. Entah itu memberi kebahagiaan, ataukah sejumlah duka lara.
*****
Alex turun menggunakan lift ke lantai dasar hotel, dimana sang Ibu sudah menunggu kedatangan dirinya. Se sampainya di lobby, wanita paruh baya itu langsung memberondong Alex dengan banyak pertanyaan, dan juga omelan khas seperti biasanya.
" Kamu itu ya, Lex! Pulang dari Singapura bukannya langsung pulang ke rumah malah main cewek aja terus! Mama suruh nikah aja kamu juga gak mau! Eh, malah pacaran sama cewek yang gak jelas asal usulnya! " cerocos Nyonya Milea, sang Ibu kandung Alexander Van Laode yang bahkan dengan cekatan mengambil daun telinga kanan sang putra dan menjewernya.
Sempat meringis sedikit akibat keterkejutan, Alex pun secepat mungkin memberi jarak pada ibunya, sebelum kalimat tegasnya meluncur satu demi satu.
" Udah deh, Ma. Yang di bahas itu itu aja terus dari dulu. Bosan kali. Alex itu mau cari istri idaman pakai cara sendiri. Masa sudah jaman now, tapi cari istri masih dijodohkan? Apa kata orang orang nanti, Ma? "
" Kamu itu sekarang jadi pintar jawab kalau dikasih tau Mama ya? " kesal Milea.
" Udah dong, Ma! Sini Alex peluk dulu! Malu tahu dilihatin sama cewek di meja resepsionis itu tuh. Mendingan juga balas pelukan Alex daripada ngomel terus. Ya kan, Ma? " balas Alex segera memeluk erat ibunya sembari terkekeh.
" Alex, mau keluar kota dulu deh, Ma. Jadi mama mau pulang sendiri atau diantar nih? " tanya Alex setelah melepaskan pelukannya.
" Mama pulang sendiri aja. Cuma nanti malam kamu harus pulang ke rumah ya, Lex? Awas kalau kamu ke hotel lagi! " ancam ibunya memasang wajah kesalnya.
" Beres deh, mamaku sayang. " jawab Alex seraya mengedipkan sebelah matanya.
Alhasil, Alex pun kembali mengendarai mobil sport miliknya menuju ke kantor. Selama di perjalanan, ia kembali teringat pada Rose. Dan itu seketika membuat si junior yang ada dibawah mengeras seketika.
" Duh.... Kamu tuh ya, Rose. Aku cuma ingat aja udah buat si junior tegang begini. Apalagi pas beneran si junior ada didalam your mouth kayak tadi, Ugh.... Enak! Bibirmu itu rasanya bikin aku ketagihan bangat. Bbbrrr! " gumam Alex sembari menyetir dan tubuhnya pun langsung bergidik, membayangkan bibir Rose ketika sedang melakukan permainan untuk si junior.
Setengah jam kemudian, sampailah Alex ke kantor The Laode Corporation, yang kini sudah ia pimpin setelah sang ayah memutuskan untuk pensiun dan istirahat di rumah. Dengan gaya khas pria metro seksual yang melekat di dalam dirinya, Alex melangkah santai menuju lantai dua puluh lima menaiki lift pribadi khusus untuk dirinya.
" Selamat pagi, Pak! Semoga hari ini menyenangkan. " sapa sang sekretaris dengan gaya centilnya.
" Hm.... " hanya sebaris deheman yang Alex berikan, hingga membuat sang sekretaris yang bernama panggilan Ira itu menggerutu di dalam hatinya.
" Sialan! Cuma dibalas, hm, doang. Awas aja lo ya, Lex? Gue bakalan gigit si burung beo lo itu, kalau lo sampai berani nyuruh mulut gue buat isap isap lagi nanti! "
Ira pun berbalik lalu duduk kembali di kursinya dan Alex masuk ke dalam ruangannya. Akan tetapi kesendirian sang CEO tidak berlangsung lama, sebab beberapa menit kemudian Ira juga ikut masuk untuk membacakan jadwal meeting atasannya.
" Permisi, Pak. Nanti jam sepuluh bapak ada meeting dengan perusahaan Artha Merdeka dan setelah makan siang juga ada meeting lagi dengan Central East Corporation. " jelas sang sekretaris.
" Oke. Mana berkas yang harus saya tanda tangani untuk kerja sama dengan perusahaan Limanta Samudera kemarin? Cepat berikan sekarang. Saya mau lihat sebentar. "
" Oh ya, ini berkasnya, Pak. " sahut Ira sembari menyodorkan berkas yang diminta oleh atasannya.
Alex pun membuka lembar demi lembar pada berkas itu, lalu membaca beberapa poin penting yabg tertera dengan seksama. Setelahnya barulah ia membubuhkan tanda tangannya di sana dan melakukan demikian pada semua dokumen lain yang di berikan Ira.
" Sudah selesai, kan? " tanya Alex menyodorkan map berwarna coklat muda dan segera diambil oleh Ira.
" Iya, Pak. Ini yang terakhir. " sahut Ira setelahnya.
" Ya sudah, cepat keluar dari sini. Tunggu apa lagi, hm? " kata Alex dengan ketus, menyuruh sekretarisnya keluar dari ruangan.
Dengan wajah kesal, Ira pun hanya bisa menuruti permintaan Alex untuk segera keluar.
" Baik, Pak. "
Hentakan sol sepatu yang Ira perdengarkan pada Alex, ternyata tidak mampu membuatnya mendapat sebuah perhatian, karena kini pikiran laki laki itu sedang menerawang jauh.